Puisi

Asah, Asih, Asuh

Oleh: J.B. Sugita

Mengasah, membuat seseorang atau sesuatu yang tumpul menjadi jadi tajam. Yang sudah tajam menjadi semakin tajam. Lantip dalam keterampilan, pengetahuan, hikmat dan kebijaksanaan, daya pembeda, serta kemampuan bertutur-bertindaknya. Usainya? Sampai hayat dikandung badan!

Saling mengasah-diasah bisa datang dari apa pun,  maupun siapa pun. Dari hal yang baik pun dari yang buruk. Bisa dari sekolah, pun di luar sekolah. Dari yang harus bayar, pun yang gratis. Ini, khas untuk manusia. Tumbuhan dan binatang tidak mengenal mengasah-diasah-saling asah.

Asih, kasih. Mengasihi, dikasihi, saling mengasihi. Memberi hingga membuat sakit, baru ini memberi yang sesungguhnya. Memberi dari yang dimiliki, bukan dari sisa: berkorban. Kasih manusia amat terbatas, manusia maunya hanya berbalas, dan pandang muka!

Fakta manusia berkasih beraneka. Yang egois: dengan pamrih meraup keuntungan, ada harapan, ana pangarep-arep. Yang adil: mengasihi identik dikasihi. Dikasihi dahulu baru dibalas mengasihi setimpal. Filantropis, kasih ibu, kasih orang istimewa, sungguh mengasihi tanpa menghitung, tanpa pamrih pribadi, setia, terus-menerus, sekalipun tidak berbalas. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah!

Hanya punya kasih dari atas yang bisa demikian. Hanya yang damba balas kasih-Nya yang bisa sisihkan kasihnya sendiri. Justru memberi damai, nyaman, harapan, dan kehidupan kepada orang lain. Pahala, nanti yang jadi api, sumber energi tak terbatas, yang tak dimakan ngengat-karat, yang takkan layu, hilang, dicuri orang.

Asuh, terlebih lagi milik manusia: memberi-menediakan hati, persediaan perhatian, rawatan, sentuhan, penghiburan, dan keramahan. Ringkas kata: semua kebaikan yang kasat mata. Yang punya persediaan berlimpahlah yang bisa mengasuh dengan tulus, sepenuh hati, tidak pilih-pilih, mban cinde mban siladan.

Mengasuh menitikberatkan pertemanan, mengutamakan hal positif, merawat keharmonisannya, senyum dan pengertian, penerimaan dan pandangan menyejukkan. Menbuat orang jadi nyaman, kerasan.

Bisa saling mengasah, mengasih, dan mengasuh adalah salah satu puncak kehidupan perjuangan manusia. Akan membuat persona yang terlibat cepat tumbuh, nyaman, sukacita, tenteram, sehat, kuat, dan terhibur. Keluarga jadi normal dan optimal. Masyarakat dan negara damai, sejahtera, mempesona. Penghuninya mekar jadi Arta Wirya Winasis: menyenangkan, berada, baik, pandai, dan bijaksana.
Insya Allah. Deo Volente!

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close