Ekonomi Kreatif

Bukan Sembarang Jeans Bekas

Berangkat dari kecintaan terhadap lingkungan hidup, SUH Upcycleandart merubah barang bekas menjadi berbagai macam perkakas. Misalnya, celana jeans bekas yang mereka sulap mejadi tas.

Alexio Alberto Cesar

Bagi kebanyakan orang, jeans bekas barang kali hanyalah sekedar barang bekas. Tetapi, di tangan Dwyas Ayu Widyowati, jeans bekas bisa jadi barang yang lebih berguna, bahkan memiliki nilai jual, misalnya, tas. Berawal dari kesenangannya beraktivitas di komunitas yang bergerak di bidang konservasi lingkungan hidup, Ayu kemudian merintis usaha kecil-kecilan berlabel SUH Upcycleandart.

Dulunya, di komunitas itu, Ayu sering membuat kerajinan dari barang bekas seperti bungkus minuman, atau botol minyak goreng yang didistribusikan sampai Magelang. Singkat cerita, komunitas itu vakum dan Ayu sedikit bingung, lalu mulai lah ia bergerak untuk membuat barang kerajinan.

SUH aslo.co
Dwyas Ayu Wydowati mengolah jeans bekas menjadi barang bernilai jual, misalnya tas (Foto: Dok. Pribadi Dwyas Ayu Wydowati).

“Saya merasa gak ada kegiatan. Lalu, akhirnya saat main di awul-awul (tempat penjualan baju impor bekas –red), saya melihat ada rok bagus tapi harganya murah. Kemudian saya pulang, dan membuatnya menjadi tas. Respon teman-teman memuji karya buatan saya. Dari situ, beberapa orang mulai memesan produk saya, dan ada yang menyarankan untuk membuat dari jeans. Dari situ juga akhirnya banyak yang pesan dan laku hingga sekarang,” katanya.

Nama suh sendiri dipilih Ayu karena kata tersebut berasal dari Bahasa Jawa yang berarti tali pengingkat sapu lidi. “Ibuku dulu pernah cerita bahwa tidak semua orang dapat membuat suh. Dan pada saat yang sama, banyak nama produk yang singkat dengan tiga huruf. Lalu dipilihlah nama suh agar mudah diingat. Selain itu maknanya juga bagus, sebagai pengikat. Menyapu kalau lidinya cuma satu kan juga tidak bisa,” tutur Ayu, diikuti dengan senyumnya.

Pesan Sesuai Keinginan

SUH Upcycleandart berdiri sejak 2013. Produknya, telah didistribusikan sampai ke luar pulau dan pesanan bisa datang dari Bangka Belitung hingga Papua. “Ada yang pesan tas jeans satuan juga. Kalau tas jinjing (tote bag) peminatnya banyak dari kalangan anak muda. Bulan ini malah ada yang pesan 1.000, diambilnya 25 Juli. Dalam pengerjaan, kalau 50 buah, suami saya yang nyablon dan saya yang menjahit. Tapi kalau sudah 50 ke atas, baru saya cari bantuan,” ucap Ayu dengan semangat.

This slideshow requires JavaScript.

Soal produksi, SUH Upcycleandart juga mempersilakan pelanggannya jika ingin membawa bahan dan desainnya sendiri. “Biasanya ada pemesan yang membawa celana bekasnya sendiri ke sini, lalu bilang maunya seperti apa terus saya buatkan. Saya juga memberikan potongan harga,” tambah Ayu.

Mengenai promosi, SUH Upcycleandart biasa menggunakan media sosial, misalnya, Instagram. Di samping itu, mereka juga menggunakan relasi di kalangan komunitas untuk memperkenalkan produknya. “Biasanya SUH ikut kegiatan perawatan lingkungan. Kami mendukung perawatan lingkungan hidup dan kadang kami mengisi edukasi untuk anak-anak, dengan lokakarya pengolahan limbah, seperti botol bekas menjadi tempat pensil,” jelas Ayu, menutup cerita.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close