Ulasan

Aja Mbedakake Marang Sapadha-padha

Makna lurusnya: jangan membeda-bedakan terhadap sesama manusia.

J.B. Sugita

Drijarkara S.J. ialah salah satu filsuf modern domestik. Orang Jawa pendiri perguruan tinggi Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia mengatakan, “dalam diri manusia itu ada unsur Pandhawa dan Kurawa, unsur baik dan jahat, malaikat dan iblis, terang dan gelap”.

Sudah biasa bagi manusia, selintas-pintas saat menghadapi sesuatu atau seseorang. Reaksi seketika, walau hanya dalam hati dan pikiran, pertama-tama akan berdasarkan sisi gelapnya, memandang muka, meski semakin matang seseorang akan semakin dapat mengendalikan diri dan dapat bereaksi dari sisi terangnya.

Jumpa dengan pria atau wanita, cantik atau tampan, atletis, aduhai, rapi, wangi, serta-merta kagum, memuji, bahkan gampang percaya sehingga banyak orang tertipu karenanya. Entah tertipu hati atau tertipu harta. Bisa jadi tertipu pula keutuhan perkawinan dan keluarganya.

Berhadapan dengan orang yang kata-katanya agak kasar, tampak kurang berpendidikan, apalagi dilengkapi dengan penampilan yang rada kumal, pikiran dan hati langsung mengadili orang tersebut. Ia kurang sopan, kurang ajar, kurang patut dihargai sehingga kita memandangnya dengan sebelah mata.

Kebetulan berjumpa dengan seseorang yang keluar dari mobil mewah, berdandan tampak mewah dari kepala hingga kaki. Serta-merta pula kita terkesima, kagum, merasa luar biasa. Dia hebat dan kita merasa kecil, rendah diri.

Mata maunya melihat yang serba indah, serba menarik, dan serba menyegarkan. Lidah inginnya mengecap yang lezat, manis, dan gurih. Kulit cenderungnya ingin menyentuh yang lembut dan halus. Tubuh ini condongnya ingin dimanja belaka.

Bergaul dan hidup sukanya juga hanya dengan orang yang bisa menerima dan mengerti atau memahami kita. Dengan orang yang selalu siap sedia membantu, menyenangkan, dan menarik untuk hati kita.

Memandang muka dan menghargai orang lain hanya berdasarkan alasan sepintas dan luaran hanya akan membatasi hati. Harusnya semakin luas dan lembut. Menyempitkan pikiran jadinya cuma picik, terbelenggu, kurang berhikmat, dan tidak bijak.

Menghargai-meninggikan, menghina-merendahkan orang hanya berdasarkan penampilan fisik, baunya, hartanya, wajahnya, pendidikannya, sikap dan kata-katanya, hanya melahirkan hati yang kerdil-tebal. Kepala yang keras-besar, berjiwa asosial, melawan takdir kemanusiaan kita. Terlebih, tidak mengerti, tidak hidup seturut maksud Allah menciptakan manusia berbeda-beda suku, warna kulit, harta, fisik, pendidikan, dan tata cara hidupnya.

Hanya dengan memiliki energi mulia dari Atas, kita bisa menerima orang lain apa adanya. Setulus hati, yang akhirnya justru menjembatani penghargaan, solidaritas, kasih-sayang, saling menolong, saling membangun, saling menguatkan dan memotivasi. Hidup penuh persaudaraan, damai sejahtera dalam kesetaraan tulus (egaliter).•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close