Wangsinawang

Berhentilah “Bekerja”, Waktunya “Bermain” Telah Tiba

Akhirnya, tiba lah kita di penghujung gegap gempita perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-73. Usai sebulan pesta pora dalam pawai, seremoni, kerja bakti, lomba, dan berbagai macam kegiatan lainnya, lantas apa yang dapat kita petik dari itu semua? Apakah kita manusia, hanyalah batang kayu yang hanyut, dan terombang-ambing di tengah derasnya euforia? Tentu tidak! Karena kita semua punya kehendak. Untuk laku, untuk hidup tidak hanya dalam jasmaninya saja, namun juga dalam eksistensi dengan pola pikir dan daya cipta.

Dan, hari ini, tampaknya kita semua punya gaung yang terdengar cukup keras di seluruh penjuru nusantara. Kata “kerja” tampil, dan seakan menjadi mantra suci bagi pembacanya. Tetapi, kembali lagi, apa yang dapat kita cerna darinya? Dari diksi yang luas itu? Apakah kita manusia di Indonesia, adalah yang mekanis dengan rasionalitas logis tanpa refleksi? Apakah kita, adalah manusia Indonesia yang pandangannya hanya tertuju pada bab material, lalu gagal paham atas hal yang sifatnya imaterial? Apakah “kerja” itu sendiri, adalah yang duduk di kantor dengan setelan necis, sementara yang singlet-an, bersama kuas, tinta, dan kanvas di depannya bukanlah “kerja”?

Kita tahu bahwa, beberapa tahun belakangan ini, kita maju, dan masif dalam pengembangan infrastruktur, misalnya, jalan raya. Tetapi, bagaimana kita menempatkan proses kreatif manusia dalam membangun peradabannya? Jika gagal pula, celakalah mereka yang bergelut dengan produk kebudayaan bersama segala macam karakter, dan unsur estetis di dalamnya. Lebih celaka lagi, ketika kita tidak dapat mencari jalan keluar atas konsekuensi yang berasal dari konstelasi politik, dan derasnya arus penyebaran informasi di jagat maya yang menuntun pada situasi pasca kebenaran (post truth).

Tentu, masih segar di ingatan kita bahwa beberapa waktu belakangan ini banyak pihak yang gagap merespon produk kebudayaan. Sebagai sesuatu yang lahir atas proses kreatif, berpikir, hingga kemudian menjadi manifestasi gaya hidup, upacara pembukaan Asian Games 2018 mendapat cibiran karena ada sosok presiden datang dengan peran pengganti (stuntman) sambil mengendarai sepeda motor. Kata mereka, “itu pencitraan”. Maka, lihat! Cibiran yang keluar sifatnya justru lebih politis dan personal, karena kita semua tahu bahwa Presiden Joko Widodo adalah petahana yang kembali tampil di Pilpres tahun depan. Bagi kami, dan terlepas dari kepentingan atau sosok Presiden Joko Widodo maupun lawan politiknya di Pilpres mendatang, cibiran atas upacara pembukaan Asian Games 2018 itu cukup mencederai karya, sekaligus seniman yang telah mencurakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk itu semua.

Derasnya cibiran dari “ibu jari warga siber” yang otonom itu, bukannya mengarah pada, misalnya, sinematografi, koreografi, atau alur cerita, bahkan nilai artistik yang menjadi bagian utuh dalam sebuah karya namun lebih kepada lawan politik: personalnya saja. Kami sadar bahwa sebuah karya sastra melahirkan kritikus sastra, atau misalnya, film melahirkan kritikus film. Tetapi, fenomena itu kami anggap sebagai cedera karena kebanyakan “warga siber yang maha esa” gagal memilah argumennya. Debat kebudayaan telah bergeser menjadi debat politik, dan kebanyakan warga siber lebih senang berpacu dengan fantasi tanpa diimbangi literasi.

Kemudian, menjadi lebih ironi ketika produk kebudayaan itu dimanipulasi. Sekalipun hal tersebut lumrah terjadi di industri kreatif, tetapi menertawakan kemanusiaan itu sungguh tidak elok bagi kami. Beberapa waktu lalu, kami menemukan sebaran konten, dimana dalam konten tersebut isinya parodi upacara pembukaan Asian Games 2018: Stuntmant atau pengendara motor terjatuh, lantas penonton di sekitarnya berlekar dengan tawa. Apa yang lucu dari semua itu? Kami lantas berpikir, apakah konstelasi politik telah merubah cara pandang mereka hingga sedemikian buta? Sampai tragedi, atau kecelakaan yang menimpa seseorang pantas menjadi sebuah guyonan? Di satu sisi kami miris, apalagi beberapa waktu lalu rekan kami ada yang menjadi korban tabrak lari. Namun di sisi lain, kami juga mendapat pelajaran berharga karena dari itu semua kemudian terpacu untuk berusaha melahirkan karya, yang lebih menghargai manusia berikut sisi kemanusiaannya.

Debat nilai estetik dan artistik yang bergeser menjadi debat politik–disertai rendahnya tingkat literasi–itu sungguh membuat kami sumpek. Dalam hal ini, kami bukan hendak menghakimi kualitas diskursus ruang publik. Tetapi, ini merupakan keluh kesah kami atas debat kebudayaan yang seharusnya dapat berjalan secara dialektis tapi malah sedikit mandek. Kami lantas berpikir, apa konsekuensi yang dapat kami, atau pegiat kebudayaan lainnya terima dari semua itu? Bagaimana dengan film Wage yang kami resensi berberapa waktu lalu? Yang darinya kami dapat belajar menyelami drama noir, atau film dengan gaya visual hitam-putih, sekaligus minim pencahayaan yang berakar dari sinematografi ekspresionis, dan banyak diaplikasikan dalam fiksi detektif.

Bagaimana pula dengan Simfoni Untuk Bangsa yang kami kabarkan beberapa waktu lalu? Yang darinya kami menjadi tahu bahwa anak-anak, selain punya hak atas konsumsi lagunya, juga punya begitu banyak pilihan lagu daerah yang mencerminkan latar belakang budaya Indonesia yang beragam. Bagaimana dengan Limpah Ruah di Magelang, atau Black Smith, di Ambarawa? Padahal, darinya lah kami melihat potensi anak muda yang kian hari kian tekun mengasah proses kreatifnya.

Produk kebudayaan dan proses kreatif di dalamnya, bagi kami adalah jati diri. Baca saja Cercap Warita dalam Secangkir Chá, yang dari situ kami juga belajar bahwa setiap budaya punya cerita. Ada juga Belajar Bijak dari Babad Tanah Jawi yang dari situ kami sedikit-banyak menjadi tahu tentang sejarah di tanah Jawa. Kami juga bahagia ketika mendengar kabar sejumlah pegiat seni rupa menginisasi acara melukis masal di Pancuran, Salatiga. Kebahagiaan kian bertambah kala kami menghadiri Bincang Sastra di Hari Merdeka. Hematnya, dari mereka lah kami banyak belajar, dan menjadi tahu bahwa produk kebudayaan itu lebih indah dari yang kami kira.

Tanpa bermaksud hiperbola, dan meromantisir persoalan yang ada. Kami kira sungguh tidak tepat jika dewasa ini produk kebudayaan masih menjadi sub-ordinat, dan tidak didebat sejurus dengan substansinya. Persoalan lainnya adalah paradigma tentang “kerja”, dan agrumen dasar yang sering keluar misalnya, “kalian mau jadi apa kalau kerjaanya cuma menggambar? Kalian mau jadi apa, kalau setiap hari hanya menonton film di depan komputer? Kalian tidak pernah bekerja!”.

“Kerja,” dalam cara pandang demikian, kemudian tampak seperti setan beringas yang siap menerka. Kapan dan dimana saja, “kerja” lantas menjadi sebuah tuntutan yang melelahkan dan menumpulkan nalar, serta menggangu proses kreatif dalam berkarya. Barang tentu, itu pula yang dewasa ini membuat kebanyakan orang putus asa karena menganggap dirinya menganggur atau tidak be-“kerja”. Ia terseret dalam generalisir “kerja” itu sendiri, dan tidak percaya dengan potensi kreatif yang dimilikinya. Padahal, menggambar itu juga sarat akan “kerja” otak, dan imajinasi perupanya. Bahkan, ada perupa yang bercerita tentang laku kehidupan lewat gambarnya. Seorang sutradara juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, untuk duduk dan mengamati setiap segmen film yang hendak jadi rujukannya dalam berkarya. Penulis novel, bahkan menyediakan waktu khusus untuk studi lapangan demi menghidupkan tokoh dalam karyanya. Itu juga “kerja”.

Oleh karena itu, dewasa ini belajar mendudukkan produk kebudayaan layaknya insan berbudaya tentu sungguh baik adanya. Jika konstelasi politik, atau generalisir “kerja”, dan minimya tingkat literasi kemudian menurunkan nilai produk kebudayaan, maka jangan heran kalau pegiatnya kemudian lebih serius ber-”main” ketimbang be-“kerja”. Lagipula, kami pikir selama ini mereka juga tidak pernah menganggap lakunya sebagai “kerja”. Mereka lebih nyaman dikatakan ber-”main” dan ber-“karya”, ketimbang “kerja” dengan siklus yang sedemikian rupa dan mereduksi daya cipta.

Bagai balita yang sibuk dengan pensil warna di depan teras rumahnya, mereka akan selalu bahagia kala memandang goresan tinta di kertas gambarnya. Mereka juga bahagia kala menikmati ledakan imaji yang datang dan berlalu di otaknya, sebelum dieksekusi dalam sebuah karya. Kalau menyitir ucapan Pramoedya Ananta Toer, gairahnya lantas memuncak ketika mereka dapat melahirkan “anak rohaninya”.•

Salam Budaya
Departemen Pemberitaan Aslo Media

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close