Cerita Pendek

Hiraeth

Lia meraih bolpoin di dalam kaleng perlengkapan tulis dan menulislah ia dengan tangan gemetaran. Bibirnya yang pucat ia tutupi dengan lipstik merah dan tebal, dan rambutnya yang mulai memutih itu ia cat kembali dengan pewarna rambut hitam. Dengan begitu, pikirnya, tidak akan ada yang tahu bahwa selama ini dia memiliki beban pikiran yang amat besar di kepalanya.

Christian Bonya

Lia mencoba menulis tanggal di atas buku catatannya. Ketika ia memulainya, goresan bolpoinnya menekan terlalu kuat dan kemudian meregang. Ia tidak bisa menulis garis lurus untuk sebentar saja. “Kamu tidak apa-apa?” suara teman sekantor membangunkan dia dari kegelisahan.

“Tidak,” katanya, walau ia menutupinya dengan senyum tipis gincu merah, “Aku tidak apa-apa.”

“Kalau begitu sebentar saja, kau dipanggil manajer.”

Lia menelan ludahnya. Tak sanggup ia berterima kasih pada temannya bahwa ia telah menyampaikan permintaan sang manajer. Lia menutup bolpoinnya dan mengucapkan, “aku segera ke sana.”

Hatinya berdegup kencang. Ia takut dan gelisah. Keringat dingin mengucur di dahinya. Namun, senyum seperti itu menutupinya dengan sempurna. Ketika ia berjalan, para lelaki tidak bisa tidak menatap dirinya yang cantik. Seperti mengungkapkan bahwa kesempurnaan memang ada di dunia ini. Dari kecil ia memang seperti itu. Cantik, manis, dan pintar. Semua orang terpana melihat matanya dan termenung diam ketika dia berbicara seakan-akan bahwa ia berada pada posisi yang lebih tinggi dari mereka semua.

Tapi siapa yang ingin mendekatinya? Ia bukanlah wanita murahan dan penggoda. Lia wanita biasa dari keluarga beradab, yang dulunya ia kenal sebagai rumah. Lia menemukan arti dari rumah di dalam hatinya. Bahwa rumah adalah tempat dia untuk kembali. Namun di mana rumah itu sekarang?

***

Langkahnya tegap dan tegas. Pinggulnya bergoyang mengikuti suara langkahnya. Ia tidak menatap ke samping. Matanya lurus ke depan memandang pintu ruangan sang manajer yang berjarak beberapa langkah darinya.

Dulu ia tak pernah membayangkan langkahnya untuk pergi, dan meraih semua yang dia inginkan akan membawanya menemukan rumah yang ia cari. Bahwa rumah yang ada di hatinya akan menjadi kenyataan yang membahagiakan dirinya. Bahwa semua yang ia cari ada di balik ruangan ini. Bahwa ia adalah seorang wanita yang dikaruniai segala keberuntungan.

Namun, bahwa dirinya yang tak pernah meminta semua keberuntungan ini adalah fakta bahwa ia tak pernah merasa gagal. Semua pertanyaannya berada di balik pintu ini.

Ia mengetuk pintu itu tiga kali lalu masuk sambil mengucapkan, “permisi.”

Sang manajer sedang membuka jendelanya dan menatap bangunan-bangunan tinggi yang menjulang lurus menusuk langit. Lia menyapa sang manajer dengan lembut, “ada yang bisa saya bantu?” katanya.

“Tentu. Bisakah kamu menemaniku siang ini?”

Lia paham betul permintaan sang manajer. Bahwa rumah yang ada di dalam hatinya itu ada di hadapan matanya sendiri. Manajernya itu mendekatinya dan menarik lembut tangannya untuk duduk di atas sofa di dalam ruangannya. Tentu ia adalah seorang pria tampan dengan pesonanya. Bukan terkecuali Lia. Mereka berdua duduk di atas sofa hitam itu dan menatap hangat mata masing-masing dengan penuh harapan.

“Bagaimana jawabanmu?” kata sang manajer.

Ia tidak menjawabnya. Ia terus menatap mata sang manajer dan membelai rambut pria di depannya. Bibir mereka sangat dekat sampai-sampai Lia bisa merasakan hembusan napas sang manajer.

“Apa aku harus menjawabnya sekarang? Apa benar kamu bisa mengabulkan permintaanku?” kata Lia.

“Tentu,” jawabnya tanpa ragu.

“Aku menginginkan tempat bagiku untuk kembali. Namun bukan di dalam hatimu yang sudah dimiliki oleh para wanita yang kau sebut kekasih di dalam ponselmu,” jawab Lia.

***

Lia keluar dari mobilnya dengan diikuti helaan napas yang berat. Dia menutup pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Bukan rumah yang dia inginkan betapapun besarnya rumah yang dia beli. Dia mendapatkan semua itu dari pekerjanya sendiri, bukan hasil dari meminta-minta uang dari para pria yang rela membayar mahal untuk kencan satu malam saja dengan Lia. Walau rumah itu memiliki taman yang tak pernah ia miliki sebelumnya, walau rumah itu memiliki garasi luas yang bisa menampung tiga mobil, walau rumah itu memiliki kolam renang yang tak pernah ia rasakan, tempat itu bukanlah rumah tempatnya untuk kembali.

Saat dia masuk, hanya keheningan yang menyambutnya. Hanya keheningan dan kesunyianlah yang bisa ia sebut sebagai penghiburnya. Rumah itu begitu tenang dan terasa dingin. Dingin karena hatinya yang rindu akan rumah. Kemudian dia melempar tasnya ke atas sofa dan merebahkan diri di atas sofa empuk yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Ia memang anak perempuan manis yang dilahirkan sebagai permata dan hidupnya yang dipoles bagai permata. Namun permata indah itu tidak terjadi begitu saja. Ia harus dipotong, dipoles, dan dikikir untuk menghasilkan apa yang disebut sebagai permata. Itulah hidup Lia.

Dia menutup matanya untuk sebentar saja, pikirnya. Jika ia sudah melepas lelah di tubuhnya itu, ia akan mandi, lalu tidur, lalu bangun keesokan harinya untuk kembali bekerja. Jika alarm pagi berbunyi, ia akan memuji hari baru itu, bahwa hari itu sungguh indah. Jika sudah waktunya bagi dirinya untuk pulang, ia akan mengumpatnya seakan-akan hari itu adalah hari paling buruk yang pernah ia miliki.

Bayang-bayang membisikkan sesuatu ke telinga Lia, “tidurlah.” Dan menarik tangannya yang mungil naik ke atas kepalanya, membawanya kembali ke suatu masa di awal bab kisah hidupnya.

***

Ayah Lia baru kembali dari kampus setelah mengajar. Ia masuk ke dalam rumah dengan pelan, dan melihat istrinya yang sedang berbaring di kursi ruang tamu.

Loh, mana Lia?”

Istrinya berdiri dan melihat suaminya dengan bulir-bulir air mata yang meninggalkan jejak air di pipinya.

“Kenapa, sayang?”

“Lia… ,” dia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya gaguk dan kakinya kaku. Istrinya menutup matanya dan kembali menangis mencurahkan rasa tak berdayanya sebagai istri dan sebagai ibu.

“Ada apa, sayang? Ada apa dengan Lia?” tanya suaminya dengan nada tinggi, penuh kekhawatiran.

Istrinya menunjuk ke arah kamar Lia. Sang ayah melempar tasnya dan berjalan cepat masuk ke kamar Lia, dan ia melihat Lia sedang berbaring di atas kasur hanya memakai baju tanpa celana. Tubuhnya ditutupi oleh sarung tipis yang tak menutup mukanya yang membiru.

“Apa yang terjadi,” kata sang Ayah.

“Percobaan bunuh diri,” jawab istrinya.

Lia tak bisa berbicara walau ia melihat ayahnya menangis dan tak sanggup masuk ke dalam kamarnya yang tak bercahaya. Semua jendela dan semua penerangan dimatikan sehingga hanya ada dirinya sendiri, keheningan, dan kesunyian.

Takut dan sedih. Marah dan menderita. Lia tak berkutik sama sekali. Ayahnya menangis walau ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa ibu angkatnya telah berbohong kepada suaminya sendiri. Bahwa tidak pernah terjadi percobaan bunuh diri oleh dirinya sendiri. Jeratan di lehernya bukan terjadi karena Lia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Ibunya mencoba mengakhiri nyawa Lia seorang.

Sang ibu tak mencintai sang anak. Sang anak kehilangan cinta ibunya.

Sejak awal, Lia tidak pernah menyetujui perkawinan di antara ayah tirinya dan ibu angkatnya. Dia bisa berbicara apa? Darah mereka berdua tak pernah mengalir pada nadinya. Mata dan bibir mereka berdua tak pernah menurun pada dirinya.

Lalu siapakah dirinya pada keluarga itu? Di manakah rumah yang disebut sebagai tempat untuk pulang.

Ayah tirinya itu baik namun ia tak pernah menunjukkan rasa sayangnya pada Lia. Ibu angkatnya tak pernah menyetujui almarhum suaminya untuk mengangkat anak meski dia mandul. Lalu kepada siapa ia harus kembali?

Lia sendiri menatap kamarnya yang gelap. Lalu ia puji hari itu, karena hidup ada di tangannya.

***

Begitu apa adanya Lia di mata keluarganya. Gadis kecil dengan lakon bak putri raja. Tak banyak bicara dan melempar senyum seperti keranjang bunga di atas kuburan.

Berbohong adalah keahliannya dan mencintai adalah harapannya.

Pada suatu hari, Lia berpikir bahwa dia berhasil menjadi gadis yang selama ini diimpikan oleh orang tuanya. Percobaan bunuh diri yang disangkakan ibu angkatnya di masa kecil, menjadikan Lia tumbuh sebagai gadis dengan kesempurnaan yang melekat di dalam namanya.

“Jadilah wanita yang mampu menakhlukan seratus pria,” kata ibunya.

“Hukummu adalah mematuhi suara ibumu,” katanya lagi.

Lia kecil hidup dengan perintah ibunya. A adalah A bagi Lia. Dan hidup adalah hidup ketika Ibunya mengatakannya. Lia tak ayal lebih baik dari manekin. Tidak berbicara dan hanya berdiri untuk dikagumi oleh penonton.

Jika orang bertanya siapa Lia itu, ibunya akan menjawab, “Lia adalah piala bagi mereka yang memberinya hidup”.

***

Wekernya menyala dan membangunkan Lia di pagi yang ia benci. Pagi hari selalu datang menghampirinya namun tak pernah menyambut Lia. Dia menatap angkasa kosong di rumahnya. Sepi seperti hatinya yang tak berisi. Lia mengelus kepalanya yang pusing.

“Mengapa semua ini menyakitkan?”

Mimpi buruknya kembali menghantuinya. Setiap malam ia berdoa agar bisa keluar dari rumah itu. Ketika doanya terkabul dan ia pergi dari rumah itu, tak ada hari sejak hari itu di mana Lia tidak bersyukur.

Lia memulai hidup baru. Hidup yang selama ini ia impikan. Bahwa untuk kehidupan itu ia telah menempuh kesendirian; bahwa untuk mempertahankan hidup barunya itu, ia rela melepas belenggunya dan merobek materai itu dengan tangannya sendiri.

Namun apalah arti kebahagiaan tanpa mampu memaknainya?

Dia baru menyadarinya setelah ia mendapatkan kehidupannya. Lia merasakan kesendirian. Tak ada lagi rumah yang berisik. Tidak ada lagi sang ibu yang selalu membentaknya. Dia kehilangan makna untuk hidup. Dia begitu merindukan rumah yang selama ini ia hidupi. Namun di saat yang sama rumah tersebut menakutkan. Dia ingin pulang, namun takut untuk kembali.

Kepalanya serasa mau meledak. Ia tidak mampu menahan semua itu di dalam kepalanya. Siapa dia selain manusia yang memiliki kekurangan? Lia tahu itu. Dia ingin terbebas dari semua itu. Dia ingin hidup. Dia ingin rumah. Dia ingin kembali pulang. Ketakutannya memaksa dia untuk mencari rumah tempat dia untuk kembali. Namun setiap kali dia membuka mata, yang ada hanyalah kesendirian.

Rumah baginya adalah tempat untuk kembali. Sebuah rumah yang dibangun dengan keluarga. Hal yang tak pernah ia rasakan selama ini. Hatinya seperti permata; dikurung di dalam kotak kaca bernama kesedihan.

Ketika dia kembali sadar, Lia menyadari bahwa dia tidak berada di ruang tamunya.

Dia melihat sebuah dinding putih dengan satu-satunya pigura dengan bingkai hitam mengelilinginya.

Lia berjalan mendekat dengan keraguan. Satu-satunya pigura yang menatap dirinya. Dia mengenali siapa orang di dalam bingkai itu.

“Kamu?”

Lia kecil berumur 10 tahun menatap Lia yang berumur 27 tahun dengan muka tersenyum. Lia berjalan lebih cepat dan menyadari bahwa Lia yang berumur 10 tahun memanggilnya.

“Kemari”.

“Aku ke sana, sayang. Aku ke sana. Tunggu aku!” teriak Lia. Sebelum dia menyadari bahwa ia tidak bisa bersuara. Suaranya hilang. Dia mencoba berbicara beberapa kali namun ia tidak bisa berbicara.

“Kenapa?” tanyanya.

Lia kecil berumur 10 tahun memanggilnya kembali. “Kemari.”

Lia berumur 27 tahun menatap gadis kecil di dalam pigura dan kemudian dia menangis. Ia menangis bahagia. Ia begitu merindukan dirinya yang sudah lama ia tinggalkan itu.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Lia kecil.

Lia tidak bisa menjawab. Ia tidak bisa bersuara. Dia menganga, mencoba untuk mengeluarkan semua suara yang bisa diungkapkan. Kerinduannya tak bisa ia bendung. Dia merunduk jatuh di tanah.

“Kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu, Lia, kata hatinya tak tahan menahan kebahagiannya.

“Lia, sayang, kenapa kamu menangis? Mengapa kamu selalu bersedih?” tanya Lia kecil.

“Aku ingin pulang”.

“Pulang? Kenapa kamu ingin pulang?”

Lia tidak bisa menjawab. Ia terhentak. Hatinya serasa tertusuk. Ia baru menyadarinya. “Mengapa aku ingin pulang? Sudah jelas, kan? Aku begitu sendirian. Aku ingin merasakan rumah lagi. Aku merindukan rumah namun aku takut untuk kembali”.

“Lia, kenapa kamu harus mencari tempat untuk pulang?”

Lia tidak mengerti kenapa Lia kecil mengatakan itu. Tentu ia ingin mencari rumahnya. Dia meninggalkan semuanya dahulu, “Aku meninggalkan rumahku; tempat untuk kembali”.

“Lia, sayang, kamu adalah wanita yang baik. Mengapa kamu membohongi dirimu sendiri? Mengapa kamu ingin pulang, sementara kamu sudah tahu tempat kamu akan pulang? Mengapa kamu harus mencari rumah ketika kamu sendiri sudah menemukannya?”

***

Lia membuka mata untuk kedua kalinya. Kini ia sadar bahwa ia ada di ruang tamunya lagi. Mimpi apakah itu? Mengapa semuanya terlihat nyata?

“Lia, di mana Lia?”

Lia mencari Lia kecil di semua tempat. Ia mencari namun tak menemukannya. Semua yang dia rasakan serasa seperti mimpi. Mengapa Lia kecil meninggalkannya? Ia sama sekali tidak mengerti.

Dia sudah tahu tempat untuk pulang, namun ia tidak menyadarinya?

“Tidak mungkin!” kata Lia.

Rasio mengalahkan hatinya. Dia menyimpulkan bahwa ia sudah berhalusinasi pagi ini. Rasionya jauh lebih kuat dari semua yang ada. Bahwa logikanya mengalahkan halusinasi. Lia memulai pagi itu dengan bersiap-siap untuk kembali bekerja.

Semua bekerja layaknya sebuah skenario. Lia hidup seperti sebuah cerita karangan seseorang. Pikirnya, takdir sudah menemukan jalan baginya, dan oleh karenanya sebagai manusia ia tinggal mengikuti kemana takdir membawanya.

Perlahan dan perlahan Lia kecil meninggalkan Lia di dalam rasio dan sendirian. Lia terus menghidupi separuh abad hidupnya mencari rumah tempat untuk kembali. Ia terus mencari dan mencari. Dia mencari keluarga. Dia membuat keluarga dengan seorang pria. Lia yang telah dewasa berpikir bahwa ia tidak membuat kesalahan. Ia berpikir bahwa ia telah menemukan rumah.

Lia yang menghabiskan hidupnya mencari rumah untuk kembali kini diusir oleh sang empunya rumah. Keluarga yang ia inginkan tak pernah terwujud. Sang pria yang ia pikir ia cintai meninggalkannya. Di matanya, Lia adalah wanita yang membosankan.

Bukankah Lia kecil sudah memberitahukannya? Bahwa rumah tempat ia untuk kembali adalah hatinya sendiri. Mengapa ia mencari rumah di hati lain sementara hatinya sendiri selalu memberikannya rumah untuk kembali? Hatinya selalu memberikan penghiburan, namun ia tak menyadarinya. Ketika ia menyadari bahwa ia tak memerlukan semua itu untuk menemukan rumah, semua sudah terlambat.

Rumah yang ia rindukan kini menjadi sekedar sebuah keinginan. Harapan untuk kembali, kini berubah menjadi kekecewaan. Lia mengecewakan dirinya sendiri, yang ia ketahui kini hanyalah, bahwa ia merindukan hati tempat baginya untuk kembali.

***

Lia menatap halaman rumahnya dan orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah. Ia menatap gerombolan pemuda dan pemudi berjalan beriringan pada sore hari. “Hendak pulang mungkin,” pikirnya.

Seorang tua berjalan dengan membawa tas punggung. Hendak kemanakah dia selain kembali pulang? Seorang pria paruh baya membawa tas koper berjalan di depan rumahnya dengan suara nyaring ia berkata, “aku akan pulang ke rumah”.

Setiap hari Lia menghabiskan banyak waktunya untuk menatap orang lalu lalang di depan rumah. Beberapa menatapnya heran, dan mengapa orang tua itu suka memperhatikan. Tidak ada yang paham apa yang diinginkan oleh Lia. Juga tidak ada yang berniat untuk sekadar mampir untuk mengucapkan “halo,” atau “selamat siang”. Ia hanya duduk di situ dan merenung sendirian.

Di mana waktu yang selama ini ia kejar? Ke mana kesempatan yang selama ini dia cari? Di mana kah semua itu ketika ia membutuhkannya? Apakah ia kurang berharap? Lia seorang perempuan tua hari ini. Dahulu dia memiliki tenaga untuk berjalan ke sana dan kemari dengan kakinya sendiri, sendirian. Namun ketika ia sudah tua, tidak ada lagi kesempatan untuk berjalan keluar bahkan dengan tenaga sendiri. Tak lagi kakinya kuat untuk membawa tubuhnya yang renta itu untuk melihat dunia. Dunia bergerak sangat cepat. Terlampau cepat untuk dirinya yang selalu terikat dengan masa lalu. Impiannya untuk mencari rumah “untuk kembali” malah mengurungnya ke dalam jurang kesepian. Ia terjatuh terlalu dalam dan tepat di atas bebatuan keras, dan menghamburkan hatinya yang hancur berkeping-keping.

Dia mencari makna, apakah arti dari semua itu? Selama ini dia menghabiskan waktu sendirian dan bertanya, “apa arti semua ini?” Namun tak pernah ia tahu jawabnya. Yang ia temukan hanyalah keadaan bahwa dia sendirian. Tanpa tempat untuk kembali.•

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close