Seni dan Budaya

Folk Music Festival, Sebuah Catatan Perjalanan dan Pertemuan

Awal bulan lalu, aku dan teman-temanku pergi ke Malang, Jawa Timur, atau lebih tepatnya di Batu. Kami datang untuk hajat besar musisi folk di Indonesia, Folk Music Festival 2018. Karena rindu, maka kutulis ulang perjalanan, pertemuan, dan pengalamanku. Kuharap, ini menarik buatmu.

Benedicta Rosaria

Aku dan teman-temanku kebingungan. Ini adalah kali pertama pengalaman kami menonton Folk Music Festival (FMF), di Batu, Malang, Jawa Timur. Mulanya, kami pergi ke sana kemari, untuk mencari tempat penukarkan tiket, dan lokasi acara tersebut. Tapi, ternyata, ada dua orang teman dari kerabatku yang mengetahui dimana lokasi itu. Beruntung lah aku.

Lalu, segera lah aku dan teman-temanku pergi ke halaman utama Kusuma Agrowisata. Ada jalan menuju tanah lapang di sana. Ya, di situlah tempat nya. Setibanya di sana, kami disambut stan penukaran kuitansi pembayaran, dengan tiket berbentuk gelang dari kertas. Kami juga dapat zine yang ukurannya lumayan besar berwarna hitam. Setelah itu, kami berjalan lagi untuk sampai ke lokasi FMF. Tanah lapang itu, sungguh memberi rasa segar dan melegakan. Kali pertama saya menginjakan kaki di sana, suasana yang didapat benar-benar folk (baca: merakyat). Sebelum ke tempat pertunjukan, kami harus melalui pintu pemeriksaan keamanan (security checking) juga. Kami tidak diperbolehkan membawa senjata tajam, likuid yang memabukkan, dan makanan dari luar. Tetapi, untuk minuman, kami diperbolehkan membawa. Dengan syarat, kami harus membawa tempat minum, bukan botol plastik (kemasan air mineral) yang biasa dijual di warung atau toko terdekat.

Pertemuan di hari pertama

Hembusan angin lembah kala itu, serasa melepaskan semua zat endorphin (kebahagiaan) dalam tubuh.  Ditambah lagi, tampilan visual di dua panggung yang sangat megah. Berdiri sejajar, diselimuti nuansa hitam, dan beberapa kain biru bercorak yang dikeringkan mulai berkibar. Saat kami tiba di sana, sudah banyak orang yang duduk di depan panggung. Mereka duduk lesehan, beralaskan rumput dan beratapkan langit yang cerah. Kami pun mencari tempat yang pas untuk menonton. Ini sebenarnya adalah kesalahan pertama kami: tidak membawa alas untuk duduk.

Folk Music Festival 2018
Suasana Folk Music Festival 2018 di hari pertama. Ratusan penonton duduk di depan panggung menjelang senja (Foto: Bryan Perdana).

Komponis, Gardika Gigih yang juga terkenal bersama pianonya, menyambut kami dengan instrumennya. Ia tidak sendiri, tapi ditemani Noerman Rizky bersama Soprano Saxophone-nya. Ada juga Sarita Fraya yang menyanyikan beberapa lagu. Selanjutnya, giliran Adrian Yunan dengan gitar akustiknya, menyanyikan album solo, Sintas. Adrian memang sudah kabur pengelihatannya, tetapi empatinya dibangun begitu kuat dalam album tersebut.

Saat hendak membawakan lagu Mainan, Adrian memanggil Istiqomah (yang juga akrab disapa Pusakata) untuk bernyanyi bersama. Mainan, terinspirasi dari anak Adrian sendiri yang menurutnya, bisa amat sedih ketika melihat mainannya rusak. Dari lagu itu lah, Adrian ingin mengucapkan “maaf” pada anaknya.

Setelahnya, yang ku tunggu-tunggu keluar juga. Tiga penyanyi perempuan yang suaranya meneduhkan, Danilla, Sandrayati Fay, dan Rara Sekar yang tergabung dalam Daramuda Project. Ketiga perempuan Daramuda itu lantas memperkenalkan diri melalui Mars Daramuda. Lagu tersebut bercerita tentang Daramuda, yang meski bukan idola atau panutan remaja di Indonesia, tetapi siap menggebrak skena (baca: kultur dalam sebuah karya). Daramuda juga membawakan lagu karya Jason Ranti, Variasi Pink yang diolah sedemikian rupa, dan tampak menyindir penampilan kebanyakan perempuan jaman sekarang. Lalu, ada Tiga Pagi juga waktu itu. Sayang, vokalisnya, Sigit tidak bisa tampil karena mendapat masalah di tenggorokkannya. Setelahnya, giliran Pusakata, ditemani The Panganans yang membalut semua lagunya dengan alunan Jazz. Itu sebuah pengalaman baru bagiku, dan cukup mengejutkan.

Hari pertama FMF kemudian ditutup dengan penampilan Efek Rumah Kaca (ERK). Kebanyakan penonton lalu berdiri, dan merapat ke depan panggung. Itu, katanya, seperti sudah menjadi tradisi FMF di tiap tahun, yang apabila sudah tiba waktunya penampilan band terakhir harus berdiri. Namun, ada yang tidak kalah mengejutkan pula dari penampilan ERK waktu itu. Mereka dipertemukan kembali dengan mantan bassisnya, Adrian. Mereka lalu bernyanyi bersama, menghibur penonton seperti saat ERK masih dengan formasi lama.

Pertemuan di hari kedua

Hari kedua FMF 2018 berlangsung pada Minggu, (5/8). Jalanan cukup padat, karena saat itu ternyata berbarengan dengan Festival Banteng Nuswantoro, di Batu. Akhirnya, aku dan teman-teman pun terlambat datang ke lokasi FMF. Waktu itu jam tiga sore, dan saat kami tiba di sana, ada Jason Ranti di panggung. Ia menyanyikan lagu dengan lirik yang sedikit menggelitik. Seolah mengajak semua yang hadir tertawa, di atas semua hal yang sering dianggap tabu.

Setelahnya, ada AriReda. Reda, dan tidak perlu ditanyakan lagi, tampil tanpa Ari yang telah purna hidupnya di dunia. Almarhum Ari mempercayakan Reda untuk selalu memperdengarkan karya mereka berdua. Suasana haru begitu terkesan kala itu ,dan ditangkap oleh semuanya. Bergetar lah suara Reda, membuat penonton semakin riuh bernyanyi bersama.

Folk Music Festival 2018
Folk Festival 2018 juga membuka “Market Place”, penonton dapat membeli makanan dan minuman, suvenir, atau buku, dan barang-barang lainnya di sana (Foto: Bryan Perdana).

Monita Tahalea kemudian tampil bersama bandnya. Ia juga ditemani Gitaris, Gerald Situmorang. Lagu yang mereka bawakan membuat suasana menjadi hangat dan ceria. Banyak juga canda Monita yang kadang membuat penonton tertawa. Monita, menurutku, adalah seorang yang dekat dengan Tuhan, sehingga lagu yang dibawakannya punya rasa yang bukan hanya tentang duniawi saja, tetapi berbicara juga soal hubungan manusia dengan Tuhan-nya.

Kemudian, malam mulai menyambut, dan suhu udara semakin turun. Pohon Tua lalu naik ke atas panggung. Pohon Tua merupakan proyek solo-nya Dadang Pranoto, disamping laku seninya bersama Navicula dan Dialog Dini Hari. Ia bercerita, jika dirinya baru saja sampai di Indonesia setelah tur bersama Dialog Dini Hari, di Taiwan. Mungkin, karena kurang istirahat, Dadang, melontarkan sedikit sindiran untuk penontonnya. Meski begitu, Dadang selalu total dalam setiap penampilannya. Salut, untuk Dadang, karena telah membawa musik Indie Indonesia semakin meningkat.

Setelahnya ada Fourtwnty. Lagunya Zona Nyaman, yang menjadi lagu (soundtrack) film Filosofi Kopi itu serasa membuat penonton laid back (baca: santai) di malam yang dingin. Mulai dari lirik, hingga instrument musiknya, seolah mengajak penonton untuk melepaskan beban, sembari berdendang bersama-sama. Kala itu, mungkin suhu udara berada di kisaran 13 derajat Celsius. Tapi, Vokalis Fourtwnty, Ari Lesmana bertelanjang dada, dan membuat euforia semakin membara. Penonton dimintanya untuk berdiri dan bernyanyi bersama. Semakin riuh malam itu.

Usai Fourtwnty, ada Mondo Gascaro. Ia adalah produser Payung Teduh. Terkejut? Sama! Aku juga. Malam itu, Mondo sukses membuat penonton bergoyang, dan menikmati alunan musik 80an. Selanjutnya, giliran White Shoes and The Couple Company yang tampil. Band yang beranggotakan enam orang, dan memiliki ketertarikan pada lagu 1930-1970an itu membuka penampilannya dengan Lembe-lembe, sebuah lagu daerah dari Ambon. Sayangnya, aku dan teman-teman harus memutuskan untuk pulang lebih awal. Kami harus mengejar angkutan umum untuk pulang, sambil membawa pengalaman baru, sekaligus rasa rindu pada acara itu. Sungguh indah kala itu, di Batu.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close