Wangsinawang

Baca, Baca, Baca

Sebelumnya, perlu kami sampaikan bahwa isi terbitan ini bukanlah umpatan, makian, atau pesimisme awak redaksi kepada pembaca. Optimis memang perlu, pun kami yakin akan hal itu. Tetapi, memandang sisi positif saja rasanya tidak cukup, bahkan bisa jadi tidak realistis bila mengesampingkan substansi persoalannya. Dan, ini memang masih soal tingkat literasi di Indonesia, di sebuah negara yang sudah 73 tahun merdeka namun masih jauh tertinggal dari berbagai negara di dunia.

Padahal, apabila kita sadar dan bersedia meluangkan sedikit waktu untuk merenungi laku para pemersatu bangsa, mereka semua lahir sekaligus besar karena membaca. Karena buku yang barang kali adalah santapan sehari-harinya. Soekarno, sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia misalnya, dalam salah satu pidato ia sempat mengatakan, “meskipun umpamanya bukan keluaran universitas, jangan kecil hati. Bacalah buku, bacalah buku, bacalah buku sebanyak mungkin untuk upgrade (baca: meningkatkan –red) saudara punya diri”. Wakilnya, Mohammad Hatta juga tidak kalah besar cintanya pada buku dan membaca. Bahkan, di suatu kesempatan ia pernah mengatakan, “aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas“. Luar biasa bukan? Waktu dan tempat tak menjadi persoalan baginya asal masih bisa membaca.

Kemudian, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kenamaan Indonesia dari Blora, Jawa Tengah juga punya pendapat yang agak keras soal membaca. Menurutnya, “orang rakus harta benda selamanya tak pernah membaca cerita, orang tak berperadaban. Dia takkan pernah perhatikan nasib orang, apalagi yang hanya dalam cerita tertulis”. Kalau kata sastrawan yang lahir jauh setelah Pram, Goenawan Mohamad, “kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan”. Membaca kemudian menjadi sangat berarti lantaran dari aktivitas itu nyatanya dapat meningkatkan kesehatan mental sekaligus memperbaiki kondisi psikologis.

Begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas membaca. Mulai dari peningkatan kapasitas memori otak, kemampuan berpikir analitis, mengurangi stres, bahkan dapat meningkatkan konsentrasi atau fokus, serta memperluas cakrawala pengetahuan, sekaligus meningkatkan kemampuan menulis. Kemudian, dan yang tidak kalah penting, aktivitas membaca ternyata punya andil untuk mencegah datangnya penyakit Alzheimer. Hal itu memungkinkan karena ketika orang membaca, ia akan mengingat logika, informasi, tokoh, cerita, maupun latar belakang peristiwa. Seorang pembaca juga melakukan proses semantik atas kode atau simbol yang didapat dari teks bacaannya.

Namun, menjadi agak pilu ketika mengetahui bahwa minat baca di Indonesia ternyata menududuki peringkat 60 dari 65 negara peserta, apabila dirunut dari versi Programme for Internasional Student Assessment (PISA) 2012. Tolok ukur yang ditetapkan PISA itu meliputi pemahaman, penggunaan, hingga refleksi pembaca atas teks yang dirujuknya. Tingkat literasi di negara Indonesia, yang menjadi salah satu bagian dari negara di Asia Tenggara juga masih kalah dengan Singapura yang menduduki peringkat tiga, dan Malaysia di peringkat 59.

Memang, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan bahwa presentase buta huruf penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas sebanyak 4,78 persen, usia 14-44 tahun 1,10 persen, dan untuk usia 45 tahun ke atas mencapai 11,89 persen. Namun, dengan demikian persoalan literasi tampaknya belum selesai karena pada 26 Maret lalu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani pernah mengatakan bahwa minat baca masyarakat masih rendah dan perlu ditingkatkan.

Orang Indonesia, kata Puan, rata-rata hanya membaca buku tiga sampai empat kali per minggu. Durasi yang dihabiskan rata-rata hanya setengah hingga satu jam, dan apabila dibulatkan dalam setahun penduduk di Indonesia rata-rata hanya membaca lima sampai sembilan buku. Dengan kebiasaan (habit) seperti itu, penduduk Indonesia barang tentu akan sulit lepas dari keterpurukan literasinya, yang dewasa ini berada di peringkat 60 dari total 61 negara, versi Central Connecticut State University, Amerika (2016). Badan survei literasi itu mencatat posisi Indonesia nomor dua dari belakang, setelah Botswana, sebuah negara yang terkukung oleh daratan bekas jajahan Britania Raya di Afrika bagian selatan.

Sementara untuk posisi lima besar, Central Connecticut State University menempatkan sejumlah negara Skandinavia. Mulai dari Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, hingga Swedia. Lantas, apa konsekuensi yang kemudian harus diterima penduduk Indonesia apabila dekadensi literasi dan minat baca tidak diatasi bersama-sama? Tanpa bermaksud menyederhanakan segala konsekuensi yang ada, namun dewasa ini redaksi memandang bahwa belenggu berita bohong (hoax) adalah ancaman yang paling nyata di depan mata. Karena tidak membaca, publik akan sangat mudah dihasut dengan informasi yang kurang sahih, akutal, dan faktual isinya. Karena tidak membaca, “poltik pecah belah” akan semakin berkuasa dan sangat mudah melumpuhkan seluruh sendi kehidupan sosial dan budaya. Tiap sendi akan mudah patah, jika publik tidak memiliki pondasi atau minimal melakukan koreksi tiap bacaan yang diterimanya.

Oleh karena itu pula, dalam sebulan ini redaksi mencoba menggali, menggolah, dan menyuguhkan informasi yang kiranya dapat memantik minat baca, dan diharap menjadi insipirasi bagi pembaca agar dapat mengaplikasikan minat literasinya. Seluruh proses tersebut dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Literasi Internasional yang jatuh tiap 8 September, dimana tema yang disugguhkan tahun ini adalah Literasi dan Pengembangan Kemampuan (Literacy and Skill Development).

Pada mulanya, ada konten yang kami publikasikan berkat penelusuran jejak Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Pahlawan nasional itu, berkat konsistensinya membaca literatur kedokteran kemudian berhasil memberantas wabah penyakit pes di Malang yang ditemukan sejak 1910. Dalam buku yang ditulis M. Balfas (1952) dikatakan, kegigihan seorang Tjipto dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter. “Tak ada masker atau penutup hidung yang melengkapi, namun Tjipto tetap melangkahkan kakinya dengan mantab memasuki pelosok desa untuk membasmi wabah pes,” tulisnya.

Ki Djoko Poetjoeng juga punya puisi yang tak kalah apik. Melalui Blarak Tua Yang Terinjak, ia mengeksplorasi sejarah dan menekankan pentingnya sejarah untuk diminati, sekaligus dimengerti generasi yang selalu lahir di tiap masa. Ada juga rensensi film Taree Zameen Par, dimana pembaca dapat mengetahui bagaimana seorang pengidap disleksia punya imajinasi yang amat kaya, dan bagaimana seharusnya sistem pendidikan dibangun seturut dengan proses kreatifnya. Lalu, kami juga sempat bermain ke tempat belajar komunitas Sahabat Tuli di Salatiga, dimana dari mereka kami dapat mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. Dari mereka pula, kami belajar bagaimana cara bertahan hidup di tengah derasnya arus persaingan dunia kerja: maju bersama!

Salah seorang kontributor di Surakarta juga sempat berbagi cerita kepada kami tentang pengalamannya bertemu anak petani. Judulnya Anak-anak Permadani, dimana dari terbitan itu pembaca dapat mengenal Ikzhan, seorang anak yang punga mimpi menjadi sarjana komputer yang bertani. Begitu banyak tulisan yang kami terbitkan untuk memantik minat baca, karena kami sadar bahwa literasi adalah salah satu aspek terpenting di kehidupan manusia. Literasi membantu manusia untuk memahami persoalan di sekitarnya, pun menyelamatkannya agar tidak terombang-ambing oleh keadaan yang ada.

Kemudian, untuk menutup pandagan redaksi kali ini, ijinkanlah kami mengutip ungkapan Bapak Kebohongan Modern, Joseph Goebbels. Darinya, kita akan selalu ingat dan waspada bahwa berbagai macam berita, atau informasi patut diragukan kesahihannya, sebelum diterima sebagai kebenaran. Doktrin atau dalil teori komunikasi politik seorang Goebbels itu sangat terkenal, meski di sisi lain pandangan tersebut patut diwaspadai oleh siapa saja. Berikut adalah kutipannya,

“Kebohongan yang dikampanyekan secara terus menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!”•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close