Wisata

Berburu Legenda di Bukit Cinta

Kalau ditanya siapa yang paham dengan Bukit Cinta, berikut kisah, legenda, atau tradisi di dalamnya, barang tentu adalah Pandiman orangnya.

Galih Agus Saputra

Mitos, dongeng, atau legenda barang kali sering dianggap angin lalu belaka. Cerita yang terlampau luar biasa kerap dianggap di luar logika, atau karena tidak masuk di akal lantas dianggap tidak jelas nalarnya, tanpa didasari upaya untuk mencari, memahami, atau mencerna terlebih dahulu muatan atau isinya. Lalu, bagaimana jika mitos, dongeng, legenda, atau cerita rakyat lainnya itu sebenarnya punya maksud, tujuan, dan nilai tertentu di dalamnya? Sebagai cara merawat hubungan harmonis antar warga misalnya, atau produk kebudayaan sebagai perangkat untuk merawat hubungan manusia dengan alam dan sekitarnya? Kita tidak pernah bisa menduga. Terlampau sederhana kalau cuma diterka-terka.

Pada Jumat (28/9) lalu, Aslo berkunjung ke obyek Wisata Bukit Cinta. Bukit Cinta merupakan salah satu obyek wisata alam yang ada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang letaknya tidak jauh dari Ambarawa dan Salatiga, atau lebih tepatnya berada di Desa Kebondowo, Banyubiru. Konon, dulu semasa pemerintahan Hindia-Belanda, ada orang Belanda yang mendirikan rumah di atasnya. Mereka menghabiskan waktu di sana untuk bermain, istirahat, dan sesekali mencari ikan di rawa pada akhir pekan. Namun, lambat laun rumah itu tidak dirawat dan runtuh. Pasca kemerdekaan negara Republik Indonesia, tempat itu juga tidak berpenghuni hingga kemudian ada suatu masa yang membuatnya menjadi obyek wisata.

Ada satu orang yang paham betul dengan seluk beluk Bukit Cinta, namanya Pandiman. Ia adalah orang yang amat peduli, bahkan telah menghabiskan hampir separuh masa hidupya untuk merawat (nguri-uri dalam Bahasa Jawa) Bukit Cinta, berikut berbagai macam kisah atau tradisi, dan kebudayaan di dalamnya. Pandiman adalah orang yang paling dituakan, atau dianggap sesepuh oleh masyarakat sekitar ketika berbicara Bukit Cinta. Bahkan, ketika berkunjung ke kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, beberapa orang di sana juga menyarankan agar Aslo bertemu Pandiman jika hendak berburu legenda di Bukit Cinta, (26/9).

Aslo tiba di Bukit Cinta beberapa saat sebelum salat Jumat. Suasana tidak begitu ramai di sana, hanya ada puluhan pekerja proyek yang tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada juga alat berat yang bertengger di dekat loket, karena memang saat itu Bukit Cinta sedang direnovasi. Sejumlah tempat tampak diberi garis kuning, sebagai penanda bahwa area tersebut belum bisa diakses oleh pengunjungnya.

Sementara itu, rumah Pandiman juga berada di sekitar area obyek wisata Bukit Cinta. Bahkan, Aslo sempat berpikir, saking pentingnya sosok Pandiman untuk obyek wisata Bukit Cinta, maka pemerintah membuatkan akses khusus antara Bukit Cinta dan rumahnya. Andai kata Pandiman membuka pintu rumahnya, ia dapat segera masuk ke Bukit Cinta karena ada pintu kecil di depan rumah yang menghubungkannya.

Pandiman hendak belanja buah jeruk di Kopeng ketika Aslo tiba di rumahnya. “Sebentar ya. Nanti, setelah salat Jumat saja kita ngobrolnya. Saya tinggal cari Jeruk dulu,” katanya.

Kini, Pandiman memang sudah tidak punya ikatan kerja dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, pengelola obyek wisata Bukit Cinta. Masa tuanya disibukan dengan berjualan jus jeruk di dekat loket, dan menjaga kamar mandi umum obyek wisata Bukit Cinta. “Oh, betul itu. Pasti tahu semua kalau Pak Pandiman,” kata seorang warga kepada Aslo, ketika menunggu kedatangan Pandiman di kamar mandi umum yang dikelolanya.

Nguri-uri Budaya

Wisata
Patung atau relief yang menggambarkan kisah Baru Klinting di dekat loket obyek wisata Bukit Cinta, Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Foto: Bryan Perdana).

Singkat cerita, Pandiman kemudian sudah pulang dari Kopeng dan telah menyiapkan lapak jus jeruk yang dikelola bersama anaknya. Pandiman lantas membuka percakapan dengan kegelisahannya atas perhatian kebanyakan orang saat ini pada budaya dan tradisi di sekitarnya. “Orang tua memang banyak, tapi ketuaannya itu belum tentu tua kalau belum nguri-uri budaya. Ya, saya ini sebenarnya juga bukan apa-apa, tapi karena saya nglakoni (baca: menjalani) makanya saya bisa cerita. Semoga apa yang saya ceritakan ini bisa dipahami, dan diwarisi oleh generasi-generasi seterusnya,” katanya.

Bagi Aslo, bertemu Pandiman itu serasa bertemu dengan abdi keraton. Ia yang semula memakai baju seadannya, lantas pamit sebentar untuk pulang ke rumah, menganti bajunya dengan motif batik, lengkap dengan belankon di kepalanya. Setelah ganti baju itu lah, Pandiman lantas mengajak Aslo duduk di depan patung Baru Klinting, yang berada di dekat loket untuk menceritakan semua pengalaman dan pengetahuannya soal Bukit Cinta.

“Jadi begini, soal Bukit Cinta itu sudah dimulai sejak 1975 tapi asal usulnya asli dari legenda. Saat terjadinya Rawa Pening itu percikan dari sada lanang (baca: lidi) setelah dijebol itu, yang besar jadi Gunung Kendali Sada, yang kecil-kecil jadi Gumuk Sukarini-Sukarina. Lah yang Gumuk Sukarini jadi Bukit Cinta ini. Lalu, jadi tempat wisata itu resminya bulan Januari 1950, setelah itu terus mulai ditanami pohon-pohon pinus itu, nah itu umurnya pohon pinus sekarang sudah 68 tahun, terus dijadikan tempat wisata atau tempat piknik sampai sekarang,” tutur Pandiman, yang mengatakan dirinya ikut menanam pohon pinus itu lantas memberinya nomor inventaris. Hal tersebut, baginya, merupakan bukti diri bahwa kepeduliannya dan masyarakat akan Bukit Cinta lantas menjadikan pohon-pohon itu sebagai tempat berteduh wisatawan.

Cerita Demi Cerita

Aslo lantas tergelitik untuk bertanya tentang segala cerita dan legenda yang dikenal di Rawa Pening dan Bukit Cinta. Pandiman menjawabnya dengan antusias, sambil menceritakan patung dan relief Baru Klinting yang ada di belakang tempat kami bicara. “Jadi ini ibarat manusia, ini bisa bicara. Ini relief ya, relief ini menggambarkan. Awalnya seperti apa, nah ini jalannya mengikuti arah jarum jam. Jadi dari sini ke sana, bukan dari sana ke sini. Ini semuanya menggambarkan. Lalu legenda, kenapa kok tidak berwarna-warni, wujudnya cuma putih, karena ya itu, menurut pemahaman saya legenda itu harus putih, tidak bisa berwarna. Seperti patung pahlawan itu ya putih, tanpa rekayasa begitu,” jelas Pandiman sambil menunjuk patung dan relief Baru Klinting yang tinggi menjulang dan berwarna putih di dekat loket.

Pandiman lantas meneruskan ceritanya soal Lingga dan Yoni di Bukit Cinta. Katanya, Lingga-Yoni itu umurnya sudah berabad-abad. “Sudah dari 1500 tahun yang lalu. Nah, saya waktu di situ, kok ada peninggalan purbakala, saat itu juga saya merasa terpanggil, bahwa niat saya melestarikan itu. Karena apa? Ini bukti diri, bahwa para leluhur, punden dulu pernah ada kehidupan, yaitu para nenek moyang kita. Nah, wujudnya apa? Lha peninggalannya itu kan buatan manusia. Jadi niat saya melestarikan peninggalan para leluhur, ya menghormati, ya merawat. Nah, setelah itu lalu saya mengusulkan ke pemerintah Kabupaten Semarang, khususnya di bidang kebudayaan, saya minta mereka buatkan cungkup. Cungkup itu rumah kecil seperti pos, sebagai peneduh Lingga-Yoni. Niat saya agar tempatnya tetap di situ, tetap lestari. Tidak pindah, dan tidak berubah,” katanya.

Aslo bahkan dipersilakan Pandiman untuk datang melihat Lingga-Yoni yang dimaksud. Belakangan, Aslo mengetahui sebutan untuk peninggalan tersebut diberi nama Ki Godho Pameling. “Menurut legenda yang saya terima secara turun-temurun dari para sesepuh pada saat itu, ini adalah peninggalan dari Ki Godho Pameling. Saat terjadinya Rawa Pening, dia bisa keluar dari marabahaya, mencari dataran tinggi untuk menyelamatkan tetangga dan anak-cucu. Mencari dataran tinggi lalu tinggal di sini. Nah, setelah itu ia buat Lingga-Yoni. Itu tempat tinggal untuk semedi, memanjatkan doa untuk yang maha suci dari dia sendiri, dan para tetangga karena sudah diberi keselamatan dan kesehatan dari marabahaya saat terjadinya Rawa Pening tadi. Lingga-Yoni itu untuk bertapa dan semedi, dan memiliki arti tersendiri yaitu simbol perempuan dan laki-laki. Terus secara keseluruhan itu lambang kesuburan,” tutur Pandiman.

Wisata
Juru Rawat Bukit Cinta, Pandiman saat membersihkan Lingga-Yoni, simbol kesuburan yang menjadi tempat semedi Ki Godho Pameling di obyek wisata Bukit Cinta, Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Foto: Bryan Perdana).

Maksud dari lambang kesuburan lantas diperjelas Pandiman yang mengatakan bahwa, di setiap tempat yang terdapat Lingga-Yoni itu pasti juga ditemukan sumber mata air. “Ini titiknya, dari Lingga-Yoni ini, di sana ada tiga sumber mata air, di sana ada tiga lagi. Tiga ditambah tiga ada enam, lalu yang di timur ada satu. Jadi semuanya ada tujuh. Tujuh juga punya arti yaitu pitutur, pituduh, pitulungan (baca: petuah, bimbingan, dan pertolongan) dari gusti yang maha pengasih. Jadi semuanya itu, berhubung saya bilang budaya Jawa, semuanya itu punya arti yang saya bilang dan jelaskan menggunakan budaya Jawa juga. Karena saya bisanya juga cuma begitu, dan tidak bisa merekayasa,” jelasnya sambil menunjuk beberapa sumber mata air, termasuk salah satunya di tengah rawa yang menjadi sumber mata air terbesar di Rawa Pening.

Soal Ki Godho Pameling sendiri, Pandiman mengatakan bahwa ia adalah sesepuh dari desa atau kademangan Puser Wening, sebelum menjadi Rawa Pening. Saat dia bisa mentas (baca: keluar dari air) ke desa tempat tinggal Pandiman saat ini, maka desa itu kemudian diberi nama desa Ngentasan. “Setelah itu, karena dia di sini sampai beberapa ratus tahun, akhirnya dia moksa, hilang bersama raganya. Maka dari itu, di sini saya tulis itu, petilasan, karena dia hilang bersama raganya. Sebelum moksa, dia juga pernah berpesan seperti ini, untuk siapa saja, cucuku, mulai saat ini sampai akhir jaman nanti, siapa saja yang ingin meminta kepada yang maha agung, ya tempat ini lah yang bisa digunakan sebagai sarana atau bisa menjembatani dengan pangeran yang maha agung. Bisa mengatasi segala sesuatu yang diminta. Sebagai sarana, untuk menjembatani. Hanya pangeran yang maha agung yang memberi belas kasih,” imbuh Pandiman.

Interaksi Manusia dan Alamnya

Barang kali, Pandiman dapat disebut sebagai salah satu orang yang cukup berpengaruh di balik berdirinya obyek wisata Bukit Cinta. Ia menuturkan, bagaimana caranya berinteraksi dengan alam hingga bagaimana niatnya semakin kuat untuk menjaga kelestarian alam di Rawa Pening, Bukit Cinta, dan sekitarnya. Pandiman bahkan sampai bertapa hingga 100 malam di atas sumber mata air, yang dianggap paling besar di Rawa Pening itu. Dengan menggunakan perahu motor, Pandiman lantas menuntun Aslo untuk melihat tempat dimana ia mendapat ‘panggilannya’.

Wisata
Juru Rawa Bukit Cinta, Pandiman saat mengantar ke sumber mata air terbesar di Rawa Pening, yang menjadi tempat semedinya selama 100 malam demi memohon berkat untuk obyek wisata Bukit Cinta (Foto: Bryan Perdana).

“Jadi, di sini dulu saya (di atas perahu –red) minta petuah dari yang maha kuasa. Saya menggunakan perantara alam yang ada di Rawa Pening ini karena berkaitan dengan Bukit Cinta Rawa Pening ini sendiri. Nah, berhubung di sini ada sumbernya, saya mapan di sumbernya ini, dulunya selama 100 malam, tepatnya pada 1977. Nah, itu setelah 100 malam saya baru mendapatkan petuah, tetapi petuah itu tadi rasanya seperti setengah mimpi, tapi jelas sekali. Setelah itu, saya mendapat perintah untuk menjadi juru rawat. Saya diperintahkan agar tidak boleh melakukan hal yang tidak seharusnya, dan tidak semestinya. Jadi begitu saya mendapat perintah untuk menjaga dan merawat tradisi adat dan budaya yang ada, setelah itu saya membersihkan hutan Bukit Cinta itu sampai sewindu (8 bulan). Setelah itu kemudian berkembang hingga saya mengusulkan ke pemerintah, ke dinas terkait agar mendapatkan dana, dan dana itu juga yang mengatur kabupaten, bukan saya. Saya cuma mengusulkan, dari tahun ke tahun terus begitu hingga seperti saat ini, sampai dikenal dan dikenang oleh orang banyak, tidak hanya orang Kabupaten Semarang, tapi orang se-Nusantara juga mendengar bahwa Rawa Pening itu benar-benar ada,” jelas Pandiman.

Dewasa ini, pandiman telah menjaga dan merawat tradisi, adat, dan budaya yang ada di Bukit Cinta dan Rawa Pening selama 40 tahun. Kepada Aslo ia juga sempat mengatakan bahwa dirinya pernah mendapat semacam amanah, untuk menjaga berbagai macam benda peninggalan purbakala. Ada yang berbentuk keris, tombak, tongkat, dan lain sebagainya. Meski demikian, Pandiman menolak jika dikata menyembah benda yang didapatnya. Ia hanya ingin menghormati, dan merawat peninggalan leluhur. “Karena apa? Tidak setiap orang diberi amanah seperti itu. Mohon maaf, bukan saya bermaksud melecehkan siapa saja. Tidak. Saya itu hanya mengikuti apa yang telah diperintahkan untuk menjaga alam yang telah diciptakannya,” tutur Pandiman menutup cerita.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close