Ulasan

Cercap Warita dalam Secangkir Chá

Pernah seorang kawan dari Kamboja bertanya padaku, “apa yang biasa kalian minum saat berbincang, di pagi, atau sore hari? Kujawab, Teh. Lantas dia bertanya lagi, “apa yang kau minum setelah makan?” Dan kembali kujawab, Teh. Dengan muka penasaran, kali ketiga dia bertanya, “lalu apa yang kalian minum saat berpesta?” Dan kali ketiga pula aku menjawab, Teh. Ia pun tak berhenti tertawa, jika bisa kuingat, mungkin lebih lama dari dentingan irama yang kami dengar kala itu.

Sih Natalia Sukmi

Obrolan di bubungan atap itu memecah malam dengan iringan gelak tawa. Kami bertukar lelucon, bersulang bir, sambil belajar satu sama lain tentang bagaimana kami menjalani keseharian di negara asal. Ini mungkin tak hanya menyangkut soal secangkir Teh, namun cara kita menikmati dan bagaimana dia berkelindan dengan kultur dan kelaziman. Itu yang sering tak kita resapi.

Benar rasanya, kalau kita sering tak menyadari bahwa setiap budaya punya cerita dan pelakunya sendiri-sendiri. Unik! Kata yang tepat untuk menolak generalisasi yang tak penting. Kalau begitu mengapa harus disamakan? Mengapa tak dibiarkan saja demikian? Bukankah mengecap Teh itu seirama dengan kebutuhan, suhu, atau bahkan justru suasana hati? Ia punya momennya sendiri.

Teh dan Khasiatnya

Jika membaca evolusi makhluk bernyawa, kita mengerti bahwa setiap spesies yang bertahan hidup mengalami proses adaptasi, migrasi dan bertarung untuk diri dan kelompoknya, selain pilihan untuk melebur dengan berbagai kompromi. Teh juga memiliki sejarah migrasi cukup panjang. Likuid yang dikonsumsi sejak 3000 SM, baik dalam kebiasaan maupun kehidupan sosial itu menyebar ke berbagai wilayah dunia dengan memberi warna, rasa, dan citra yang berbeda, termasuk budaya cara menyeruputnya. Mungkin ia telah menjadi bagian budaya yang hybrid (baca: hibrida). Lantas, apa yang membuatnya bertahan?

Bukan hanya sekedar air, A.B. Sharangi dalam ulasannya Medical and Therapeutic Potentialities of Tea (Camellian sinencis L.) mengungkap bahwa Teh memberi manfaat bagi tubuh seperti fungsi antioksidan, melawan kanker, mengurangi resiko penyakit cardiovascular, penyakit terkait pernafasan, kulit, pencernaan, penyakit hati, mencegah diabetes, mencegah radang sendi, meningkatkan kesehatan mulut, hingga meningkatkan kekebalan tubuh, dan membakar lemak.

Sharangi kemudian menyimpulkan bahwa Teh memang menyenangkan, dan dapat mudah diterima secara sosial maupun ekonomi, karena termasuk minuman yang aman untuk dikonsumsi. Bahkan, Teh berkhasiat sebagai obat, dan kini malah berkembang menjadi industri, serta bahan mentah obat farmasi.

Teh dan Identitas

Tak hanya menyoal khasiat, diskusi tentang Teh menyeruak di ingatan kala seorang kawan dari China yang datang ke Salatiga memesan segelas es Teh untuk melepas rasa hausnya. “Would you like to give me Chá, Mom?I begitu dia memesan minumannya. Sontak, seorang kawan dari Eropa bertanya, “Oh! Why do you mention Chá? You make her confusedII”. Kawan dari China itu kemudian menyahut, yang jika boleh kubahasakan ulang kurang lebih demikian katanya, “mengapa aku harus menggunakan bahasa orang lain untuk menyebut nama minuman, yang kutahu persis berasal dari negaraku, dan kemudian mereka mengadopsi dengan bahasa mereka?”.

Pembicaraan itu selalu terngiang di telingaku. Tak pernah aku berpikir, dia akan menjawab seperti itu. Dia sedang mendudukkan “segelas air berwarna” itu lebih dari yang tampak. Identitas! Iya, setidaknya itulah makna yang bisa kutangkap dari pesannya. Aku hanya terhenyak, bagaimana yang sederhana dan bersifat keseharian itu dapat direfleksikan sebegitu dalam. Ketika orang seringkali lupa tentang segala hal yang benar-benar ia miliki, hanya karena tampak begitu biasa dan wajar-wajar saja. Percakapan itu lantas memantikku untuk mengingat perkataan Kobena Mencer, “identity only becomes an issue when it is in crisis, when something assumed to be fixed, coherent and stable is displaced by the experience of doubt and uncertaintyIII”.

Senandung Chá

“When the skies are looking bad my dear. And your heart’s lost all its hope. After dawn there will be sunshine. And all the dust will go. The skies will clear my darling. I’ll wake up with the one I love the most. And in the morning, I’ll make you up. Some Tea and toastIV,” – Tea & Toast, Lucy Spraggan.

Tak hanya berfungsi secara harfiah maupun falsafah, Teh juga menginspirasi Lucy Spraggan untuk membuat lirik lagu berjudul Tea & Toast. Ia melantun dan menegasi, jika Teh memberinya ketenangan. Bak seteguk es Teh yang melepas dahaga, atau sesruput Teh hangat yang menenangkan, ia telah menghantar kita dalam dialog-dialog mencerahkan. Mengapa kuberkata demikian? Bayangkan saja, mungkinkah kau rasai setiap tetes Chá dalam gusar dan amarahmu? Dengan lembut kupastikan tidak. Ia akan mengalirkan semua komponen kimianya secara maksimal, ketika kau duduk mesra dengan kawan, kerabat, kolega, atau keluarga di hari yang berlangit sephiaV.

Kutahu sekarang, mengapa kawanku lebih senang menyebut Teh dengan kata Chá, atau kawan lain dengan segala eksperimen, menyajikannya dengan sejuta varian rasa. Jika ku tak salah berfrasa, mungkin karena Teh memiliki haknya untuk diseduh, dinikmati, dan diklaim setiap budaya pengagumnya. Mungkin Spraggan menyanding Teh dengan Tea & Toast-nya, tapi aku juga punya cara sendiri untuk menghayati Teh pahitku, melalui senandung Louis Armstrong: What a Wonderful WorldVI! Sah bukan?•

I Baca: Dapatkah anda memberi saya Chá, Ibu?
II Baca: Kenapa kamu menyebutnya Chá? Kamu membuatnya bingung.
III Baca: Identitas hanya menjadi sebuah persoalan ketika dia berada dalam krisis. Ketika sesuatu diasumsikan supaya diperbaiki, koheren, dan stabil tergusur oleh pengalaman atas keraguan dan ketidakpastian.
IV Baca: Ketika langit terlihat buruk, sayang. Dan hatimu kehilangan semua harapan. Setelah fajar menyingsing. Dan semua debu akan pergi. Langit akan terang, sayang. Aku akan bangun dengan sesuatu yang amat kusayangi. Dan di pagi hari, Aku akan membuatkanmu. Teh dan roti panggang.
V Perpaduan warna Coklat dan Abu-abu.
VI Baca: Betapa indahnya dunia.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close