Tekno

Educa Studio, Produsen Metode Pembelajaran Berbasis Game

Andi Taru dan Ida Wati adalah pasangan yang sama-sama gemar dengan permainan (game). Dari kegemaran itu pula, mereka kemudian membangun sebuah studio untuk memroduksi metode pembelajaran berbasis game.

Wahyu Turi

Dewasa ini, banyak orang yang menyimpan dan menggunakan permainan di gawainya untuk mengusir kebosanan. Permainan digital tidak hanya digemari orang dewasa dan remaja, melainkan juga anak-anak. Anak-anak, yang sekarang populer disebut Generasi Millenial memiliki berbagai macam permainan, termasuk di antaranya yang sarat akan nilai edukasi.

Pasangan asal Salatiga, Andi Taru dan Ida Wati mencoba mencukupi kebutuhan itu. Mereka ingin membantu para orangtua untuk menyediakan aplikasi permainan bernilai edukasi bagi anak-anaknya. Berawal dari kegemaran mereka terhadap permainan (game), lalu lahirlah ide untuk membangun aplikasi game-nya sendiri. Ide itu kemudian terealisasi setelah mereka berdua menikah.

Sejak 2011, Andi dan Ida mendirikan Educa Studio. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan game. Pada tahun yang sama pula, mereka membuat game yang dapat diakses melalui laman daring. Setahun kemudian, mereka lantas membuat game berbasis Android, bernama Marble Huruf, dimana anak-anak dapat berlajar atau mengenal huruf A sampai Z melalui aplikasi tersebut.

Pada 2013, Andi dan Ida juga sempat membuat 10 game yang dapat dimainkan melalui komputer pribadi dengan menggunakan kaset (disc). Namun, game yang Andi produksi melalui kaset itu tidak bertahan lama karena biaya produksi melalui kaset lebih mahal dan lebih susah distribusinya.

Tujuh tahun berlalu, kini Andi dan Ida sudah membuat kurang lebih 300 game. Mereka bekerja bersama tim beranggotakan 11 orang yang kini lebih fokus pada pembuatan aplikasi game untuk gawai. Di samping itu, mereka juga mengelola studio lain bernama Keong Games. Game terbaru yang dibuat Andi melalui studio tersebut adalah Emak-emak Matic yang sasaran pemainnya adalah semua usia.

Belajar Otodidak

Ida yang merupakan lulusan Sistem Informasi, mengaku belajar secara mandiri soal desain untuk kebutuhan game di Educa Studio. Sementara suaminya, Andi, pria lulusan Fakultas Teknologi Informasi (FTI), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) itu juga mengaku tidak belajar dari siapa pun untuk membuat game. “Saya cari tahu sendiri,” katanya, saat ditemui Aslo di Educa Studio, Gendongan, Salatiga, (30/7).

Banyaknya game untuk remaja dan orang dewasa yang tersebar di gawai, turut membuat Andi dan Ida tekad hati menciptakan game khusus anak usia 2-12 tahun. “Ketika membuat game sebenarnya sudah ada aturan (rule)-nya. Tidak boleh ada unsur SARA salah satunya. Dan, dari situ kemudian kami berpikir, bagaimana kalau pendidikan di game-kan saja. Bagaimana kalau game menjadi media buat belajar anak-anak,” terang pria berusia 31 tahun itu.

Dalam mengelola Educa Studio, Andi sudah menerima berbagai macam penghargaan seperti Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) dari Kominfo pada 2013. Lalu, ada juga Intel Rock Star pada 2012, dan Penghargaan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 2016.

Menariknnya, metode pembelajaran berbasis game dari Educa Studio itu, kini sudah diunduh 30 juta pengguna. Pengunduh pun tersebar dari seluruh wilayah di Indonesia, terlebih kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Produk game dari Educa Studio dapat ditengok dan diunduh secara gratis di Google Play dan App Store.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close