Komunitas

Dari Bermain, Belajar, Sampai Berdikari di Sahabat Tuli

Sahabat Tuli dibentuk atas dasar keinginan untuk mensosialisasikan bahasa isyarat dan menambah kolega. Tidak hanya menyebar ilmu, tapi untuk berkawan baik dengan semua orang, serta menyediakan informasi untuk penyadang difabel terkait pekerjaan, dan berbagai macam hal lainnya.

Wahyu Turi

Pernahkah anda merasa kesulitan untuk berkomunikasi? Atau, pernahkah terlintas di benak anda suatu keinginan untuk dapat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat? Akankah kita terus membatasi diri dengan menggunakan bahasa yang kita mengerti saja, tanpa mempelajari bahasa lain yang dimengerti penyandang tunarungu dan tunawicara? Sederhana saja, kita dapat mengerti mereka jika kita juga mengerti bahasa yang mereka gunakan. Dengan itu pula, kita dapat menunjukkan kepedulian terhadap mereka.

Di Salatiga, terdapat sebuah komunitas yang peduli dengan penyandang tunarungu dan tunawicara. Namanya Sahabat Tuli, sebuah komunitas yang tak hanya beranggotakan penyandang tunarungu dan tunawicara, namun juga orang-orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik. Mungkin, jika pembaca ingin berkomunikasi dengan mereka dan berniat mempelajari bahasa isyarat, Sahabat Tuli sangat terbuka pada siapa saja untuk mengajarkannya. Atau setidaknya, begitulah kata salah satu relawan Sahabat Tuli, Riza Isnaini saat ditemui Aslo, Kamis, (6/9).

Dewasa ini, Sahabat Tuli telah berjalan selama empat tahun. Berawal dari kebiasaan kumpul bersama, hingga akhirnya terbentuklah komunitas tersebut. Riza juga mengatakan bahwa Sahabat Tuli tidak memiliki struktur organisasi. Semua berjalan atas dasar solidaritas dan kepedulian.

“Dulu awalnya ya cuma ngumpul-ngumpul gitu, orang-orang yang tuli sama kami yang tidak tuli. Kemudian kami sepakat dibuat komunitas, bingung juga mau diberi nama apa. Terus salah satu relawan mengusulkan nama Sahabat Tuli dan kami semua setuju,” jelas Riza.

Lebih lanjut, Riza juga mengutarakan bahwa Sahabat Tuli bermakna, orang yang tidak tuli bersahabat atau berteman dekat mereka yang tuli. Wanita yang dalam sehari-hari mengajar di SLB Kota Boyolali itu lantas menceritakan bagaimana masa awal komunitas tersebut berjalan. Katanya, Sahabat Tuli selalu mencari titik kumpul yang ramai di Salatiga. Mereka belajar bersama, dan memperkenalkan Sahabat Tuli kepada masyarakat Salatiga.

Sahabat Tuli
Salah satu relawan Sahabat Tuli sedang mengajari anggota lainnya tentang bagaimana menggunakan bahasa isyarat (Foto: Wahyu Turi).

Cari Sekolah, Kuliah, dan Kerja

Kini, Sahabat Tuli mengadakan kegiatan belajar mengajar di Jalan Nakula Sadewa 1 No. 17, Salatiga. Mereka membuka kelas belajar bahasa isyarat secara rutin tiap Sabtu. Kegiatan yang diadakan seminggu sekali itu, bukan hanya untuk belajar bahasa isyarat, mereka juga bermain bersama dan membuat karyanya masing-masing dengan semangat Do it Yourself (DIY).

“Belajar bahasa isyarat itu bertahap, yang penting seminggu sekali ada belajarnya. Karena kami memikirkan mungkin teman-teman akan bosan belajar bahasa isyarat terus. Jadi kami juga menyelipkan permainan dan membuat sesuatu bersama-sama. Tujuannya juga biar yang tidak memiliki keterbatasan fisik bisa bekerja sama dan berteman dekat dengan mereka,” imbuh Riza.

Riza menambahkan, terbentuknya Sahabat Tuli berangkat dari keinginan untuk mensosialisasikan bahasa isyarat dan menambah kolega. Tidak hanya menyebar ilmu, tapi bisa berkawan baik dengan semua orang, serta menyediakan informasi untuk kaum difabel terkait pekerjaan dan berbagai macam hal lainnya. “Kadang orang difabel susah mencari tempat sekolah, kuliah dan pekerjaan. Dengan ini kita ingin membantu mereka dengan memberikan informasi jika ada universitas, instansi, atau perusahaan yang menerima. Karena kebanyakan orang difabel dikesampingkan dan dipandang sebelah mata,” tutur Riza.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close