Ulasan

Hidup di Kawasan Gempa, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?

Jangan panik! Segera keluar bangunan! Cari tempat lapang!

Alexio Alberto Cesar

Pada akhir Juli lalu, gempa besar telah membawa duka bagi saudara kita di wilayah Indonesia bagian tengah, atau lebih tepatnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Richter (SR) itu, telah menyebabkan lebih dari 1.000 rumah rusak, dan 16 orang meninggal dunia, serta 160 orang luka-luka. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dewasa ini intensitas gempa yang terjadi di Indonesia memang cukup tinggi.

Setidaknya, dalam sehari saja, pasti selalu terjadi gempa di sejumlah wilayah Indonesia. Pada Senin (20/8) lalu misalnya, telah terjadi gempa dengan magnitudo 5.1, di arah barat daya, 14 Km dari Nias Barat, Sumatra Utara. Lalu, pada Rabu (29/8) juga terjadi gempa di arah barat daya, 112 Km dari Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan magnitudo 5.8. Sementara untuk Lombok sendiri, BMKG telah mencatat bahwa gempa yang terjadi di sana sudah mencapai 1.973 kali dalam satu bulan terakhir.

Indonesia pada dasarnya merupakan salah satu negara di dunia yang biasa diterjang gempa. Hal itu sangat mungkin karena letaknya berada di kawasan Cincin Api (Ring Of Fire) Asia Pasifik, yaitu sebuah wilayah yang cukup tinggi aktifitas seismiknya. Kawasan Cincin Api Pasifik mencakup wilayah sepanjang 40.000 Km, dan terbentang dari barat daya Amerika Selatan, hingga ke sebelah tenggara benua Australia. Hal lain yang menjadi faktornya ialah, Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Kondisi geografis itu membuat Indonesia menjadi wilayah yang sering mendapat letusan gunung berapi, gempa, dan tsunami. Namun rupanya, inilah yang menyebabkan tanah di sebagian besar wilayah di Indonesia menjadi subur dan kaya secara hayati. Karena jalur Cincin Api turut menghasilkan potensi energi panas bumi yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga alternatif. Bahkan BMKG mencatat, dewasa ini Indonesia memiliki 240 gunung berapi, dan 70 diantaranya masih aktif.

Antisipasi Gempa

Tanah yang subur dan energi yang melimpah tentu menjadi berkat tersendiri bagi warga Indonesia. Namun, di sisi lain, bagaimana seharusnya kita dapat mengatasi atau menerima konsekuensi atasnya? Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) telah mencoba mencari solusi untuk menghadapi gempa. Salah satunya melalui pengembangan infrastruktur berbasis teknologi sarang laba-laba.

Direktur Utama PT. Katama Suryabumi, Kris Suyanto sekaligus pemegang hak paten konstruksi sarang laba-laba, pada Desember 2016 lalu mengatakan, teknologi sarang laba-laba dapat digunakan untuk fondasi bangunan, jalan raya, hingga landasan pesawat terbang. Teknologi itu menurutnya sudah teruji, dan keandalannya sudah terlihat ketika gempa terjadi di Aceh, pada 2004, serta Padang, pada 2007 dan 2009.

Ketika bicara teknologi yang ramah gempa, kita sebenarnya juga dapat belajar dari Negeri Sakura, Jepang. Kebanyakan infrastruktur di sana dibangun agar tidak cepat runtuh, atau dapat memberi waktu kepada warganya untuk segera meninggalkan bangunan. Bila hal tersebut tidak memungkinkan, maka warga dianjurkan untuk berlindung di bawah benda yang kokoh. Keselamatan adalah yang utama, dan sangat dianjurkan untuk melupakan semua barang bawaan. Mereka menyadari bahwa sebagian besar penyebab korban jiwa saat terjadi gempa bukanlah gempa itu sendiri, melainkan reruntuhan bangunan yang menimpanya.

Dalam membangun konstruksi bangunan, Jepang membuat infrastruktur yang sederhana dan simestris. Bangunan sederhana di sana, dianggap lebih kuat menahan gempa ketimbang bangunan yang megah namun tidak simetris. Material yang digunakan pun kebanyakan berasal dari bahan yang ringan seperti kayu, baja ringan, atau bata ringan. Jepang juga kerap melakukan sosialisai dan juga simulasi gempa kepada warga, agar tetap tanggap bila terjadi gempa setiap saat.

Sebagai warga Indonesia, dewasa ini sebenarnya kita juga harus sadar bahwa, kita hidup di kawasan Cincin Api yang memungkinkan tejadinya gempa setiap saat. Hal yang perlu kita lakukan adalah memahami bagaimana cara agar dapat menyelamatkan diri. Bila mendengar, atau melihat sosialisasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sekitar kita, segeralah datang ke sana. Pahami dan cermati panduan dari instrukturnya, karena itu semua akan berguna bagi keselamatan kita. Bila hendak membangun tempat hunian, pun jangan lupa untuk diam sejenak dan merenungkan bagaimana situasi, dan kondisi kawasan yang akan menjadi tempat tinggal kita. Ingat, keselamatan adalah yang utama!•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close