Resensi Buku

Ditikam Kepastian, Kesendirian

Dostoyevski menolak dunia imajinernya dipasrahkan kepada akal nir-rasa. Penolakan disampaikan melalui kisah sastrawi. Diocehkan oleh seorang manusia bawah tanah yang dipinjam mulut dan tangannya oleh sang penulis. “Tuan-tuan” di atas tanah menjadi pendengarnya.

Satya Adhi

Ocehan-ocehan si manusia bawah tanah terkumpul dalam kertas-kertas terberkati aroma. Diterbitkan pertama kali pada 1864 sebagai respons atas buku What is to be Done karangan Nikolai Gavrilovich Chernyshevskhy yang terbit setahun sebelumnya (Herry S. Sabari, 2008: 24). Chernyshevskhy begitu terpesona pada akal manusia, memandang manusia sebagai makhluk mekanis. Mekanis berarti serba pasti, serba perhitungan, juga dapat diorganisir serta dimanipulasi sesuai keperluan.

Manusia bawah tanah tidak sudi bersepakat. Baginya, segala penemuan oleh ilmu pengetahuan yang menyingkirkan nurani adalah petaka zaman yang bakal terus terjadi. Akal yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyatanya tak mampu membuat dunia lebih baik. Manusia yang mencipta, manusia pula yang menghancurkan.

Maka ia mengoceh kepada tuan-tuan tajir di atas sana. “Kita akui bahwa yang tak putus-putusnya dicari manusia ialah kepastian matematis, ia menyeberangi laut, ia mengorbankan nyawanya dalam usaha ini, tapi aku yakin, ia takut akan berhasil. Takut berhasil menemuinya. Ia merasa bahwa jika ia sampai memperolehnya maka tidak akan ada lagi yang tersisa baginya untuk dicari,” (hal. 44).

Tuan-tuan pembaca yang terlanjur menganggap diri mereka beradab tersentak, terkejut. Bila dua dikali dua sama dengan empat dan semuanya selesai di situ, apa lagi yang perlu dilakukan serta ditanyakan? Alam yang sudah pasti menyeret manusia kepada ketakutan. Hati yang takut tidak mampu mengendalikan akal. Tuan-tuan beradab jadi biadab, mengubah peradaban jadi perbiadaban, supaya semua hal yang sudah selesai bisa dimulai lagi dari awal. Ini gagasan dahsyat yang memunculkan penemuan senjata, bom, mesin-mesin pabrik, sampai teknologi virtual.

“Apa bukan mustahil ia begitu mencintai perusakan dan kekacauan (bahwa ia kadang-kadang mencintainya tidak perlu dipertengkarkan) karena secara naluri ia takut mencapai sasarannya dan menyelesaikan bangunan yang ia kerjakan? (hal. 43). Demikianlah yang sebenarnya.

Bagian pertama Catatan dari Bawah Tanah berisi racauan semacam itu. Manusia bawah tanah Dostoyevski adalah mantan pegawai pemerintahan yang sakit, kesepian, dan meski punya kadar kecerdasan tinggi, ia terasing dari liyan di sekitarnya. Ia menggambarkan diri sebagai seseorang percaya pada ilmu kedokteran, walaupun memilih tidak meninggalkan takhayul-takhayul klasik.

Meski penerbit telah menandai buku dengan kategori “U 15+” di kover belakang, karya Dostoyevski yang satu ini tidak mudah dibaca – bahkan oleh pembaca berusia “matang” yang menyukai sastra sekalipun. Catatan dari Bawah Tanah adalah gagasan. Seutuh-utuhnya gagasan.

Bersua yang Liyan

Kesuraman pekat yang terasa di Catatan dari Bawah Tanah adalah jelmaan masa-masa sepi Dostoyevski di penjara Siberia. Dan seperti sebagian besar penulis dengan karya akbar, kesepian dan kesunyian diri membikin kata-kata mengalir deras melintas zaman (Hemingway depresi sebelum akhirnya menembak kepalanya sendiri dengan shotgun; Kawabata mengunci diri di ruang tertutup dan membiarkan dirinya mati keracunan gas; Orhan Pamuk yang brilian itu bahkan menduda setelah bercerai dengan istrinya).

Keterasingan yang berlapis merekah marah. “Setiap orang punya kenangan yang tidak akan ia ceritakan kepada semua orang kecuali kepada kawan-kawannya sendiri. Ada lagi hal-hal lain yang bahkan pada kawannya sendiri tidak ia ungkapkan, kecuali pada diri sendiri, dan itu pun secara diam-diam. Ada hal-hal yang bahkan pada diri sendiri orang tidak berani beberkan, dan setiap manusia memiliki hal seperti itu, tersimpan dalam pikirannya” (hal. 51).

Sang penulis berusaha melakukan pengusiran rasa sepi di bagian kedua novel. Pengusiran yang dimulai dengan baris-baris puisi Nekrassov, Tentang Salju Basah. Petikan puisinya berbunyi: Kala dari kekhilafan penaklukan gelap / Kata-kata desakan garangku / Merenggutkan sukmamu yang layu hingga bebas, / Dan sambil menggeliat-geliat karena cederamu / Kaukenang kembali dengan kutukan / Kejahatan yang melingkupimu.

Salju basah mengantarkan pembaca ke pertemuan manusia bawah tanah dengan Liza, perempuan di rumah bordil yang bersenjatakan kemudaan. Ketika bersua dan mengoceh bersama Liza, manusia bawah tanah menemukan kembali kepercayaan dirinya. Ia menemukan kembali kemanusiaannya melalui rasa cinta kasih, melalui keterusterangan Liza yang menyebut manusia bawah tanah berbicara seperti buku. Aih! Manusia bawah tanah yang sok berperasaan itu ternyata punya sisi mekanis juga.

Liza menjadikan manusia bawah tanah sebagai “penggubah lagu serta pianis andal” – bukan hanya “tuts piano” yang serba menurut kepada si pianis. Obrolan suram dengan Liza juga nyaris melupakan dia dengan duit yang dipinjamnya dari kawan yang sangat ia benci.

Sayang, manusia bawah tanah tak mampu memberi kuasa pada nuraninya. Lelaki celaka itu tunduk pada akal yang kejam tak keruan. Bukannya memberi cinta kasih, ia justru terjebak pada pemberian materi kepada Liza. Adegan ini sangat patut dikutip penuh. “… jadi aku akan katakan dengan terus terang bahwa kepalannya tadi kubuka dan ke dalam tangannya kumasukkan uang… hanya karena benci.”

“Aku beroleh pikiran ini tatkala aku berjalan bolak-balik dan dia sedang duduk di balik sekat. Satu hal dapat kukatakan dengan pasti, biarpun perbuatan kejam ini kulakukan dengan sengaja, ia tidak lahir dari hatiku, tetapi dari otakku yang jahat. Kekejaman ini begitu dibuat-buat, begitu dilakukan dengan sengaja, begitu merupakan hasil otak, bacaan, sehingga aku tak sanggup mempertahankannya biarpun semenit” (hal. 168).

Perbincangan manusia bawah tanah dengan Liza mengingatkan pembaca pada dialog Raskolnikov dengan Sonia (yang satunya pembunuh, yang satunya perempuan lacur) dalam Kejahatan dan Hukuman. Dialog dahsyat antara dua pendosa yang tengah membacakan kisah Lazarus dalam Injil.

Selain itu, kritik Dostoyevski terhadap ilmu pengetahuan modern Barat juga tampak dalam novelnya yang lain, The Gambler. Sementara sifat destruktif akal yang juga ia tekankan dalam novel ini, tersebut juga dalam The Brother Karamazov, novel terakhir Dostoyevski yang terkenal dengan kutipan mengerikan: jika Tuhan tidak ada, maka segala sesuatu diperbolehkan.

Maka, bolehlah pembaca menyebut Catatan dari Bawah Tanah sebagai sumber dari segala sumber gagasan novel-novel Dostoyevski.

Kini, di abad 21, ketika guliran zaman terasa begitu cepat dan kerusakan akibat akal terus terjadi, Catatan dari Bawah Tanah adalah pengingat manusia-manusia yang bergerak rakus di atas tanah. Pengingat bahwa keserbapastian ilmu pengetahuan modern semakin menyingkirkan asupan batin untuk nurani.

“Untuk kepentingan diriku sendiri aku ingin menanyakan suatu pertanyaan yang sebetulnya tak berguna, mana yang lebih baik – kebahagiaan picisan atau penderitaan yang agung? Ya, mana yang lebih baik?” (hal. 170). Dostoyevski memilih penderitaan yang agung. Kita, tuan-tuan pembaca yang semoga beradab, masih punya waktu buat memilih.•

Catatan dari Bawah TanahDeskripsi Buku:
Judul
:
Catatan dari Bawah Tanah
Penulis:
Fyodor Dostoyevski
Penerjemah:
Asrul Sani
Tahun:
Cetakan kedua, Maret 2018
Tebal:
175 halaman
Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia

Facebook Comments
Tag

Satya Adhi

Pembeli buku diskonan, penonton film gratisan. Meminati sastra, juga kajian media dan jurnalisme. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di pjalankaki.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close