SeratUlasan

Hikayat Pohon, Manusia, dan Buaya

Musafir itu berjalan dalam terik matahari yang tak tertahan oleh kulit manusia awam. Fatamorgana membuatnya tak bisa membedakan antara ilusi dan nyata. Pantulan sinar serasa genangan air, entah karena rasa dahaga atau otak yang mulai tak bisa bekerja. Namun, kematian tak usai menjemput saat nyalinya sudah ciut. Dia melihat Ara… Ya benar! Satu pohon itu saja yang bisa membuatnya merasa bahwa hidup masih berpihak padanya.
 

Sih Natalia Sukmi

Pohon adalah simbol kehidupan. Tak heran beberapa orang meyakini bahwa dengan melindunginya sama dengan melindungi nyawa. Lihat! Bagaimana burung, tupai, serangga menggantungkan hidup padanya dan bagaimana orang berteduh melegakan paru-paru, dengan kekayaan oksigen ketika berada di bawahnya. Ia bisa mengayomi, ia menenangkan. Kekuatan itu pula yang membawanya menjadi keterwakilan kepercayaan, budaya, hingga politik. Baca saja legenda, wayang, dan cerita di berbagai kitab maka kita akan menemukannya dengan berbeda istilah, versi, dan rasa.

Penghargaan atas pentingnya pokok kayu tampak dari berbagai upaya manusia untuk memberikan ritual baginya. Tampak beberapa sesaji, upacara dan penghormatan dilakukan untuknya, mungkin bukan murni untuknya tapi tetap, dia sering disepakati sebagai representasi sesuatu yang lebih kuat itu –the Absolut. Filosofi demi filosofi hadir untuk memaknai setiap bagiannya. Mulai dari akar, batang, dahan, bahkan elemen terkecil yang membentuknya.

Pohon dan Kota

Pada 2016, seorang doktor dari Belanda, pegiat ekofeminis datang ke Salatiga. Ia begitu menikmati pemandangan beberapa deret batang kayu besar yang melingkupi jalan. Ia berkata, “saya sangat bersyukur dapat melihat betapa hubungan manusia dan alam masih baik di sini”.

Ingatan pun melayang pada pohon besar di Ta Prohm, Kamboja. Akarnya sangat kokoh, menelanjangi kekuatan bangunan ciptaan manusia. Tampak begitu merdeka dan angkuh untuk menggambarkan bahwa ia juga bagian semesta yang membutuhkan ruang dan raga. Dia butuh diajak bekerja sama.

Doktor itu kemudian meminta untuk mengambil gambar dan menuliskan nama jenis tanaman itu dalam bahasa Indonesia. Supaya kita mengenalnya dengan baik. Katanya, tak kenal maka tak sayang. Itu pula yang dilakukan di Jardin Des Plantes, Perancis. Taman yang penuh dengan pohon tua dan tanaman-tanaman yang bak manusia. Diberi nama sehingga ketika bertemu serasa berkenalan kemudian jatuh hati mengaguminya.

Coba saja sejenak rasakan, jika berhadapan atau berpapasan dengan sang pohon besar. Kita akan melihat bahwa ada tautan rasa yang bisa kita nikmati bukan hanya dengan indera. Itulah pertanda bahwa kita adalah sesama warga semesta. Tengok di sudut-sudut kotamu, apakah kau masih bisa memandang bahasa toleransi alam dan manusia? Atau, kita terlalu sombong untuk menggantinya dengan beton?

Salah satu pemandangan di Ta Prohm, Kamboja (Foto: Sih Natalia Sukmi).

Pohon dan Lingkungan

Hasil penelitian yang termaktub dalam A Handbook of Landscape – A Guide oleh Departemen Pekerjaan Umum Pusat (Central Public Works Department), New Delhi menyatakan bahwa pohon mempunyai sumbangan vital karena memuat nilai bagi lingkungan, ekologi, kesehatan, ekonomi, serta mengurangi biaya untuk pemanasan atau pendinginan suhu, polusi, hingga menambah nilai estetika. Kualitas udara yang bersih dapat dihasilkan dari lingkungan yang memiliki banyak pohon, karena sebuah pohon berusia matang saja mampu menyerap 120-240 pon partikel kecil dan gas seperti karbon dioksida yang membahayakan tubuh.

Secara ekologi, tanaman bisa meningkatkan kondisi tanah. Ia juga membantu mengontrol perubahan temperatur secara ekstrim dan mengurangi polusi pada atmosfir di wilayah urban. Kesehatan warganya pun menjadi lebih baik, karena faktanya vegetasi dan pepohonan berdampak positif untuk suasana hati dan mengurangi tingkat stres.

Pohon dan Antroposentrisme

“I realized that my planning for this journey upriver had given insufficient attention to this important aspect of human life, to my own vulnerability as an edible, animal being*”
 

Kalimat itu muncul dalam penggalan pengalaman Val Plumwood dalam pertarungan hidupnya dengan buaya yang dikisahkan melalui The Eye of Crocodile. Pengalaman itu telah mengubahnya menjadi sosok yang berbeda. Narasi antropologisnya menyiratkan bagaimana nyatanya manusia hanya sekelumit elemen dari rantai siklus kehidupan yang besar. Hanya makhluk yang ringkih-lemah.

Mata buaya yang hendak memakan dan berulang mengoyak tubuhnya berbicara seribu makna tentang kehidupan. Dalam kondisi setengah hidup, setengah mati, masihkah sempat menanyakan ke-manusia-an? Dan, pada waktunya buaya yang perkasa itu juga akan mati dan menyatu bersama humus dan menjadi penyeimbang bagi kehidupan selanjutnya.

Manusia nyatanya hanya sepenggal lirik dalam irama kehidupan yang indah. Ia akan kering jika tidak berpadu dengan instrumen lain untuk menciptakan harmoni yang selaras. Dan, jika kita sadari, semua elemen itu baik manusia, buaya, atau pohon, semuanya akan menjadi satu dan kita menyebutnya semesta. Jadi masih tidak takjubkah kalau bertemu dengan sang pohon?

*Baca: Aku menyadari bahwa rencanaku untuk perjalanan ke hulu telah memberi aspek penting dalam kehidupan manusia, terhadap kerentananku sendiri sebagai makhluk yang dapat dimakan.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close