Puisi

Ambeg Utama, Andhap Asor

Oleh: J.B. Sugita

Ambeg utama: berperangai, berjiwa, bertekad, berkebulatan hati mencapai yang utama, dan unggul. Yang sangat jamak: juara kelas, wisudawan terbaik, juara ini, juara itu. Jadi karyawan teladan, direktur, manajer utama. Terhebat di perusaan atau kantor. Paling pintar, paling kaya, paling ganteng, paling cantik, paling dikagumi.

Tapi, jangan lupa yang terbaik itu juga, paling dermawan, paling tahu unggah-ungguh, paling mesra, paling hormat dengan sesama dan orang tua. Paling peduli, membela rakyat, paling bersih, paling baik hati, dan paling rohani.

Andhap Asor: rendah hati, tidak terkait langsung dengan ambeg utama. Tetapi justru menyeimbangkan, mengingatkan jangan sampai mentang-mentang, lupa diri, lupa daratan. Matanya jangan hanya memandang ke atas, tetapi juga ke bawah agar tidak terantuk, jatuh, apalagi terjungkal.

Masih terngiang salah satu nasihat Presiden Pertama, Soekarno, ”gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Kejar impian sebesar dan setinggi mungkin. Kejar dan daki hingga puncak. Jika tentara atau polisi hingga jenderal. Jika guru atau dosen hingga profesor. Jika wirausaha hingga kaya raya. Tentu, jika dermawan atau filantropis juga hingga pintu surga terbuka lebar.

Sekarang ini, mau jadi apa pun yang baik, halal, mulia, pintunya terbuka lebar-lebar. Mau sekolah, banyak cara dan beasiswa tersedia. Mau bekerja di tempat terbaik, tersedia bahkan di ujung jemari, di website. Siapa pun bisa. Dari mana pun tiada rintangan. Rambu surganya: tiada jalan pintas. Kerja keras, halal, berdoa mohon ridho dan izin-Nya.

Di banyak kampus, tak kurang jumlah profesor dari keluarga sederhana, bahkan miskin. Manajer, atau direktur dari kampung. Konglomerat dari asongan dan pedagang keliling. Pejabat bermartabat yang dulunya sungguh orang biasa di udik. Tak kurang artis atau penyanyi tenar, kaya, baik hati, dulu orang melarat di kampung. Pun, contoh figur baru, Rujito, anak tukang becak, pernah kerja di warteg, menjadi peserta tes terbaik di Akpol. Zohri juga, juara dunia lari 100 m, pemuda miskin dari kawasan timur negeri kita.

Andhap Asor, rendah hati, ingat diri, tidak sombong. Nenek-moyang bijak selalu ingatkan, prestasi sehebat apa pun kita punya, jangan dipamer-pamerkan. Aja rumangsa bisa, ananging bisa rumangsa. Ingat ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Conditio et prudentia, bertindak-tutur selalu hati-hati dan bijaksana. Varietas deletat, rendah hati itu mendatangkan kenikmatan. Jangan sampai kacang lupa kulitnya, jadi kere munggah bale. Pastikan pula, eling lan waspada. Tansah eling marang sangkan paraning dumadi, dari mana asal kita dan akan ke mana perginya.

Memang kecenderungan darah-daging manusia, punya sedikit sudah dipamerkan agar dihargai orang, dipuji, dianggap hebat, berjasa. Tekad besar, bayar harga pantas, sabar, istiqomah, tawakal, berdoa, jaga selalu dekat Dia yang ciptakan kita jadi tangga ke Ambeg Utama. Dan jaga kita selalu Andhap Asor sehingga selamat, terpuji dunia-akhirat.

Palembang, 21 Juli 2018

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close