Gaya Hidup

Anak-anak Permadani

Ikzhan ingin jadi sarjana komputer yang bertani. Tidak nyambung, sih. Tapi orang-orang bakal maklum. Tak usah jadi sarjana pertanian pun, Ikzhan kelihatannya akan paham seluk beluk persawahan. Hidupnya sudah dikelilingi oleh Pak Tani, Bu Tani, dan Mbah Tani.

Satya Adhi

Kalau jadi petani, Ikzhan akan menggarap dua petak sawah milik simbahnya. Dia akan membajak sawah menggunakan traktor, karena mesin yang satu itu lebih cepat daripada kerbau. Ikzhan juga bakal menggunakan pupuk kandang. Menurutnya, pupuk kandang lebih alami, pupuk non organik penuh bahan kimia beracun.

Ikzhan masih berusia sepuluh tahun. Kelas empat di SD Pereng 03. Nama panjangnya panjang: Kuat Ikzhan Iman Wibisono. Kulitnya cokelat gelap terbakar matahari. Rambutnya cepak sedikit berjambul. Matanya bulat dan jernih. Tubuhnya agak gempal, tapi tidak bisa dikatakan gemuk. Dia terlihat paling ceriwis dibanding anak-anak yang lain. Tipe bocah lelaki yang akan ditanyai teman sepermainannya kalau mereka kebingungan mengambil keputusan; mau main apa, mau main di mana, mau mengajak siapa.

Dia tinggal bersama ayahnya, seorang pegawai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Pendem, ibunya, seorang petani yang juga ibu rumah tangga, dan tak lupa simbahnya, seorang petani. Ikzhan tidak punya kakak maupun adik. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Dani, satu dari tujuh dusun di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Berjarak sekitar 20 menit berkendara dari pusat kabupaten.

Rumah Ikzhan sederhana, tapi terhitung lumayan segar di Dani. Lantainya sudah diplester kasar oleh semen. Dinding batanya memang belum tersentuh cat, namun cukup kokoh untuk menopang kehidupan keluarga petani tersebut. Di ruang tamu ada komputer jinjing dan mesin pencetak kertas untuk membantu pekerjaan ayah Ikzhan. Kalau satu keluarga sedang di rumah, akan ada sebuah motor Vixion, sebuah motor bebek, dan sebuah sepeda kecil yang terparkir di halaman. Di hari Minggu, tetangga sebelah akan menyetel lagu dangdut yang diiringi kicauan burung dan terompet tukang siomay yang sesekali lewat.

“Ibukku ning kana. Lagi ngarit,” kata Ikzhan, sambil menunjuk seorang perempuan berkaus cokelat. Ibu Ikzhan sedang mengarit ilalang bersama belasan perempuan lain di ladang.

Di sebelah saya ada Eko – nama aslinya Fahril Gunawan, entah bagaimana bisa dipanggil Eko – bocah 12 tahun yang sedikit lebih gemuk dibanding Ikzhan. Di belakang kami bertiga, ada Indras dan Putra yang sedang berlarian sambil tertawa. Indras berusia sebelas tahun tapi badannya paling kecil. Teman-temannya memanggilnya Tuyul. Dia paling pendiam dan cuma cengar-cengir kalau diguyoni. Sementara Putra bertubuh paling tinggi. Padahal, usianya baru sembilan tahun.

Kami berlima berjalan santai menyusuri Dani. Dikepung sawah dan ladang yang menjulur sepanjang dusun. Dirindangi pepohonan sepanjang jalan, dialiri kali-kali kecil yang sayangnya tengah kering. Dari sini, Dani adalah permadani. Sawah dan pepohonan dan sepoi angin adalah motifnya. Sedangkan Ikzhan dan teman-temannya adalah penjelajah kecil yang kelak akan menjahit Dani menjadi permadani yang lain.

Kami berhenti di bawah pohon asam kembar. Tadinya mau memancing, tapi tidak jadi sebab tak ada yang bisa dipancing. Di sana, kami mengobrol cukup asyik. Eko yang masih malu-malu, bilang kalau mau jadi tentara Angkatan Darat (AD). Putra belum tahu mau jadi apa. Sementara Indras hanya mesam-mesem kalau ditanyai.

Iki ameh dadi tuyuuul,” ejek Ikzhan. Kami tertawa.

Setelah gagal menangkap bunglon di satu pohon asam, anak-anak itu pindah ke pohon asam yang lain. Putra menjatuhkan beberapa buah asam untuk saya. Ini pertama kalinya saya memakan buah asam langsung. Rasanya seperti permen rasa asam, tapi setelah beberapa detik, saya tidak kuat dengan rasa kecutnya.

Kemudian saya tanya apakah mereka sudah punya ponsel. “Aku sudah, tapi disita. Kelas enam enggak boleh pakai hape,” Eko menjawab. Putra dan Indras diam saja. Kata Ikzhan dan Eko, Indras sebenarnya sudah punya ponsel. Suatu hari Indras sedang mengisi ulang baterai ponselnya di rumah, lalu keluar untuk bersepeda. Tidak lama, mereka melihat seorang bocah Dani mengendap-endap di belakang rumah Indras. Setelah itu ponselnya raib.

Bocahe wis kecekel tapi ora gelem ngaku,” Ikzhan bercerita dengan cukup emosional. Anaknya sudah tertangkap tapi tidak mau mengaku.

Nek aku tegel ngono tak patheni og, Mas,” Ikzhan melanjutkan. Kalau aku tega sudah kubunuh dia. Saya hanya terdiam, terkejut.

***

Konon, dulunya pohon asam kembar tempat kami beristirahat adalah gapura. Semacam beringin kembar di alun-alun Solo atau Jogja. Lapangan yang terletak tidak jauh dari pohon asam tersebut adalah alun-alunnya. Di antara pohon asam dan lapangan, berdiri kokoh pohon jati raksasa. Kalau pohon jati tersebut sudah trubus, sudah mulai tumbuh tunasnya, artinya sebentar lagi musim hujan akan datang.

Ada legenda yang mengisahkan asal-usul Dani. Dulu ada seorang prajurit Majapahit yang tengah dikejar musuh. Malang, kakinya justru tertusuk duri tanaman. Dia lalu ngendani peperangan, menghindari pertempuran ke pemukiman yang kini disebut Dusun Dani. Ngendani, menghindari, menjadi kata Dani.

Buah asam yang dijatuhkan Putra belum habis. Kami masih asyik berceloteh. Kini mereka berkisah soal ternaknya. Eko yang paling banyak bercerita. “Bebek, sapi, ayam, lele. Nggone bapakku nila,” katanya bangga sambil menepuk dada. “Nek aku dewe anu, Mas. Balon.”

“Balon?” Saya tidak mengerti hewan apa itu.

Iwak balon,” kata Eko. Belakangan, baru saya tahu kalau ikan balon adalah ikan hias yang perutnya membuncit seperti balon.

Iki ya nduwe iwak aligator, Mas,” Ikzhan menyebut jenis ikan kepunyaan Eko yang lagi-lagi tidak saya kenali.

Nek kowe ternak apa?” saya bertanya kepada Ikzhan.

“Ternak sapi telu. Lima bakal. Sing cilik siji, sing babon loro.” Sapinya tiga, bakal jadi lima. Yang kecil satu, yang betina dua.

Nek kowe, Put?” Giliran Putra saya tanyai.

“Sapi sama ayam,” jawabnya singkat.

Nek Indras ternak apa?

Si bocah kecil itu diam saja. Nyengir.

Indras adalah bocah pendiam yang diam-diam punya kekuatan tersembunyi. Dia sudah belajar naik motor sejak kelas dua SD. Indras ternyata juga sempat masuk tim seleksi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) hingga tingkat kecamatan, cabang olahraga lari jarak pendek. Ia gagal di tingkat kecamatan setelah dicurangi lawannya. Didorong saat sedang berlomba menuju garis akhir. Anehnya, ia terlihat paling bahagia di antara teman-temannya yang lain. Jenis bocah yang siap menanggung ejekan demi serunya pertemanan.

Nek kuwi nganu, Mas. Ternakke ternak tuyuuul,” Ikzhan kembali mengejek. Kami tertawa lepas.

Sebagai dusun yang mayoritas penduduknya bertani, tidak heran jika banyak warga Dani yang berternak. Dari anak-anak ini saya tahu jenis hewan apa saja yang banyak diternakan di sini. Kebanyakan berternak lele, kata mereka. Ada juga hewan yang sedikit diternakkan. Burung puyuh misalnya.

Saya masih penasaran tentang keinginan Ikzhan menjadi petani, dan bagaimana anak-anak yang lain memandang pertanian. Saya mengambil dompet, mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mereka berempat langsung antusias mengerubungi. “Akeh banget [kartunya],” bisik Indras, melihat banyaknya kartu di dompet saya. Belum sempat bertanya, saya malah disidak. Mereka penasaran melihat kartu ATM, kartu pelajar, tumpukan nota, dan selembar lima puluh ribu di dalam dompet.

“Kalau di kolom KTP nanti ditulis pekerjaanya ‘petani’, malu tidak?” Saya bertanya dalam Bahasa Jawa. Ikzhan menggeleng.

“Nanti kalau pekerjaannya petani, susah melamar gadis bagaimana? Nanti tidak lekas menikah, loh,” saya kembali bertanya, memancing jawaban dari mereka.

Lha nyatane Bapakku karo Ibukku dadi,” saya tersenyum mendengar jawaban Ikzhan. Nyatanya Bapak dan Ibuku menikah.

***

Kami berpindah ke bangunan Taman Kanak-kanak (TK) yang berjarak sepelemparan batu dari si asam kembar. Di sampingnya ada pohon talok. Dengan gesit, saya dan anak-anak meraup buah talok yang ranum. Buah yang masih muda dipakai bermain gasing oleh Putra dan Indras. Setelah jajan es sirup dan cimol – Ikzhan menraktir saya satu plastik es sirup – Ikzhan mengambil raket dan kok di rumahnya. Kami bersiap main badminton.

Sambil menunggu Ikzhan, menjelang siang di hari Minggu, Dani masih sepi. Dani bisa disebut sebagai dusun yang tidak hanya berisi para petani, namun juga jadi pusat pergerakan tani di Mojogedang. Dari 80-an Kepala Keluarga (KK) di sini, rata-rata petani menggarap tanahnya sendiri. Sejak 2013, dusun ini rutin menggelar perayaan Hari Tani Nasional (HTN). Tahun ini, perayaan HTN diadakan pada Sabtu malam, 22 September 2018. Acara utamanya adalah pemutaran dan diskusi film tentang Paiman Hadi Supadmo, petani 79 tahun yang tidak lelah mempromosikan penggunaan pupuk organik.

Dulu, Paiman kecil tidak boleh sekolah karena dipaksa jadi petani. Kini, menurut Paiman, tidak mudah memaksa anak-anak untuk mau bertani. “Karena perubahan situasi, perubahan alam, perubahan kondisi,” ujarnya, ketika saya temui 23 September 2018 kemarin.

Tapi cucu dan cicit Paiman sudah diajari bertani sejak dini. “Pokok pekerjaannya (pertanian). Ya meskipun tertatih-tatih, tapi kan dimulai dari tentang memelihara ternak dulu, terus caranya membuat pupuk seperti ini, terus baru dibawa ke sawah.”

Soal minimnya anak muda yang ingin jadi petani juga pernah disindir Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dua tahun silam. Saat itu Ganjar menghadiri sebuah seminar pertanian di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

“Siapa yang ingin jadi Petani sesudah lulus?” tanyanya.

Ada 13 mahasiswa yang mengangkat tangan. “Lah kok Cuma 13?” kata Ganjar spontan disambut tawa mahasiswa.

“Lah yang kuliah di Fakultas Pertanian lainnya mau jadi apa? Pilot? Gubernur?” Tanya Ganjar kembali.

Ikzhan yang katanya penggemar Jonathan Christie, kembali dengan tiga raket dan satu pak bola berbulu angsa. Kami bermain di jalan kecil yang berkerikil di samping TK. Tidak bisa melakukan lob terlalu tinggi sebab terhalang dahan pohon.

“Besok kalau bertani mau nandur apa?” Saya bertanya sambil terus melancarkan pukulan.

Nandur pari,” jawab Ikzhan.

Tukule?” Ikzhan terlihat bingung. “Tukule suket teki ora?” Guyonan saya sepertinya hambar.

“Di sini terakhir panen padi kapan?” Saya penasaran, sebab kemarau kali ini cukup panjang.

“Oktober.” Jawaban Ikzhan mengejutkan saya.

“Oktober tahun wingi?”

Iya, Mas. Oktober.”

Eko ternyata gatal melihat kami berdua bermain. Kini giliran dia yang jadi lawan saya. Teknik pukulannya lumayan juga. Satu reli seru terjadi saat kami adu drive. Empat sampai enam kali backhand drive saya bisa dikembalikan Eko. Reli berakhir saat bola meluncur di pojok kiri belakang lapangan saya. “Aku ki atlet, og,” katanya bercanda setengah takabur.

Eko, Putra, dan Indras pulang duluan. Tinggal saya dan Ikzhan yang bermain. Ikzhan membuka kausnya, gerah. Tidak lama, ibunya yang pulang dari ladang menegurnya agar memakai baju.

Ibunda Ikzhan, Heni Sudarwanti, adalah perempuan 31 tahun bertubuh gempal. Nantinya, kepada saya Heni bertutur bahwa ia tidak mengharuskan anaknya menjadi petani. “Kalau orang desa kan memang kebanyakan menjadi petani. Kalau tidak jadi petani ya kita mau makan apa. Iya kan? Tapi kalau anak punya cita-cita sendiri, pengin jadi ini, pengin jadi itu, ya sebagai orang tua mendukung. Kalau ada biayanya, didukung, dibiayai. Tapi kalau anak kepengin jadi petani yang sukses, jadi petani yang maju, ya enggak papa,” tuturnya dalam Bahasa Jawa.

Heni bercerita kalau Ikzhan ingin mengikuti jejak ayahnya. Jadi penyuluh pertanian yang lebih mapan. Tapi Heni agak tidak rela. “Jangan jadi PPL, besok jadi dokter saja. Besok kalau Ibu sama Ayah punya biaya, tak jadikan dokter,” kisahnya.

Saya dan Ikzhan bergeser beberapa langkah, menghindari dahan pohon agar kami bisa bermain lebih leluasa.

Kowe wis ngomong Ibukmu nek meh mrene, Mas?” tanya Ikzhan. Kamu sudah izin ke Ibumu kalau mau ke sini?

“Ibuku kan ning Semarang. Aku ning Solo dewe. Sendiri.”

Saya membayangkan, belasan tahun ke depan, Ikzhan akan ingat kalau suatu hari, saat usianya sepuluh tahun, ada seorang lelaki yang menemuinya, mengajaknya bermain, menanyainya tentang angan-angan masa depan. Saya tidak tahu Ikzhan akan betul-betul jadi petani atau tidak. Betul-betul jadi Sarjana Komputer yang juga mengolah sawah atau tidak. Bahkan saya tidak tahu, belasan tahun ke depan, apakah Dani masih mewujud hamparan permadani dengan sawah dan pepohonan dan angin dan kicauan burung.

Tiba-tiba, kok yang kami mainkan menyangkut di dahan. Saya melempar raket untuk menjatuhkan kok. Eh, malah ganti raketnya yang menyangkut.

Saya dan Ikzhan tertawa. Dani sedang mengerjai kami.•

Facebook Comments
Tag

Satya Adhi

Pembeli buku diskonan, penonton film gratisan. Meminati sastra, juga kajian media dan jurnalisme. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di pjalankaki.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close