Seni dan Budaya

Bicara Sastra di Hari Merdeka

“Saya mengharapkan bahwa apa yang dibaca dalam tulisan saya akan memberikan kekuatan pada pembaca saya, memberikan kekuatan untuk tepat berpihak pada yang benar, pada yang adil, pada yang indah,” kata Pram.

Galih Agus Saputra

Puluhan porsi nasi dan lauk-pauk dibungkus daun jati, lalu disugguhkan di atas tampah. Satu orang datang mencicipi, lainnya ikut menghampiri tapi memesan kopi. Satu orang lagi datang, lalu ke ruang depan mengamati foto Pahlawan Proklamasi dan Perintis Kemerdekaan. Sementara Diane Elizabeth Nuhamara, Jumat malam itu (17/8), sibuk mengatur meja dan tempat duduk.

Diane dipercaya menjadi Koordinator Acara Basa-Basi, di 1915 Koffie Huis. Dan seperti belakangan hari, malam itu Salatiga dingin betul. Meski begitu, mereka yang hadir tetap duduk menanti. Kalau kata Diane, Basa-Basi merupakan wadah diskusi yang baru diadakan sekali. Sementara Sastra Sebagai Kritik Sosial dipilih menjadi tema perdana, karena bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Melalui acara itu pula, Diane berharap peserta yang hadir dapat merefleksikan sastra dalam aktivitas sehari-hari karena baginya, “sastra merupakan media yang bisa digunakan kaum pendidik dan penikmatnya sebagai kritik yang menjadi bagian dari hidupnya”.

Bincang Sastra Sebagai Kritik Sosial sendiri kemudian dipantik empat pembicara. Ada Jessy Ismoyo, Linda Susilowati, Evan Adiananta, dan Christian Situmorang. Senduro, yang digawangi sepasang pelantun nada asal Salatiga itu, juga tampil untuk menghangatkan suasana kala ada jeda di sela acara.

Problem Minat Baca dan Angkatan 45

Seandainya hendak ditulis semua, barang tentu butuh lebih dari lima ribu kata untuk bercerita. Namun demikian, setidaknya ada sejumlah hal yang menarik untuk dicatat dari pembicara. Pertama, dari Jessy, yang saat ini bekerja sebagai dosen Hubungan Internasional, sekaligus mengampu mata kuliah Teknik Penulisan Akademis. Mengatakan bahwa, generasi muda di Indonesia kini sedang mengalami persoalan serius terkait minat baca. “Ini sebenarnya adalah kegelisahan saya bersama Linda, yang selalu bertanya-tanya kenapa anak jaman sekarang tidak mau membaca. Padahal, banyak sekali sastrawan Indonesia yang seharusnya mereka kenal. Nah, dari situ kemudian tambah menarik untuk saat ini karena kita akan bicara soal sastra,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Jessy lantas menyinggung soal bagaimana cara orang dalam membaca karya sastra. Katanya, hal tersebut semula disadarinya ketika mengambil kuliah di jurusan sastra. “Waktu itu, saya mengambil jurusan sastra Perancis. Dan dari situ, saya tahu bahwa membaca sastra tidak hanya dari karyanya saja. Tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar berbagai macam hal lainnya. Ada satu cerita menarik, saat itu, saya sedang membaca karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Saat itu juga, saya bertemu dengan orang yang pernah membaca buku yang sama. Akhirnya, dari situ saya tidak hanya membaca buku, tapi juga belajar konteks di dalamnya bersama orang yang sama-sama membaca Bumi Manusia,” terang Jessy, yang malam itu mendapat giliran pertama menyampaikan materinya.

Dalam konteksnya, apabila sastra disandingkan dengan kritik sosial, maka, kata Linda, salah satu aspek yang tidak kalah penting untuk dilihat dalam sebuah karya sastra adalah sejarahnya. Linda, yang saat ini juga menjadi dosen Psikologi lantas memantik pembicaraan dengan, perkembangan sastra di Indonesia khususnya angkatan 45. “Jadi sastrawan pada masa itu, yang membuat saya jatuh cinta dengan karyanya adalah Chairil Anwar. Pada masa itu juga, Chairil tidak pernah menulis dengan pakem yang ada. Karyanya bebas, bahkan tidak pakai rima. Dia mau ngomong apa saja bebas. Dan di waktu itu juga, pada saat yang sama dia dikritik habis-habisan. Nah, beberapa tahun kemudian, setelah Chairil meninggal, sastrawan-sastrawan lalu mengakui karyanya,” katanya.

Apabila melihat masa itu, lanjut Linda, bentuk kritik sosial sendiri bentuknya bisa bermacam-macam. Di samping melalui karya sastra, ada juga kritik yang disampaikan misalnya lewat lagu. “Sementara Charil sendiri pada waktu itu menyampaikannya melalui puisi. Puisinya berbicara tentang kemerdekaan, dan masyarakat yang saat itu belum sepenuhnya lepas dari penjajahan. Jadi, kalau dulu ada pejuang yang bertempur di medan perang, Chairil itu perangnya lewat tulisan. Jadi, bisa dikatakan juga kalau dalam setiap masa itu, pasti selalu ada karya sastra yang mewakilinya,” kata Linda.

Tentang Bahasa, Wiji Thukul, dan Orang-orang Miskin-nya Rendra

Bincang soal angkatan 45 kemudian ditutup. Kini, giliran Christian membahas W.S. Rendra, sastrawan angkatan 1950-1960-an. Sebelum menyampaikan kritiknya, Christian juga membacakan salah satu karya Rendra, Orang-orang Miskin. Dalam karya itu, kata Christian, Rendra banyak menggunakan disksi yang menjadi simbol kemiskinan. Memang, Christian mengkritik Orang-orang Miskin dalam kacamata strukturalisme diksi dan simbol. Ia juga percaya bahwa karya sastra sangat dekat dengan karakter. “Oleh karena itu, saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah refleksi. Ada gambaran, ada gagasan, ada pengalaman, dan ada amanat yang hendak disampaikan penulis kepada pembacanya,” katanya.

Sementara itu, ada empat hal yang menurut Christian dapat digarisbawahi dalam Orang-orang Miskin. Salah satunya, adalah definisi orang miskin itu sendiri. “Yang menurut Rendra adalah mereka yang tinggal di dalam selokan. Yang kalah dalam perjuangan, dan diledek oleh impian, serta ditambah bagian ujung dari puisi tersebut, yaitu mereka yang berasal dari kemah Ibrahim. Maknanya, bagi Rendra, orang-orang miskin adalah mereka yang merantau tetapi tidak tahu mau berbuat apa, serta tidak mengerti bagaimana situasi di sekitarnya. Ini juga berarti bahwa orang-orang miskin adalah mereka yang mengalami kenyataan pahit setiap hari,” kata Christian.

Sementara Evan, yang dalam skripsinya menganalisis kumpulan puisinya Wiji Thukul, melihat bagaimana latar belakang penulis mempengaruhi penggunaan bahasa dalam sebuah karya sastra. Pada malam itu, Evan melihat Rendra sebagai seorang penyair dari kalangan atas, berbeda penggunaan bahasanya dengan Wiji Thukul yang berasal dari kalangan bawah. “Rendra lebih banyak menggunakan metafora, semiotika, sedangkan Wiji Thukul selama saya menganalisis 23 karyanya, itu hanya sedikit yang menggunakan metafora. Ini mungkin karena dia berasal dari strata bawah sehingga kata-kata yang dia gunakan lugas,” tuturnya.

Evan juga menjelaskan bahwa karya Wiji Thukul lebih banyak mewakili dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah puisi Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu yang dibacakan Evan malam itu. Berikut adalah penggalan puisi tersebut: “Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli. Apa guna baca banyak buku, kalau mulut kau bungkam melulu”.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close