Cerita Pendek

Akhirnya Mardio Lulus dari Hidup

Mardio menggantung dirinya sendiri dengan tali. Lehernya licin, dilumasi minyak tanah. Ia mati di kamar yang pengap dengan bau minuman keras, yang juga penuh dengan gambar poster-poster artis dewasa. Lampunya selalu dibiarkan mati. Matanya melotot, ingin menunjukkan bahwa ia sudah lulus dari penderitaan. Lidahnya menjulur ke luar, seperti ingin bercerita sesuatu yang tersembunyi, dan terpendam begitu lama. Tersimpan dalam ketidakwarasan.

Ahmad Aam

Orang-orang sekitar menduga, Mardio benar-benar orang yang tidak waras. Padahal itu hanyalah topeng, layaknya topeng monyet. Topeng berwajah orang tertawa, tidak ada yang tahu di balik topeng itu. Baiknya, ketidakwarasan yang hanya sebuah topeng itu mendatangkan keuntungan.

Akhirnya Mardio mati. Sudah berkali-kali, Ia mencoba bunuh diri. Tapi, percobaan itu selalu berakhir dengan kegagalan. Pernah suatu kali, Mardio menenggak obat pembunuh nyamuk. Ia meniru peristiwa di stasiun televisi, ketika bapaknya menonton siaran berita tentang matinya keluarga miskin yang terlilit utang, kemudian menenggak obat pembunuh nyamuk. Dicarilah obat pembunuh nyamuk itu. Ia ingat, ibunya dua hari lalu baru saja membeli obat tersebut. Penuh kegirangan, Mardio menemukan obat tersebut dibawah tempat tidur. Setelah meminumnya, tanpa memperhatikan banyaknya obat yang harus diminum, Mardio tertidur. Ketika bangun, Mardio sudah dirawat di rumah sakit. Mardio tidak jadi mati. Orang tuanya panik, seperti saat pertama kali Mardio dibawa ke rumah sakit jiwa.

Setelah seminggu dirawat inap, Mardio diizinkan dokter untuk pulang. Kegagalan itu tidak membuat Mardio menyerah. Ia kemudian menyiksa diri, dengan minum minuman keras yang dioplos. Berbagai oplosan sudah pernah diramunya. Mulai dari obat-obatan hingga pentol korek api. Lagi-lagi, Ia melakukan itu, ingat dari berita yang didengarnya. Lima pemuda mati karena mencampur miras dengan pentol korek. Tapi tetap saja, Ia tidak mati. Hingga suatu hari, Mardio mencampur minumannya dengan racun tikus. Agaknya upayanya sedikit manjur. Tapi, Tuhan seperti menolaknya untuk mati. Ia hanya kejang-kejang dan tidak sadar berhari-hari. Kemudian sadar dan sehat kembali. Setelah itu, seperti tidak ada habisnya ide menyiksa diri. Pernah, Mardio sengaja menabrakkan diri ke truk yang melaju kencang. Memotong jari-jarinya dan banyak siksaan terhadap tubuhnya yang lain. Tapi semua yang dilakukan itu selalu berujung dengan kegagalan. Ia tidak bisa mati.

Margono kawannya sejak kecil, sudah terbiasa dengan kelakuan Mardio. Karena, jika ada Mardio berarti ada Margono. Jadi, jika Mardio atau Margono melakukan sesuatu, pasti mereka saling mengetahui. Bahkan, Mardio tahu letak seluruh tahi lalat Margono. Begitupun sebaliknya. Di kampung, orang-orang menyebut mereka kembar siam yang tak bisa dipisahkan. Dari sejak lahir, Mardio dan Margono sama-sama dilahirkan di rumah sakit yang sama. Ketika sekolah, mereka sekolah di lembaga pendidikan yang sama pula. Bahkan dikeluarkan dari sekolah pun karena kasus yang sama. Tidak pernah masuk. Mereka merupakan dua manusia yang kompak. Bedanya, Mardio dianggap tidak waras, sedangkan Margono masih waras.

Ketika Mardio melakukan ide-ide gilanya untuk bunuh diri. Margono adalah orang pertama yang tahu. Hingga malam itu, Margono yang biasa keluar-masuk rumah Mardio, masuk ke kamar Mardio dikurung. Sejak Mardio sering melakukan percobaan bunuh diri, keluarganya memutuskan untuk mengurung Mardio. Sudah menjadi rutinitas, Margono mengunjungi teman baiknya itu tiga kali sehari. Seperti anjuran dokter untuk makan tiga kali dalam sehari, setelah itu minum obat. Meskipun sebenarnya ada maksud lain, bukan karena Margono mau menyuapi makan atau menyuruh Mardio meminum obat. Lebih dari itu, Margono adalah kurir Mardio untuk melakukan transaksi jual-beli obat penyembuh penyakit gila. Mardio memang tidak gila. Obat resep dari dokter dijual kepada teman-temannya. Mardio tidak ingin meminumnya sama sekali. Ia yakin, Ia tidak gila. Oleh sebab itu, Margono masuk ke kamar Mardio. Tapi malam itu, wajah Margono pucat pasi dan bergumam lirih. Akhirnya kau mati juga.

Bunyi detak demi detak jam dinding terdengar begitu keras ditelinga Margono. Setengah sadar, Ia keluar dengan langkah kaki sengaja dipelankan. Sekitar lima rumah dilewatinya dengan langkah pelan. Di titik rumah ke enam, Margono berlari kencang dengan kaki yang gemetar. Ia menuju tempat berkumpul teman-temannya. Seperti biasa, Margono hanya mendapati teman-temannya sudah mabuk oleh miras oplosan. Miras yang dioplos dengan obat sakit jiwa. Teman-teman Margono hanya tertawa melihat kedatangannya. Margono langsung duduk ditengah lingkaran. Selang beberapa detik. Ia mengatur nafas. Margono berucap lirih, “Mardio mati. Mardio mati.”

Malam itu Margono sangat ingin bercerita tentang teman karibnya. Margono ingin mengungkapkan apapun yang terpendam dan tersimpan rapat. Margono yakin, orang-orang tidak tahu kehidupan Mardio yang sekarat. Yang tersembunyi dalam ketidakwarasan. Terbata-bata, Margono bercerita.

Mardio adalah pemuda biasa seperti pemuda-pemuda lain di kampung. Kesehariannya, setiap malam nongkrong di pinggiran gerbang sekolah dasar. Berbicara apapun yang dapat dibicarakan. Tak jarang perbincangannya adalah soal gadis-gadis atau pertengkaran dengan pemuda-pemuda kampung lain. Ketika ada yang sedang bergembira. Misalnya, mendapatkan gadis gebetan atau nomer togel keluar. Mereka akan membeli sebotol minuman keras. Kemudian meminumnya bergiliran dengan gelas kecil. Kalau sedang tidak ada yang ingin merayakan sesuatu. Mereka akan membanting uang masing-masing. Begitu setiap malam kegiatan yang ia lakukan. Paginya, Ia akan tidur hingga sore hari datang. Keseharian itu Ia lakukan semenjak dikeluarkan oleh kepala sekolah SMA bersama Margono.

Sampai pada suatu malam. Mardio dapat giliran untuk membeli miras di toko langganan. Di depan toko Ia melihat seorang gadis sedang kesulitan karena barang-barangnya banyak. Merasa kasihan, Mardio menawarkan diri untuk membantunya. Agak malu-malu, gadis tersebut mempersilakan. Saat itu, Mardio tidak memperhatikan gadis tersebut. Seminggu kemudian, katika Ia ke toko itu lagi, ia pun bertemu lagi. Gadis tersebut tersenyum dan menyapanya. Dari pertemuan itulah, kemudian Mardio selalu meminta agar yang membeli minuman adalah dirinya. Lambat laun pertemuan-pertemuan itu menjadikan Mardio dekat. Sampai pada janjian untuk jalan bersama. Malam itu adalah malam paling membahagiakan bagi Mardio. Mardio sedang tidak bermimpi.

Semenjak mengenal gadis itu, Mardio kemudian mulai mengurangi berkumpul. Kalau biasanya satu minggu penuh, berkurang menjadi seminggu sekali. Mardio juga mulai mencoba mencari pekerjaan. Apapun pekerjaannya diterima dan dilakukan. Dari mulai kuli bangunan, penjaga toko, satpam swalayan, tukang parkir, bahkan tukang sapu. Semuanya dilakukan demi mendapatkan uang tambahan. Selalu. Setiap kali masa gajian, tujuannya adalah untuk menghabiskan malam bersama kekasihnya.

Menjalin hubungan selama setahun, Mardio berencana menikah. Di malam setelah pergi bersama kekasihnya, Ia mengutarakan kepada orang tuanya. Mardio sudah menyusun kalimat dengan sebaik mungkin. Agar orang tuanya segera setuju dan melamarkan. Akan tetapi orang tuanya berkehendak lain. Mardio terdiam.

Mardio tetap diam ketika tanggal pernikahan sudah ditentukan. Begitu juga ketika pesta pernikahan sederhana dilaksanakan. Pernikahan yang hanya mengundang beberapa keluarga dekat dan tetangga sekitar saja. Tidak ada yang mewah. Semuanya begitu terlihat sederhana. Tapi indah bagi kedua mempelai. Meskipun tidak indah bagi Mardio.

Mardio juga tidak mengerti. Ia bisa begitu menerima. Malam itu, orang tuanya meminta Mardio untuk tidak menikah dulu. Karena saudara tuanya belum menikah. Bahkan Mardio tidak menolak, dan merelakan sang kekasih untuk dinikahi kakaknya. Kakak Mardio memang sangat berbeda dengan Mardio. Jika Mardio mudah bergaul dan terbuka, kakaknya sangat sulit bergaul dan tertutup. Tapi Mardio sangat menghormatinya. Menyamakannya dengan bapak dan ibunya. Rasa hormatnya itu bermula ketika dulu saat sekolah dasar kelas tiga, Mardio dapat tugas matematika. Bodohnya, soal yang maksudnya akan disalin, Ia hapus. Setelah selesai dihapus, Ia baru sadar. Tidak akan bisa mengerjakan karena tidak ada soalnya. Ia takut, kemudian menangis. Kakaknya yang tahu kemudian menghiburnya. Membuatkan soal dan mengisinya. Mardio tidak menangis lagi. Meskipun soal yang dikerjakan tidak sama dengan tugas yang diberikan oleh guru. Mardio tetap bangga. Karena kakaknya.

Selain itu, pernah Mardio bermain di jalanan. Tanpa alas kaki, Mardio berlari-larian. Mardio tidak sadar, ada yang mengintainya dari kejauhan. Ketika Mardio lelah dan duduk di pinggir jalan, dua orang mendekat kemudian membopongnya. Mardio berteriak dan berontak. Tapi tenaganya tidak seberapa kuat. Saat itulah kakaknya berlari mengejar. Kemudian memukul kedua orang itu dengan tongkat pramuka. Orang-orang yang melihat itu ikut mendekat. Akhirnya kedua orang yang membopong Mardio dipukuli sampai babak belur oleh warga. Dari situ, Mardio begitu menghormati kakaknya.

Mardio ingin membalas budi. Dengan merelakan seorang kekasih.

***

“Setidaknya penderitaanmu berakhir, Mar. Kau tidak lagi melihat orang yang kau cintai bersama dengan orang lain. Meskipun itu kakakmu,” ucap Margono dengan suara serak disertai tangis.

Di dalam keremangan, Margono sempat melihat. Ada seorang perempuan yang berlari sambil menangis. Margono yakin, itu adalah mantan kekasih Mardio.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close