Babad

Arthur Rimbaud, Sastrawan Eropa Yang Berkunjung Ke Salatiga

“Aku sudah begitu sabar, hingga semua kulupa. Derita dan gentar ke langit musnah. Dan haus maksiat, membuat darahku pucat… ”

Aleixo Alberto Cesar

Bait di atas ialah penggalan puisi berjudul Lagu Menara Tinggi.Penulisnya Jean Nicolas Arthur Rimbaud, sastrawan Eropa yang pernah singgah di Salatiga. Sejak zaman dahulu, bumi nusantara memang sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi sastrawan dan seniman Eropa. Kedatangan mereka tidak selalu untuk menjajah, namun juga untuk menambah wawasan yang nantinya menjadi bahan inspirasi untuk sebuah karya. Seniman Eropa yang tersohor, Arthur Rimbaud adalah salah satunya.

Arthur Rimbaud adalah seorang penyair besar dari Perancis. Ia lahir di Charleville, pada 20 Oktober 1854, dan meninggal pada 10 November 1891, di usia 37 tahun. Arthur berasal dari keluarga kelas menengah, dan merupakan anak kedua dari pasangan Kapt. Frédéric dan Vitalie Cuif. Sebagai seorang anak, dia merupakan orang yang selalu gelisah namun pikirannya cerdas dan cemerlang. Pada umur 15 tahun, dirinya sudah banyak menerima hadiah karena sering memenangkan perlombaan syair dan dialog dalam bahasa latin.

Arthur Rimbaud menjadi sosok yang karismatik karena karya-karyanya. Seperti Illuminations  yang tampaknya memberi pengaruh pada kesustraan modern. Oleh penyair Perancis, Victor Hugo (1802-1885), Arthur dijuluki sebagai ‘Putra Shakespeare’.

Arthur Rimbaud merupakan penyair beraliran simbolisme. Karya-karyanya lebih dipengaruhi Charles Baudelaire, seorang perintis aliran simbolisme di dalam kesusastraan Perancis. Pandangan aliran ini melihat bahwa ‘dunia sini’ adalah pantulan dari ‘dunia sana’. Bila dalam Bahasa Indonesia memiliki penggambaran ‘dunia sini’ sebagai maya, dan wujud asli adalah ‘dunia sana’. Ciri-ciri karya Arthur Rimbaud melihat bukan sekedar realitas dan cenderung selalu memberontak.

Dalam buku Orang Indonesia dan Orang Perancis, karya Bernard Dorleansdari abad XVI sampai dengan abad XX,menerangkan akan kisah hidup Arthur Rimbaud pada 1876 saat dirinya berusia 22 tahun, dimana ia bergabung dalam legiun asing Eropa. Pada 10 Juni 1876, Arthur berangkat dari Den Helder, Belanda, menggunakan kapal Prins Van Oranje menuju Batavia (Jakarta). Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Semarang. Ia kemudian bersama legiunnya naik kereta api dari Semarang menuju Stasiun Tuntang dan melanjutkan berjalan kaki menuju Salatiga. Arthur Rimbaud menghabiskan waktu dua pekan di Salatiga.

Saat di Jawa, Arthur melakukan pengamatan, dan sempat tinggal di kediaman resmi Residen Salatiga. Karena kunjungannya, terdapat piagam marmer yang menyatakan bahwa Arthur Rimbaud pernah tinggal di Salatiga. Dalam marmer tersebut tertulis Aux pays poivres et detrempre(baca: di negeri yang banyak lada dan beriklim basah atau hujan).

Arthur  Rimbaud tidak  pro dengan imperialisme. Sesudah pengalamannya di Asia, ia menetap di Ethiopia. Salah satu aktivitas Arthur Rimbaud adalah mencari senjata untuk raja kulit hitam yang digunakan melawan imperialis Italia. Apa yang dilakukannya membuahkan hasil. Ethiopia kemudian dapat menjatuhkan para tentara Italia. Dan ini menjadi momentum untuk pertama kalinya, bahkan satu-satunya kisah pada abad 19 saat orang-orang Afrika berhasil memukul telak pasukan Eropa.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close