Puisi

Ajining Diri

Oleh: J.B. Sugita

Ajining dhiri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Nilai pribadi seseorang terletak pada lidahnya dan nilai tubuh-badan seseorang ada pada pakaiannya.

Perkataannya menentukan harga diri: bobot dan realitas tuturannya. Mencerminkan orang yang sopan, santun, rendah hati, konsisten, berintegritas, bahkan bernilai rohani. Pun menghibur, memotivasi, menyejukkan, menyelamatkan orang lain.

Penampilan luarnya, cara berpakaiannya, pilihan warnanya, kesesuaiannya dengan keadaan dan keperluan, empan papan, meluapkan kepribadian, dan hormatnya kepada orang lain.

Hikmat, arif, lalu mencermati harga, nilai, martabat, kepribadian, atau gengsi itu mau menggunakan kriteria apa? Mau nilai yang kelihatan, atau yang tersembunyi? Mau berharga di mata manusia, dunia, atau di mata Yang Agung Sejati? Dunia melihat yang kasat mata, yang tampak di muka. Allah memeriksa yang di hati, yang tersembunyi, yang tidak kelihatatan.

Di hadapan manusia biasa, mau lihat hartanya, gelar akademisnya, jabatannya, harga busananya, merdu suara, piawai menyanyi, atau ganteng-cantiknya dalam kontes raja-ratu? Digaransi, yang tidak sesuai dengan kriteria itu, pasti gagal, tidak juara, orang kalah, orang yang kurang berharga.

Sungguh beruntung, manusia diciptakan tidak untuk dihargai berdasarkan beratnya seperti kambing, sapi, kerbau. Tidak berdasarkan panjang-pendeknya seperti harga kain. Tidak pula berdasarkan makanan olahan, pun sehat-sakitnya.

Justru yang tak tampak di mata, yang nirkasat mata yang jauh lebih berharga, pun inilah nilai sejatinya manusia di hadapannya: amal, budi baiknya, pekertinya, taat, takwanya pada Allah.

Maka, bisa saja tetap gagal di mata-Nya walau di dunia ia memiliki Tri Jaya Sampurna: sugih bandha, sugih ngelmu, sugih kuwasa karena ternyata ia adigang, adigung, adiguna. Memanfaatkan kepemilikannya untuk kepentingannya pribadi dan kelompoknya saja.

Orang mutlak tetap harus eling lan waspada, eling tembenipun. Dunia dan kemegahannya bukanlah sasaran terakhir. Harus mau berupaya keras juga sehingga tubuhnya tumbuh normal, sehal wal afiat, terawat, berusia panjang. Jiwanya sehat segar. Perasaan, pikiran, emosi, tekadnya normal, berfungsi baik. Rohaninya juga lurus di jalan yang ditetapkannya agar nanti sampai pada-Nya, dikenal, dan dikasihi-Nya.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close