Salatiga

Dialog Terorisme dan Radikalisme, Gardapati

Anggakara Management adakan dialog bertajuk Gardapati, di Hotel Laras Asri, Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (7/8). Tampil sebagai pembicara Mantan Narapidana Terorisme, Yusuf Adirima, dan Anggota Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Samsul Huda. Gardapati sengaja diselenggarakan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya terorisme dan radikalisme.

Ketua Anggakara Management, Eka Putri Esterina Rasi mengatakan Gardapati dipilih sebagai tajuk dialog lantaran artinya adalah pengawal berani mati. Oleh karena itu pula ia mendatangkan anggota Polres Salatiga, dan Gegana Jawa Tengah untuk tampil sebagai pembicara. “Kami melihat mereka itu sebagai pasukan pemberani yang rela mati demi tugas. Dan, apalagi, latar belakang yang kami angkat itu terkait fenomena di 2018, yang sejak awal tahun sudah marak terjadi ledakan bom, bahkan sudah terjadi sebanyak enam ledakan di beberapa daerah Indonesia. Nah, kami melihat hal itu penting, makanya kami mengangkat tema ini,” terangnya.

Eka juga mengundang sejumlah pemuda untuk hadir dalam dialognya. Hal tersebut dilakukan atas dasar keyakinan bahwa kawula muda adalah golongan yang paling rentan terserang radikalisme, atau paham lainnya yang selama ini banyak digunakan teroris. Baik melalui media sosial, atau pendekatan lain yang dilakukan secara konvensional. “Ada 11 instansi yang kami undang. Mulai dari karang taruna, hingga komunitas lintas iman, dan komunitas anak muda lainnya,” imbuh Eka.

Huda, dalam dialognya, mengatakan Jawa Tengah adalah kawasan merah. Oleh karena itu, ia dan anggotanya banyak melakukan tindakan persuasif ke masyarakat agar tidak terjangkit paham radikal. “Semua bisa diatasi jika kita berkoordinasi. Seluruh elemen masyarakat saling mengingatkan, dan tetap waspada dengan kondisi di sekitarnya. Kami dari FKPT, tindakan yang diambil adalah sebatas mencegah, sementara yang menanggulangi kami serahkan ke teman-teman dari Densus dan Brimob,” jelasnya.

Yusuf pernah divonis 10 tahun penjara karena terlibat dalam aksi terorisme, yaitu menyembunyikan bahan peledak. Kala mendapat kesempatan bicara, Yusuf berbagi cerita bagaimana awal mula dirinya terlibat dalam jaringan teroris. “Semula berawal ketika saya kuliah. Memang masa kuliah adalah masa yang bebas, kita bisa mengkonsumsi apa saja seperti bahan bacaan, atau video apa pun. Tapi, secara tidak sadar itu juga membentuk kepribadian. Saya lalu punya keinginan untuk mengetahui dunia lebih luas, dan mengalami semua secara langsung di lokasi kejadian. Dari situ, saya lalu diajak guide (baca: pemandu) pergi, mulai dari Poso, Malaysia, hingga Filipina,” jelasnya.

Yusuf mengatakan hidupnya di Filipina sangat lah berat. Ia tinggal di hutan dan pegunungan yang menjadi daerah konflik. Ia bahkan sering mendapat tugas yang berat dalam perang. “Di sana saya makan Daun. Agak mewah sedikit yang paling Kacang Merah dan Ikan Asin, atau bisa dibilang mendapat rezeki saat mendapat Rusa. Di sana lah saya semakin terseret sedikit demi sedikit, termasuk hidup-mati saya. Sekali saja terseret dalam pusaran, sulit sekali untuk keluar,” jelasnya.

Meski demikian, Yusuf kini dapat bangkit. Sejak beberapa tahun terakhir, dan setelah bebas dari penjara, ia merintis usaha kuliner sekaligus membangun rumah tangganya. Ia sudah tidak mau terlibat dalam kejadian serupa, karena menghargai kehidupan saudara kandung, termasuk orang tuanya.•

Pewarta: Galih Agus Saputra
Redaktur: Alexio Alberto Cesar

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close