Wisata

Bangkitnya Kampung Batik, Sentra Pemasaran Batik di Semarang

Kampung Batik menjadi sentra pemasaran batik hasil karya pembatik di Semarang. Mulai dari batik cetak, cap, hingga batik tulis.

Aleixo Alberto Cesar

Akhir pekan biasanya menjadi waktu terbaik untuk bersantai, atau sesekali berkunjung ke tempat wisata bersama keluarga. Dan, bicara tentang tempat wisata, Semarang memiliki destinasi yang cukup menarik yaitu Kampung Batik, atau lebih tepatnya di Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur, Jawa Tengah. Kampung Batik Semarang sudah dikenal sejak zaman Hindia-Belanda, dan sempat mengalami kebakaran pada saat terjadi Pertempuran Lima Hari yang mengakibatkan luluh lantaknya beberapa sisi kampung tersebut. Akibat peristiwa itu Kampung Batik perlahan redup, hingga pada 2006 lalu mulai terlihat lagi pesonanya.

Kali pertama tiba di Kampung Batik, pengunjung akan disuguhi berbagai macam mural yang menghiasi sejumlah sudut dinding kampungan tersebut. Coraknya sungguh artistik, ada yang bercerita tentang wayang, legenda, maupun sejarah Semarang. Tidak hanya menjual kain, namun Kampung Batik juga menjajakan aksesoris seperti kalung, gelang, atau tas. Lebih dari itu, selain berbelanja, pengunjung juga dapat mengikuti kelas membatik di sana.

Batik
Kampung Batik menyediakan berbagai macam motif, maupun jenis batik mulai dari batik cetak (printing), cap, hingga tulis (Foto: Bryan Perdana).

Salah satu tokoh di Kampung Batik, Tri Utomo yang juga pemilik Butik Ngesti Pandowo mengungkapakan bahwa masyarakat Kampung Batik sengaja didorong untuk kembali mengangkat batik, dan lambat laun didirikanlah sejumlah butik batik di kampung itu. “Saya sendiri terpanggil untuk memberdayakan pengrajin batik di Semarang, karena sangat disayangkan bila hasil karya mereka hanya berhenti pada pameran. Perlu ada langkah untuk memasarkan hasil tangan mereka, lalu saya bersama Dinas Pariwisata Semarang mulai memikirkan cara penjualannya dengan Kampung Batik sebagai sentralnya,” kata Tri, saat ditemui Aslo di butiknya, Rabu, (10/10).

Mendengar Pelanggan

Batik
Tri Utomo ialah salah satu sosok yang gencar memasarkan batik di Kampung Batik. Kenyamanan, dan ketersediaan varian batik untuk pelanggan adalah kunci utama yang dipegang olehnya (Foto: Bryan Perdana).

Langkah pertama yang Tri tekankan soal pemasaran batik di Kampung Batik adalah keyakinan bahwa batiknya laku untuk dijual. Ia juga terbuka dengan masukan dari pelanggan, “sehingga saya mulai memiliki visi misi ke depan. Bahwa menjual batik ini tidak hanya sekedar kita pajang di butik dan menunggu pengunjung yang datang saja. Itu sangatlah kurang bila melihat keadaan pasar sekarang,” ucapnya.

Srategi pemasaran yang Tri lakukan didapat dari hasil belajarnya dengan mengamati minimarket. “Mereka (minimarket –red) bersaing tetapi tidak gontok-gontokan. Saya belajar bagaimana membuat konsumen saya nyaman agar mereka kembali berkunjung ke tempat saya. Pertama, saya harus menyajikan tempat yang nyaman dan tempatnya terang. Kedua, barang yang saya miliki haruslah banyak varian. Sehingga ketika orang membeli memang harus one stop shopping, yakni sebuah konsep dimana pengunjung datang, dan barang yang mereka butuhkan semuanya ada,” tutur Tri.

Bagi Tri Utomo, dalam penjualan batik memang perlu sedikit mengubah cara pandang bahwa pembeli adalah raja, tetapi raja itu perlu dilayani.  “Konsep ini perlu diterapkan, bila ada konsumen meminta sebuah batik, maka kita harus memberikan apa yang mereka inginkan. Kalau memang perlu kita antar, maka kita harus antar. Sambutan seperti itu jauh lebih mengena dan akan menjadi nilai tambah. Dengan konsep ini, maka percepatan dalam perkembangan batik akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Sehingga saat pengunjung datang sudah tidak menanyakan ada batik atau tidak, tetapi apa motif batik yang terbaru? Inilah yang membuat kita menjadi semangat dalam berinovasi,” jelas Tri.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close