Babad

Dr. Tjipto Mangoenkosoemo, Merdeka atas Sikap dan Perbuatannya

Tanah satu, dan tanah lainnya selalu menjadi tempat pengasingannya. Meski demikian, ia, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang anak yang berasal dari priyayi kelas bawah, tetap gigih menentang kaum kolonial. Yang telah mencekik, dan menggerogoti tanah airnya selama berabad-abad silam.

Rio Hanggar Dhipta

Dr. Tjipto merupakan salah satu sosok yang banyak mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Meski demikian, Pahlawan Nasional yang satu itu, rupanya cukup sulit dilacak asal-muasalnya. Dalam buku Bangkitnya Nasionalisme Indonesia (1989), disebutkan bahwa Tjipto lahir di Pecangakan, Jepara, Jawa Tengah. Menurut buku Tiga Serangkai (1979), desa yang dimaksud itu terletak di daerah Ambarawa, Jawa Tengah. Dalam Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Pembela Rakyat, Perintis Perjuangan, Pahlawan Nasional (1977) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan pula bahwa Tjipto lahir di daerah Jepara. Selain tempat kelahiran, tahun kelahiran Tjipto pun masih menjadi pertanyaan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Tjipto lahir pada 1883, namun ada juga yang menyebutkan Tjipto lahir pada 1884 dan 1886. Bahkan, nisan di makamnya juga tak dituliskan dimana dan kapan Tjipto dilahirkan.

Kabarnya, Tjipto pernah menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia), sekolah pendidikan dokter Hindia-Belanda yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di Stovia, Tjipto dikenal sebagai een begaafd leerling (baca: murid yang berbakat) karena diangap sebagai pribadi yang rajin, jujur dan kritis. Tjipto sering kali bersinggungan dengan beberapa peraturan-peraturan yang ada, yang baginya mencerminkan sikap politik kolonial yang arogan dan melestarikan praktik feodalisme. Dengan semangat anti-feodalismenya, Tjipto lantas menentang peraturan itu melalui harian De Locomotief.

Tulisan Tjipto yang terbit di harian De Locomotief berisi kritik atau pandangan terhadap kondisi masyarakat waktu itu. Tjipto amat tidak suka dengan budaya feodal dan diskriminasi waktu itu, sehingga tulisannya yang sarat akan kritik terhadap feodalisme menghasilkan teguran dan peringatan dari pemerintah Hindia-Belanda.

Belum puas dengan tulisannya, Tjipto lantas menyebarkan pandangan politik, dan kemudian bergabung dengan Boedi Oetomo yang dibentuk pada 1908. Dari situ, Tjipto semakin mengasah pandangan politiknya dan kian berkembang. Namun, di dalam organisasi itu Tjipto sering kali terlibat perselisihan dengan Radjiman Wedyodiningrat dengan alasan berbeda pandangan. Tjipto akhirnya memutuskan untuk keluar dari Boedi Oetomo, sehingga organisasi itu kehilangan salah satu kekuatan progresifnya. Setalah keluar dari Boedi Oetomo, Tjipto memutuskan untuk pergi ke Solo dan membuka praktik kedokteran di sana.

Melepas Bintang Emas

Pada 1910, wabah penyakit pes menjangkit sejumlah wilayah di Malang. Banyak sekali pribumi yang terkena wabah tersebut, namun dokter Eropa enggan untuk ditugaskan ke sana. Memang, pada waktu itu rasisme masih begitu kuat sehingga barang menatap pribumi saja dokter dari Eropa pun enggan.

Beberapa waktu kemudian Tjipto datang ke Malang dan turut memberantas wabah pes di sana. Dalam buku yang ditulis M. Balfas yang berjudul  Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Demokrat Sedjati (1952) dituliskan kegigihan seorang Tjipto dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter. Tak ada masker atau penutup hidung yang melengkapi, namun Tjipto tetap melangkahkan kakinya dengan mantab memasuki pelosok desa untuk membasmi wabah pes.

Pada 1911, karena Tjipto punya andil besar dalam pemberantasan wabah pes di Malang, ia lantas mendapat penghargaan Ridder in de Orde van Oranje Nassau. Penghargaan tersebut merupakan penghargaan tertinggi atas prestasi luar biasa selama menjalankan tugas untuk Hindia-Belanda.

Setelah menerima bintang emas itu, tak lama kemudian Tjipto pergi ke Batavia (sekarang Jakarta) untuk mengembalikan penghargaan tersebut kepada pemerintah Hindia-Belanda. Balfas mengungkapkan bahwa, Tjipto tak sudi menerima penghargaan dari penjajah. Bahkan, Tjipto menempelkan bintang emas itu di pantatnya sebagai bentuk penentangan. Tjipto ingin, apabila ada tentara Hindia-Belanda yang harus hormat pada bintang emas pemberian Ratu Wilhelmina itu, mereka harus hormat kepada pantatnya.

Menulis dan Berujung di Balik Jeruji Besi

Tak ingin berhenti di dunia politik, pada 1912 Tjipto pergi ke Bandung dan membentuk Indische Partij bersama dua sahabatnya, Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara). Pergulatan mereka bertiga kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Untuk melancarkan aksi popagandanya, Indische Patij menyebarkan gagasan politiknya lewat harian De Express. Ketika Belanda memperingati 100 tahun kemerdekaan Perancis pada 1913, harian De Express menerbitkan artikel berjudul Als Ik Een Nederlander Was (baca: Andaikan Saya Seorang Belanda) yang ditulis Soewardi. Artikel tersebut berisi tentang pemboikotan, dan didukung tulisan Tjipto yang dibuat setelahnya.

Pemerintah Hindia-Belanda geram dibuatnya. Pada 18 Agustus 1913, mereka lantas mengeluarkan surat keputusan untuk membuang Tiga Serangkai ke Belanda karena kegiatan anti-kolonialismenya. Setahun setelah dibuang ke tempat asal Ratu Wihelmina, Tjipto dipulangkan atas alasan kesehatan. Namun tak berhenti di situ saja, Tjipto malah membangkitkan Indische Partij dengan nama baru, Insulinde.

Lewat Insulinde, Tjipto membuat surat kabar baru, Penggoegah dan Indische Beweging.  Pemerintah Hindia-Belanda semakin kebakaran jenggot, dan hingga pada November 1915 Tjipto sempat akan dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan tulisannya. Meski demikian, Tjipto akhirnya tidak dituntut karena tak cukup bukti untuk memenjarakannya. Dalam buku Zaman Bergerak (1997), juga disebutkan bahwa Tjipto kerap kali vokal pada Kasunanan Surakata Hadiningrat yang dianggap melestarikan budaya feodalisme.

Pada 1919, Indische Partij kemudian berubah nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Hingga pada 1921, Tjipto ditangkap dan kembali berhadapan dengan meja pengadilan. Tjpto disangkutpautkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena pemikirannya yang keras dan cendorong ke arah radikal. Hingga saat pecahnya perlawanan PKI kepada pemerintah Hindia-Belanda,  Tjipto dianggap ikut mendalangi partai palu arit tersebut hingga pemerintah Hindia-Belanda menjebloskannya ke penjara.

Merdeka atas Pemikiran dan Perbuatan

Pada 1927, Tjipto kemudian dibuang ke Banda Neira, sebuah pulau di Maluku atas keputusan pemerintah Hindia-Belanda. Setelah dibuang di pulau itu, Tjipto dipindahkan ke Bali, kemudian dipindahkan lagi ke Makasar, dan selanjutnya dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat. Hawa dingin di Sukabumi membuat penyakit asma yang diderita Tjipto kian bertambah parah, dan membuatnya dipindahkan lagi ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan medis.

Pada 8 Maret 1943, Tjipto menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta atau lebih tepatnya saat kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda beralih ke tangan Jepang. Tjipto kemudian dimakamkan di Ambarawa, Jawa Tengah. Hingga akhir perjuangannya, Tjipto yang sangat mencintai tanah airnya belum sempat merasakan nuansa kemerdekaan. Meski demikian, Tjipto tetaplah pahlawan yang merdeka walau sering dibawa ke tanah pengasingan. Ia tak sedikitpun menurunkan kualitas kemerdekaan pikiran dan perbuatan demi kemerdekaan bangsa di tanah airnya. Tjipto Mangoenkoesoemo, sampai akhir hayatnya ialah seorang dokter yang merdeka atas akal dan budi demi bangsanya.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close