Prakanca

Bicara Tentang Batik, Persatuan, dan Cara Yoga Priatama Melepas Kepenatan

Batik merupakan warisan leluhur yang kaya akan nilai, budaya, filosofi, maupun pengetahuan di dalamnya. Yoga Priatama, seniman asal Salatiga menggunakannya sebagai media untuk melepas kepenatan, sambil menyuarakan persatuan.

Galih Agus Saputra

Yoga Priatama ialah salah satu seniman asal Salatiga. Ia adalah seorang perupa yang kerap menggunakan patung sebagai media berkeseniannya. Siang itu (11/10), Aslo punya kesempatan untuk mewawancarainya, di bengkel seni D-Nyoet Art Work, Salatiga, yang saban hari menjadi tempatnya untuk berkarya.

Yoga Priatama (akrab disapa Tomo) mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang kesenian. Meski demikian, hal tersebut tak pernah menjadi penghambat daya ciptanya, dan kepada Aslo ia lantas berbagi pengalamannya soal karya. Terutama tentang batik, yang juga menjadi media untuk menuangkan ide dan gagasan, di sela-sela kepenatan akan aktivitasnya. Berikut adalah wawancara Aslo dengan Yoga Priatama.

Sejak kapan belajar membatik?

Pertama itu di acara Gairah Tanggal Tua (GTT), sekitar tahun 2012. Waktu itu kita adakan lokakarya, mengajak teman yang bisa membuat batik, dan di situ lah saya kenal batik, kemudian semakin tertarik, hingga belajar terus sampai sekarang.

Lalu, setelah itu bagaimana?

Nah, setelahnya, kalau ada acara di mana-mana, saya juga selalu memperkenalkan batik. Khusus untuk GTT sendiri kan acaranya rutin setiap tiga bulan sekali, dari kampung satu ke kampung lain. Itu juga saya selalu membawa batik, saya buat lokakarya di sana, ada anak-anak, ada ibu-ibu yang ikut belajar saat lokakarya.

Sebelumnya sudah punya pengalaman membatik?

Sama sekali belum ada. Tetapi sekali mencoba kok cocok, ya terus asyik saja membatik. Kalau saya sendiri sebenarnya kan lebih banyak di patung, di komunitas tiga dimensi sama teman-teman. Kemudian, setelah mendapat ilmu membatik itu saya tularkan juga ke mereka hingga akhirnya kita membatik juga.

Sejauh ini, motif batik apa yang pernah dibuat?

Karya pertama saya adalah batik dengan motif yang terinspirasi dari Kalimantan. Ada sosok perempuan dari suku Dayak di motif itu, isinya tentang persatuan, dimana ada begitu banyak tangan yang saling terkait satu sama lain. Itu saya buat sekitar tahun 2015 kalau tidak salah.

Waktu itu kenapa bisa memilih tema persatuan?

Ya tidak ada apa-apa, karena saya senang dengan persatuan saja. Guyub, rukun, yang begitu-begitu yang saya suka.

Kalau motif lainnya ada?

Ada. Ikan. Tapi ini ceritanya sebenarnya juga soal persatuan. Mereka berenang bareng, berimigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Kenapa berimigrasi?

Cari makan. Tetapi sebenarnya, lewat karya itu saya ingin menggambarkan manusia. Di beberapa belahan dunia, kita kadang melihat orang yang jadi imigran karena negaranya sedang perang. Mereka lari, kemudian di perjalanan sering bertemu berbagai macam hal, kadang berdarah-darah, sampai mati. Kalau pun ada yang selamat sampai ke negara lain, kadang juga menghadapi penolakan. Nah, itu lah yang coba saya gambarkan lewat batik dengan motif ikan.

Kalau begitu, judul batik dengan motif tersebut sebenarnya ‘ikan’ atau ‘imigrasi’?

Sebenarnya, sampai saat ini karya itu belum saya kasih judul. Tapi, berhubung saat ini sudah setengah jadi, mungkin nanti kalau sudah benar-benar jadi akan saya beri judul Imigran Terakhir.

Maksudnya, lewat Imigran Terakhir anda ingin mengatakan bahwa seharusnya di dunia ini sudah tidak ada imigran seperti itu lagi?

Iya, semoga berakhir. Kalau saya sendiri sebenarnya resah sekali. Kasihan mereka. Coba saja ya, misalnya, hal itu terjadi pada kita saat ini. Kita tentu tidak akan bisa duduk, tongkrong, sambil mengobrol seperti ini. Tiba-tiba di sini ada bom, di situ bom, di sana bom. Mau bernafas saja susah, harus cari daerah yang kualitas udaranya lebih segar, ke tempat yang lebih aman, bahkan harus menyebrang ke benua lain. Itu pun harus berebut kapal. Ketika sudah dapat kapal, nanti juga belum tentu nyaman. Apalagi kadang ada kapal dengan kapasitas sekian, harus diisi penumpang sekian, hingga akhirnya kapalnya karam. Padahal orang-orang itu kan tidak bersalah. Mereka hanya korban, dan sesama manusia seharusnya layak untuk mendapatkan hidup yang nyaman.

Baik, kalau untuk ikan sendiri, apakah punya maksud atau arti tersendiri dari simbol tersebut?

Sebenarnya tidak. Tetapi, berhubung saya sendiri juga senang pelihara ikan, makanya saya mendapat inspirasi dari ikan itu sendiri. Ikan kan juga berimigrasi, kemudian saya perbandingkan dengan persoalan yang dihadapi manusia dewasa ini. Ya, semacam analogi lah ikan ini.

Lalu, kembali lagi soal lokakarya batik yang sering anda buat tadi. Boleh diceritakan sedikit soal pengalaman yang didapat selama ini?

Kalau kasih lokakarya, yang jelas sih menyenangkan buat saya. Bahkan, saya kadang berangkat sendiri. Saya bawa kardus, isinya ada pewarna, ada alat, canting, dan segala macam, terus naik motor begitu ke tempat tujuan. Nah, yang semakin bikin senang itu peminatnya banyak. Asyik sekali, bahkan sampai kehabisan bahan. Lalu kalau sudah begitu, tiap kain kadang saya potong dengan ukuran kecil, agar kira-kira bisa buat 30 peserta.

Setelah itu, mereka kemudian aktif membatik?

Iya, di tempat yang saya kunjungi kadang ada yang ketagihan membatik begitu. Terus, besoknya saya diundang lagi. Tetapi, sebenarnya kalau sudah begitu itu jadi kendala buat saya, karena saya kan bisanya cuma mengajari mereka membatik. Sementara batik sendiri kan punya peluang untuk industri kreatif. Nah, pengembangan ke arah industri kreatif ini lah yang saya masih kurang pengetahuannya. Tetapi, sedikit lega juga karena sedikit banyak saya bisa mengenalkan batik ke mereka.

Lalu, untuk operasional lokakaryanya sendiri bagaimana?

Ya ada lah pokoknya. Kadang menyisakan sedikit-sedikit uang untuk lokakarya begitu. Banyak teman juga sering patungan. Lalu, kalau misalnya uang patungan untuk lokakarya di sini sisa, besoknya untuk buat lokakarnya di tempat lain lagi begitu. Ya, saya sendiri soalnya sudah nyaman dengan membatik. Ada sensasi tersendiri, dan yang jelas kalau selesai membatik itu pikirannya jadi segar. Karena kan harus teliti, buat motifnya pelan-pelan, ngurutin satu-satu. Segar lah pokoknya sensasinya itu. Semacam melepas kepenatan, jadi lebih fresh begitu.

Redaktur: Aleixo Alberto Cesar

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close