Resensi Buku

Belajar Bijak dari Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi diklaim sebagai buku yang paling bisa dipercaya mengenai sejarah Jawa. Bercerita tentang silsilah, kesaktian, pergaulan, hingga mitos, dan legitimasi kekuasaan.

J.B. Sugita

Setiap bangsa memiliki masa pahit, era gelap, atau lembaran hitamnya masing-masing. Jerman dengan Hitler, Perancis dengan Guillotinnya, Afrika dengan perbudakan, dan Asia dengan penjajahan, pun di negara-negara komunis masa silam.

Dalam perjalanan hidup manusia di masa lalu, era monarki-kerajaan silam, akrab dengan perebutan kekuasaan, perang saudara, pembunuhan tersembunyi maupun terbuka, intrik, dendam, tindakan sadis-keji, poligami: raja berhak mengambil alih istri dan selir, sekalipun kepada yang sudah bersuami. Pun, dalam era monarki di Pulau Jawa yang dibeberkan dalam buku itu, juga dikisahkan silsilah, kesaktian, pergaulan dan penggunaan paranormal, makhluk halus, jin, setan, peri-perahyangan untuk legitimasi kekuasaan.

Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Runtuhnya Mataram ditulis di Leiden, Belanda, pada 1941. Diterjemahkan H.R. Sumarsono, dan diklaim sebagai buku yang paling bisa dipercaya mengenai sejarah Jawa. Terdiri atas 81 judul, dan yang terpendek ada bab 6: Sunan Kalijaga, hanya 1 paragraf dan terpanjang bab 52: Untung Anak Kapten Mur, 20 halaman. Bab pembuka, alinea pembuka, Asal-Muasal Tanah Jawa, membeberkan: inilah babad para raja di tanah Jawa, mulai dari Nabi Adam berputra Sis, Esis berputra Nurcahya, Nurcahya berputra Nurasa, Nurasa berputra Sanghyang Wening, Sanghyang Wening berputra Sanghyang Tunggal, Sanghyang Tunggal berputra Batara Guru. Berlanjut ke 5 puteranya:Batara Sambo, Brama, Maha-Dewa, Wisnu, dan Dewi Sri. Batara Wisnu menjadi raja di pulau Jawa bergelar Prabu, sementara Kerajaan Batara Guru ada di Sura-Laya.

Nama-nama masyhur yang sudah biasa ada di masyarakat terurai di buku itu. Seperti yang dijelaskan babad adalah tulisan sejarah pendirian kerajaan dan aneka peristiwa penting yang menyertainya. Bisa ditemukan antara lain kisah Majapahit, Sunan Giri, Sunan Kali Jaga, Raden Patah, Jaka Tarub, Jaka Tingkir, Penangkap Petir, Arya Penangsang, Ratu Rara Kidul, Sultan Agung, Truna Jaya, Karta Sura, Sura Baya, dan Pancawati. Pun, kisah cinta Adipati Anom dan Rara Oyi yang Jelita. Tentu, Mataram! Babad Tanah Jawi itu juga menuliskan peran ulama atau sunan yang dengan kesaktian, serta kemampuan religi supranaturalnya mengetahui masa depan sehingga dapat bersiap diri sepantasnya, termasuk pendampingan raja atau penguasa agar tidak sewenang-wenang.

Menjadi pelajaran penting pula ketika tahu ternyata keterlibatan pasukan Belanda disingkapkan di bab 44. Adipati Anom meminta bantuan Belanda: Patih Ki Manda Raka berjumpa Gubernur Jendral Belanda di Batavia yang kemudian mengirim 1000 prajurit orang Makassar, Bugis, Ambon, Ternate, dan 800 prajurit Belanda dengan komandan Kapten Amral Eduwelbeh, beserta 4 mayornya untuk mengalahkan musuh-musuhnya, terutama Bang Wetan. Sejak itulah tentara Belanda membuat runyam seluruh kerajaan di Jawa demi keuntungan Belanda sendiri.

Pada saat negeri kita sedang berada dalam hiruk-pikuk Pilpres seperti sekarang ini, nasihat tetua, resi, dan orangtua: tiyang gesang pantes dadosa pepalang, tiyang gaplok dadosa pathok (baca: orangtua pantas jadi penghalang, orang lanjut pantas jadi pedoman). Jangan sampai membuat retak negara. Tanah Jawa sebaiknya dijadikan kebahagiaan dan kemuliaan seluruh sanak-saudara kerabat Karta Sura. Pasti besar berkatnya.

Mencermati isi buku itu, yang sangat mengasyikkan, dengan bahasa sederhana, tidak berbelit-belit tapi kronologis. Tentu harus bisa memilah mana yang patut diteruskan atau harus disingkirkan. Mana pula yang mendatangkan berkat, halal, dan mana yang harus dihindari, seperti haram dan syirik. Agar sejarah buruk tidak selalu terulang dan dijadikan pelajaran.

Buku itu memang sangat menguntungkan pembaca yang berlatar bahasa dan budaya Jawa. Melalui buku itu, pembaca juga bisa menikmati dunia pewayangan Mahabarata-Ramayana secara maksimal. Sementara itu, pembaca lain tidak perlu berkecil hati karena bisa membuka kamus atau bertanya pada orang yang paham dengan budaya Jawa. Terakhir, untuk kesempatan cetak ulang berikutnya, juga perlu perhatian akan beberapa salah cetak, atau terjemahan yang kurang. Pun, ada beberapa bagian yang kurang sinkron terkait daftar isi dan isinya.•

Babad Tanah Jawi
Sampul: Gramedia

Deskripsi Buku:
Judul:

Babad Tanah Jawi:Mulai dari Nabi Adam sampai Runtuhnya Mataram
Penulis:
W.L. Olthof
Penerjemah:
H.R. Sumarsono
Tahun:
2017
Tebal:
448 halaman
Penerbit:
Narasi

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close