Kuliner

Dibuai Nikmatnya Bubur Kacang Hijau Buatan Sarwanto

Ini bukan bubur kacang hijau biasa. Ada mutiaranya, candil ketan, dan santan olahan yang terasa hambar tapi juga manis, khas buatan Sarwanto.

Amos Allister

Apa yang kali pertama Kanca Dahar bayangkan jika ditanya tentang Pedagang Kaki Lima (PKL)? Barang kali, beberapa pandangan yang segera terbesit di pikiran adalah kotor, tidak higienis, berbahan dasar tidak aman konsumsi, kumuh, atau berbagai hal negatif lainnya. Tapi, bagi Aslo, PKL itu adalah surganya kuliner Indonesia. Ragam kuliner Indonesia memang memiliki cita rasa yang amat kaya, dan seringkali tidak ditemukan di tempat mewah, melainkan hanya di pinggir jalan dan tampak semarak sekaligus sederhana. Kalau di sejumlah tempat di mancanegara, barang kali adalah street food sebutannya.

Dan kali ini, Aslo punya kesempatan berburu street food di Salatiga. Berdasarkan informasi yang Aslo dapat dari beberapa kolega, ada satu penjaja aneka bubur yang cukup terkenal di samping Pasar Raya II, atau lebih tepatnya berada di deretan los buah pasar itu. Tanpa babibu, Aslo lantas meluncur ke lapak aneka bubur itu, pada Sabtu, (29/09).

Tampaknya, tidak terlalu sulit untuk menemukan lapak aneka bubur itu. Letaknya persis di awal deretan penjual buah, dengan gerobak warna biru yang mentereng dan membuat orang mudah mengetahui keberadaanya. Tetapi, apa yang membuat Aslo yakin lapak itu adalah penjual aneka bubur sebenarnya adalah kerumunan pembelinya. Mereka tampak riuh dalam antrian, agar bisa segera mendapatkan bubur pilihan.

Masyarakat biasa mengenal lapak itu dengan sebutan Aneka Bubur Pak Sarwanto. Melihat antrian yang cukup ramai, Aslo kemudian semakin dilanda penasaran dan tidak sabar untuk segera mencicip bagaimana rasanya. Perlu diketahui juga, bila hendak membeli bubur di sana, Kanca Dahar akan bertemu atau dilayani langsung oleh pembuatnya, Sarwanto.

Kuliner
Lapak Aneka Bubur Pak Sarwanto menjajakan aneka bubur di samping Pasar Raya II, Salatiga, Jawa Tengah (Foto: Amos Allister).

Nikmat Bubur Kacang Hijau Dicampur Mutiara dan Candil

Menu yang Aslo cicip di lapak Aneka Bubur Pak Sarwanto saat itu adalah bubur kacang hijau. Menu ini, sebenarnya bukan menu utama yang dijual di sana. Aslo ingin mencobanya karena pada umumnya bubur kacang hijau adalah salah satu varian bubur yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Di samping itu, menu itu dipilih Aslo lantaran menu lainnya sudah habis. Memang dasarnya sudah nikmat, maka wajar jika Aslo tidak mendapat jatah bubur yang sudah terlanjur diserbu pembeli lainnya. Wah, larisnya.

Bubur kacang hijau yang Aslo santap saat itu sungguh berbeda dengan bubur kacang hijau yang pernah Aslo rasakan sebelumnya. Bukan bubur kacang hijau biasa, karena ada mutiaranya, candil ketan, dan santan olahan yang terasa manis sekaligus nikmat, khas buatan Sarwanto. Mulai dari sini, Kanca Dahar harus mempersiapkan diri untuk membaca ulasan bubur kacang hijau buatan Sarwanto karena rasanya sungguh naknan, enak tenan.

Tekstur kacang hijau yang benar-benar terasa kacang hijaunya itu membuat bubur Sarwanto serasa memanjakan lidah sejak kecapan pertama. Saat kumpulan kacang hijau lembut nan manis lumer di dalam mulut, sensasinya sungguh luar biasa. Apalagi ditambah dengan perpaduan kuah santan yang rasanya cuma hambar saja. Santan buatan Sarwanto memang cukup unik karena ada rasa manisnya juga. Perpaduan kedua rasa itu kemudian membuat bubur Sarwanto menjadi juara dari sekian banyak bubur kacang hijau lainnya.

Selain itu, mutiara yang dibuat dengan bahan dasar sagu, yang di campurkan ke dalam bubur kacang hijau itu sungguh menawarkan sensasi baru. Menikmati bubur kacang hijau dicampur mutiara yang manis begitu nikmat, apalagi ada sensasi kenyalnya saat dikunyah. Campuran terakhir yang ada pada bubur kacang hijau Sarwanto adalah candil ketan. Candil merupakan sebutan untuk makanan yang biasanya ditemukan di Jawa Tengah, sementara di Jawa Barat biasa dikenal dengan sebutan biji salak.

Candil buatan Sarwanto juga berbeda dengan candil pada umumnya. Candil berbentuk bulat seperti mochi, dengan ukuran besar itu tidak membuat cita rasa kacang hijau Sarwanto menjadi hambar. Sebaliknya kelembutan dan kenikmatannya semakin menyempurnakan bubur kacang hijau Sarwanto saat disantap Aslo.

Kuliner
Lapak Aneka Bubur Pak Sarwanto selalu ramai diserbu pembeli karena menggunakan bahan unggulan (Foto: Amos Allister).

Mendatangkan Pelanggan Berbekal Kejujuran dan Keunggulan Bahan

Dibuai nikmatnya bubur kacang hijau buatan Sarwanto, Aslo lantas lupa bila bubur itu merupakan produk PKL (street food). Memang makanan yang nikmat tidak selalu ditemukan di atas meja mewah. Merasakan kenikmatan bubur itu, sontak membuat Aslo semakin penasaran hingga bertanya kepada Sarwanto, apa yang menyebabkan buburnya berbeda dengan yang lain?

Perbedaan yang mendasari bubur buatan Sarwanto dengan bubur lainnya ternyata adalah bahan utama yang digunakan. Sarwanto tidak meramu bahan murahan, dan terbukti dari gula, dan kacang hijau aslinya. Sarwanto tidak menggunakan tambahan apapun, dan ini lah keunggulan yang kemudian diterapkan pula oleh Sarwanto pada semua produk bubur buatannya. Sungguh memukau Aslo kala mendengar Sarwanto menggunakan bahan yang begitu unggul, dan tidak dapat disangkal lagi bila selama ini dagangannya selalu habis. Laris kiwis-kiwis.

Penggunaan bahan unggul itu juga dikarenakan Sarwanto merupakan orang dengan prinsip baik, sekaligus patut diteladani. Kejujuran selalu dijunjungnya, dan oleh karena itu ia selalu menggunakan bahan berkualitas demi kepuasan pelanggan. Sarwanto tidak ingin menggunakan bahan sembarangan yang membahayakan kesehatan pelanggan, dan tidak ingin mencari keuntungan semata. Selain itu, Sarwanto juga percaya bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. “Bagian saya hanyalah bersyukur, dan mantap melangkahkan kaki untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggan,” tuturnya.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close