Babad
Trending

Historia Salatiga

Sepagi itu, Abimanyu, kucingku, sudah berisik betul. Dia mondar-mandir di dekat kasurku, sambil ngomel-ngomel. Oh, mungkin dia lapar, batinku. Dan ternyata betul, mangkuknya kuisi dua sendok makanan kering, dan sebentar saja sudah amblas. Lapar betul kamu, Bi? Sori, semalam aku baca buku bekal liputan, dan sekarang aku bangun kesiangan.

Galih Agus Saputra

Rasa kantuk masih belum beranjak. Sementara, Satpam di depan kampus sudah sibuk dengan mahasiswa, yang datang berbondong-bondong dari seberang jalan. Ada juga yang jalan berduaan, bergandengan tangan. Mungkin mereka pacaran? Aku tidak tahu. Ragaku lebih terasang dengan semilir angin di Toentangscheweg.

Eddy Supangkat, yang di lain waktu sempat cerita padaku berkata, dulunya sepanjang Toentangscheweg itu banyak ditanami pohon Kenari dan tumbuh besar. Bahkan, semisal ada anak yang pulang sekolah, mereka bisa mengambil buah yang jatuh, kemudian menggempurnya dengan batu, lantas isinya dimakan sambil jalan. Tapi, pagi itu (25/7), aku tidak melihat satupun buah Kenari yang jatuh.

Toentangscheweg dan pohon Kenari kini sudah asing. Aku sudah tidak bisa mengecap isi buah yang jatuh dari pohon itu, dan mungkin juga akan kesasar jika bertanya soal Toentangscheweg ke sembarang orang. Toentangscheweg kini sudah berubah nama menjadi Jalan Diponegoro. Dulu diberi nama seperti itu karena orang Belanda yang tinggal di Salatiga, lebih mudah menyebutnya jalan menuju Tuntang: Toentangscheweg.

Lalu, soal pohon Kenari, dulunya juga memang sengaja ditanami orang Belanda agar Salatiga lebih teduh–sekalipun mulanya sudah teduh. Aku tahu semua itu dari Galeria Salatiga karya Eddy Supangkat yang kubaca malam sebelumnya.

Ada semacam stimulus yang merambat ke otakku ketika membaca Galeria Salatiga. Aku ingin menyusuri setiap bagian yang terdokumentasi di dalamnya, dan imajiku berkata: barang kali aku bisa mengenal Salatiga Kota Lama–begitulah kira-kira aku menyebutnya–, dan melihat riuh orang di dalamnya. Aku juga bisa mengamati arsitektur, atau jika banyak uang setiba di sana, aku bisa habiskan waktu seharian untuk menyusuri seluruh penjuru Salatiga, dengan menyewa dokar beserta kusirnya.

Namun, sekali lagi, itu hanya imajinasiku belaka. Aku bukan siswa dari asrama Hogwarts yang dapat menembus dinding peron stasiun. Apalagi menceburkan diri ke dalam lembaran kertas yang memuat ribuan kata, dan cerita tentang masa lampau sebuah kota: tidak mungkin.

Lantas, setiba di depan kampus itu, adalah keputusan terakhirku untuk menyusuri kota Salatiga–lantaran tidak mungkin aku mencebur ke dalam Salatiga Kota Lama. Dan, sekarang aku sudah membawa catatan sejumlah lokasi yang aku tandai dari Galeria Salatiga. Ini semacam rute perjalanan nostalgia.

Jalan Menuju Pusat Kota

Toentangscheweg, beserta Pohon Kenari adalah kunjungan pertama. Setelah itu, aku berjalan menuju Institut Roncali. Selama perjalanan itu pula, rasanya suara Eddy kembali terngiang di kepala. Mirip sebuah keburuntungan, dan suaranya bagai bisikan pemandu wisata perjalanan nostalgiaku di Salatiga.

Suara Eddy kemudian terngiang lebih jelas ketika ku tiba di depan Institut Roncali. Katanya, tempat itu dahulunya semacam istana yang dibangun Djoen Eng, seorang eskportir, sekaligus importir besar di Hindia-Belanda. Tapi, berhubung kala itu terjadi krisis besar-besaran maka Djoen bangkrut, dan istananya disita Javasche Bank.

Lelang yang digelar Javasche Bank akhirnya membuat istana Djoen menjadi milik gereja katolik pada 1940. “Kalau kamu masuk ke dalamnya, kamu akan melihat peninggalan yang cukup menarik, mulai dari lantai kemudian atapnya itu arsitekturnya juga cukup baik. Tapi yang disayangkan, kubah di atasnya itu sudah hilang,” kata Eddy.

Institut Roncali juga sempat diakusisi tentara Jepang ketika masuk ke Salatiga. Belanda kemudian mengambil alih lagi pada 1946, dan pada 1949, tempat itu sepenuhnya dipakai oleh Bruderan FIC. Sebuah peninggalan yang cukup menarik pikirku.

Namun, sebelum melanjutkan perjalanan, suara Eddy Supangkat kembali terngiang. Katanya, sejak dahulu, Salatiga memang menjadi kota yang banyak didatangi orang Eropa. Bahkan, orang Belanda menyebut Salatiga sebagai de schoonste stad van midden Java (baca: Kota Terindah di Jawa Tengah).

Pusat Kota

Perjalanan kemudian berlanjut ke pusat kota. Sambil berjalan, aku membayangkan Galeria Salatiga yang kubaca dan berpikir, barangkali pusat kota itu dahulu mirip kompleks Monumen Nasional (Monas), atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), di Jakarta. Betapa tidak, di sekitaran Bundaran Tugu itu berdiri sejumlah obyek yang tidak hanya vital, tapi juga mewah. Ada Hotel Blommestein yang sempat menjadi markas tentara, Hotel Berg en Dal di Buksuling, dan ada juga Hotel Kalitaman yang kini menjadi Bank Jateng.

Dari sekian banyak bangunan itu, aku tidak dapat menemukan lokasi Hotel Berg en Dal. Kubaca dari Galeria Salatiga, hotel itu adalah yang paling tidak beruntung nasibnya. Ketika Jepang masuk Salatiga, mereka mendudukinya dan pagar besi hotel itu dipereteli–mungkin untuk buat senjata. Kondisinya semakin tidak karuan ketika terjadi aksi polisi Belanda yang terkenal disebut clash pertama.

Pada 22 Juli 1947, pejuang Indonesia juga mengetahui bahwa pejabat Residen Semarang hendak mengungsi ke Salatiga, karena diserbu Netherlands Indische Civil Administration (NICA). Ketika para pengungsi sudah sampai Tuntang, para pejuang kemudian melakukan aksi penghacuran sejumlah obyek vital yang terkenal dengan Bumi Hangus, agar mereka tidak dapat tinggal di Salatiga. Situasi semasa itu akhirnya menuntun tamatnya riwayat Hotel Ber en Dal.

Meski demikian, kondisi atau tata kota Salatiga masih tetap terjaga. Ini, kata Eddy, karena sejak dahulu planologi Kota Salatiga disusun sesuai dengan gaya eropa. “Mulai dari jalan, jalur pedestrian, penghijauan, taman-tamannya, bahkan pengairan, hingga tempat pemakaman, semuanya bagus. Fasilitasnya, semasa itu, rasanya juga cukup komplit. Ada air ledeng, listrik, telepon, transportasinya juga maju. Ini juga karena lokasi Salatiga sangat strategis dan dikepung oleh perkebunan. Jadi kalau akhir pekan mereka dari perkebunan pulang ke sini,” imbuhnya.

Kota Tertua Nomor Dua

Hari semakin panas, dan waktu digawaiku sudah menunjukan jam setengah dua. Selesai berkunjung ke pusat kota, perjalanan lantas kulanjutkan menuju Alun-alun Pancasila. Aku istirahat sebentar di sana, dan minum es kelapa muda yang segarnya tak terkira.

Sambil memegang gelas, pandanganku lantas tertuju pada gerbang Polres Salatiga. Sejenak, pandangan kemudian kualihkan ke bangunan yang terletak jauh di sebrangnya, Gedung Pakuwon.

Eddy juga punya cerita soal itu semua. Kala aku mencoba menyerap kisah dari ceritanya, aku berpikir dahulu pernah terjadi pertarungan kekuasan antara penduduk Salatiga dan pendatang dari Belanda. Secara simbolis, penduduk Salatiga memiliki Alun-alun Kepatihan, beserta Rumah Dinas sang Patih yang sekarang menjadi kantor Polres Salatiga. Sementara itu, pendatang dari Belanda tidak ingin tinggal di sana lantas membangun Bundaran Tugu. Letaknya di depan Rumah Asisten Residen Hindia-Belanda untuk Salatiga, yang sekarang digunakan sebagai Rumah Dinas Walikota.

Pertarungan kekuasaan itu sebenarnya juga dapat dilacak dari beberapa hal. Pertama, soal umur, dan ini masih kata Eddy, dahulu pemerintah Hindia-Belanda menyebut Kota Salatiga lahir, pada 25 Juni 1917. Itu juga berhubungan dengan status Kota Salatiga yang mereka tetapkan sebagai gemeente (baca: kotapraja atau kotamadya). Namun, penduduk Salatiga punya identitasnya sendiri. Mereka menganggap umur Kota Salatiga lebih tua dan sudah mencapai 1268 tahun. Umur itu diukur dari Prasasti Plumpungan yang sudah ada sejak 750, “pada saat Hindia-Belanda, Prasasti Plumpungan memang tidak kopen (baca: terurus). Terabaikan begitu saja,” imbuh Eddy.

Soal kepemimpinan Salatiga di masa lampau, kata Eddy, pemerintah Hindia-Belanda juga tidak suka jika dipimpin oleh seorang Patih. Oleh karena itu, dahulu sempat terjadi dualisme kepemimpinan dimana Salatiga dipimpin seorang Patih yang dipercaya penduduk Salatiga, dan seorang Walikota yang dipilih orang Belanda.

“Transisi itu berjalan selama satu tahun. Tapi pada 1918, semuanya berubah total dan Salatiga dipimpin oleh seorang Walikota dari Belanda. Satu hal yang menarik kala itu, Salatiga menjadi gemeente terkecil di Hindia-Belanda karena luasnya hanya 12 Km2. Gemeente Salatiga hanya terdiri dari satu kecamatan, lalu kalau ada rapat berarti ya cuma tatap muka antara Pak Camat dan Pak Walikota saja,” tuturnya.

Di sisi lain, Prasasti Plumpungan menjadi identitas dan kebanggaan tersendiri bagi penduduk Salatiga. Di samping itu, oleh karenanya lah Salatiga kini menjadi kota tertua nomor dua di Indonesia setelah Palembang. Dengan umur setua itu, tentu banyak dinamika, fenomena, atau peristiwa yang telah dilaluinya. Dan, Gedung Pakuwon adalah salah satu contoh saksi bisu atas sebuah peristiwa penting yang disebut Perjanjian Salatiga. Berdasarkan perjanjian yang ditandatangai pada 17 Maret 1757 itu, Surakarta kemudian dibagi menjadi dua wilayah di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran.

Setelah istirahat dan jalan keliling Alun-alun Salatiga, tanpa sadar jam di gawaiku sudah menunjukan pukul tiga. Aku pikir, perjalanan nostalgia di Salatiga ini sudah cukup, walau masih banyak tempat belum kucakup. Aku lantas pulang, dan tebakan ku sepertinya sering benar. Abimanyu kembali menyambutku dengan omelannya, entah karena kutinggal selama perjalanan atau mungkin karena kelaparan. Tapi, tunggu, sepertinya memang benar karena kelaparan. Maka kuisi lagi mangkuk itu dengan dua sendok makanan, lalu kutinggal membaca catatan perjalanan. Sekarang, aku mulai menulis hasil liputan, dan di sebelahku ada Abimanyu yang sibuk makan.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close