Puisi

Aja Dumeh

Oleh: J.B. Sugita

Sombong, pamer, mentang-mentang, jemawa, adalah salah satu penyakit manusia sehari-hari dan paling dekat karena kapan pun bisa mencuat, kapan kala bisa mengemuka tanpa disadari. Hal ini otomatis jadi penghalang manusia untuk maju ke harkat, martabat, kemanusiaan tertinggi. 

Dumeh isih enom lan perkasa. Dumeh pinter, sekolah duwur. Dumeh dadi juwara. Dumeh nggantheng-ayu, kancane akeh, terkenal. Dumeh sampun sepuh, kagungan pangkat inggil. Dumeh sugih bandha lan asring tindak mancanegara. Dumeh, dumeh….

Usia muda yang sehat, gagah perkasa memang jadi masa emas, waktu yang sangat berharga, penuh energi, prospektif, berkembang sangat banyak hal, bahkan bisa sangat luas, amat tinggi. Tapi, mengapa harus sombong?

Bisa saja besok atau lusa jatuh, bahkan mati. Ingat, di luar prospektif positif, juga bisa mungkin saja terjadi di waktu yang tidak terduga dan tiba-tiba yang negatif datang, kemalangan menimpa. Bunga gugur, putik pun gugur.

Pintar, cerdas, brilian seperti Habibie atau Stephen Hawking, sangat mengangumkan. Gelar berderet-deret hingga doktor, profesor pun sangat terpuji. Tapi, mengapa pula harus jemawa? Yang cerdas banyak, profesor dan doktor berlimpah. Ringkasnya, pinter nanging aja minteri. Juara nasional, regional, internasional di berbagai event, bermacam-macam bidang membanggakan, mengharumkan. Pun tapi, tidak perlu jatuh pada arogansi, dumeh. Jadi juara juga tidak selamanya. Agar, ketika sudah tidak juara tetap banyak teman-sahabat, tetap dihargai, dan dikasihi orang lain.

Paras ganteng, wajah cantik, menawan, jika boleh dan bisa memilih, pasti siapa pun mau! Tidak perlu pula jadi dumeh. Wajah menawan tak lama, dipermak pun, bisa-bisa hasilnya malah membahayakan. Tahun-tahun membuatnya layu, dan keriput, mengkerut juga. Terkenal saat berjaya, bisa jadi bumerang saat uzur. Tetap terbujur dimakan cacing saat di liang kubur.

Kebalikan muda, sehat perkasa, suatu saat akan matang, berpangkat tinggi, berjabatan megah, bahkan jadi gubernur, menteri, presiden, direktur, GM atau CEO. Tak ada yang melarang jadi sombong, tapi tak terpuji, saat yang melekat lepas, akan dicibir, disingkiri orang!

Terus pripun, para sederek sedaya kinasih? Kita kejarlah yang mulia, yang patut dipuji, yang mengembangkan harkat, martabat, yang mendatangkan berkat, yang berguna tidak saja saat hidup, tapi terlebih berharga di mata Tuhan saat mati. Karena, pasti kita akan pulang ke hadirat-Nya, menerima pengadilan-Nya. Dan, kita semua pasti damba dapat pahala di hidup nanti, bukan di dunia yang hanya beberapa puluh tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close