Seni dan Budaya

Flying Balloons Puppets, Teater Boneka Buah Lamunan Rangga

Rangga ialah pegiat seni pertunjukan yang menyajikan karyanya dengan teater boneka. Lewat media itu pula, ia ingin mengedukasi penontonnya agar kian peduli dengan alam dan lingkungan di sekitarnya.

Aleixo Alberto Cesar

Flying Balloons Puppets merupakan grup teater boneka yang dibentuk Rangga Dwi Apriadinur, pada Januari 2015. Pentas pertamanya Hadiah Kecil, sebuah lakon yang dibuat Rangga kala mengambil kelas Laboratorium Keaktoran, di Jurusan Teater, ISI Yogyakarta. Sejak saat itu, Flying Balloons Puppets lantas semakin produktif mengadakan pementasan tunggal, sekaligus membetuk kolaborasi dengan seniman lintas disiplin.

Nama Flying Balloons Puppets sendiri dipilih Rangga karena merasa dirinya pelamun akut. Ketika melamun, Rangga, yang kebetulan sebagai Art Director, sering membayangkan dirinya seperti balon. “Bila dilepaskan, maka akan terbang meninggi, dan dengan bebas tertiup angin,” katanya.

Pada 2017, Flying Balloons Puppets sempat terpilih sebagai salah satu penyaji materi di Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia. Kala itu, mereka mementaskan Natuh, dan pada Maret lalu, lakon itu turut diminta Galeri Indonesia Kaya untuk dipentaskan di Jakarta. “Sebenarnya, kami juga pernah pentas hingga Lombok. Tapi kami sering pentas di Jakarta. Untuk tema, kami sering mengangkat tentang lingkungan dan alam,” tutur Rangga.

Kisah Sori dan Lembuna

Ketika tampil di Solo International Performing Art (SIPA) 2018, Flying Balloons Puppets juga mengambil tema lingkungan dan alam. Lakonnya kali ini adalah Sori dan Lembuna, sebuah kisah pertemanan dua makhluk yang berbeda: manusia dan siluman.

Sori ialah seorang gadis yang aktif, dan menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan sungai dari sampah plastik yang bertebaran. Suatu hari, Sori melihat ular yang terperangkap kantung plastik. Sori bingung sekaligus terkejut, dan akhirnya memutuskan untuk membantu ular itu agar kembali bebas bergerak.

Setelah kejadian itu, di satu sisi Sori memiliki pertemanan tidak terduga dengan makhluk yang memiliki tengkorak kerbau di kepala dan wajahnya bersisik. Namanya Lembuna, penjaga sungai itu. Tanpa sepengetahuan Sori pula, di sisi lain ternyata ada makhluk jahat yang berasal dari tumpukan sampah. Mereka ingin menghancurkan tempat tinggal Lembuna.

Teater
Flying Balloons Puppets kembali angkat tema alam dan lingkungan di Solo International Performing Art (SIPA) 2018. Lakonnya kali ini adalah Sori dan Lembuna, sebuah kisah persahabatan antara manusia dan siluman demi menjaga sungai dari ancaman pencemaran sampah plastik (Foto: Alexio Alberto Cesar).

“Cerita ini terinspirasi dari sungai yang berada di Sungai Pemali, Brebes. Dimana sering terjadi korban yang tenggelam dan masyarakat menduga, ada dua makhluk yang bernama Lembudana dan Lembudini. Namun pada karya ini, saya berpihak kepada Lembudana dan Lembudini, karena sungai itu rumah mereka. Disaat hunian mereka diganggu, maka mereka akan berbuat sesuatu untuk menjaga rumahnya,” jelas Rangga saat ditemui Aslo, usai pentasnya di SIPA 2018, yang berlangsung di Benteng Vastenburg, Solo, Jawa Tengah, Kamis, (6/9).

Melalui lakon itu, Rangga ingin mengajak penontonnya untuk tidak membuang sampah sembarangan.”Karena kita tidak pernah tahu, apakah kita telah merusak orang lain saat membuang sampah sembarangan. Pada karya sebelumnya, kami juga sempat membagikan bibit bunga matahari kepada penonton, lalu penonton menanam bibit tersebut. Mungkin hal itu sederhana, tapi disitu pesan yang ingin kami bagikan yaitu untuk terus menjaga alam,” tuturnya.

Bagi Rangga, edukasi dengan konsep pertunjukan sangatlah efektif. Ia juga merasa, jika karya yang ia buat bersama teman-temannya dapat menghasilkan dampak yang lebih baik, maka akan menjadi nilai lebih pula bagi Flying Balloons Puppets.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close