Film

Jika Tevye Orang Kaya, Yubidubidam

Tevye, ialah tokoh utama dalam Fiddler on the Roof, sebuah film yang diadaptasi dari naskah pertunjukan drama musikal. Banyak cerita menarik, sensasional, lucu, bahkan kadang menjengkelkan di dalamnya, termasuk bab cinta, tradisi, dan perjuangan.

Galih Agus Saputra

Apabila penggemar pertunjukan drama musikal ala Broadway ditanya, film apa yang mereka suka? Barang tentu salah satu jawaban yang muncul adalah Fiddler on the Roof (1971). Barang tentu pula, itu juga wajar karena Fiddler on the Roof adalah film yang diadaptasi berdasarkan naskah pertunjukan drama musikal yang cukup populer dalam sejarah dengan judul yang sama.

Meski demikian, jauh sebelumnya, naskah pertunjukan drama itu sebenarnya juga diadaptasi dari buku karya Joseph Stein berjudul Fiddler on the Roof (1964). Alur cerita Fiddler sendiri sebagaimana perlu diketahui penikmat film di dunia ini, melibatkan petani Yahudi tua yang bijaksana dan baik, yaitu Tevye.

Tevye tinggal di sebuah peternakan bersama sang istri, Golde dan lima anaknya, dimana tiga di antaranya berada pada usia siap nikah. Selain bertani, Tevye juga seorang pengantar susu yang menceritakan adat istiadat di kota kecil Rusia, Anatevka. Saat itu tahun 1905, dan kehidupan di sana sedang genting-gentingnya. Meski demikian, melalui tradisi, penduduk desa tetap bertahan.

Selama jalannya cerita, empat hal besar terjadi: tiga putri Tevye menikah, dan orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka dengan pogrom–istilah yang kerap dipakai untuk menyebut pengusiran atau pembunuhan besar-besaran terhadap bangsa Yahudi.

Cinta dan Tradisi

Pada awal cerita, Fiddler on the Roof dimulai dengan adegan dimana Tevye menyanyikan himne tradisi, dan kemudian tiga anak perempuannya melanjutkan hidup dengan jalan yang jauh berseberangan dengan tradisinya. Alih-alih menunggu makcomblang mencarikan jodoh–sebagaimana biasa dilakukan oleh keluarga Yahudi–, putri yang pertama menikahi penjahit miskin. Yang kedua menikahi seorang pemuda progresif dan revolusioner, sementara yang ketiga–sebagaimana dianggap tabu dalam tradisi Yahudi–menikahi goy (sebutan kaum Yahudi untuk orang non-Yahudi).

Semua itu berlangsung lama. Dalam setiap adegan film berdurasi tiga jam itu, penonton diajak bertemu semua menantu laki-laki, dan entah bagaimana penonton akan menangkap semua mata penuh cinta. Bahwa tidak mungkin pasangan itu, anak-anaknya Tevye dapat dipisahkan dari laki-laki pilihan mereka masing-masing.

Fiddler on the Roof
Tevye tokoh utama dalam Fiddler on the Roof (1971) diperankan oleh Topol (Foto: Tangkapan Layar film Fiddler on the Roof).

Setiap pasangan datang ke sang ayah, dan dia, Tevye sangat kaget, dan barang kali marah. Dia lantas berjalan jauh, kemudian berbicara panjang-lebar dengan Tuhannya. Di satu sisi, hati kecil Tevye berkata “ya”, sementara di sisi lain berkata “tidak”. Hingga pada suatu saat, Tevye memutuskan bahwa dia menerima menantu seorang penjahit miskin, pemuda progresif dan revolusioner, tetapi menggarisbawahi goy.

Khusus pertemuannya dengan pemuda progresif dan revolusioner, hal itu terjadi ketika Tevye melakukan pengiriman bahan makanan di sekitar kota. Dia berjalan sambil berdoa, dan membuat semacam percakapan imajiner dengan Tuhannya untuk menanyakan bahaya apa yang akan terjadi jika dia menjadi orang kaya. “If I am a rich man (baca: jika aku orang kaya), yubidubidubidam… ,” kata Tevye, sambil bersenandung.

Lantas, singkat cerita, setibanya di kota, Tevye kemudian bertemu dan menyukai Perchik, seorang mahasiswa dari Kiev yang progresif dan revolusioner itu. Tevye lalu memberi tawaran pekerjakan padanya, untuk menjadi guru bagi dua putrinya yang termuda dengan imbalan tempat tinggal dan makanan. Namun, ketika tengah sibuk menjadi guru, pemuda itu malah jatuh cinta dengan salah satu anak perempuan Tevye.

Lama kemudian, datang lah pemuda itu menghadap Tevye sambil membawa anak perempuannya.

“Ayah, kami akan menikah,” kata anak perempuan itu.

“Maksudmu?” sahut Tevye.

“Oh… maksudnya, kami hanya ingin memberi tahu dirimu bahwa kami akan menikah. Kami cuma minta restumu, dan bukan meminta ijinmu,” timpal Perchik.

Mata Tevye lantas terbelalak. Ia diam sejenak, dan kembali bercakap pada Tuhannya, “apakah kau tahu maksud dari semua ini? Sepertinya kau sedang bercanda”.

Ketika Revolusi Terjadi

Sementara itu, revolusi menyapu daratan. Sebuah kabar datang pertama kali dari seorang pria yang muncul dengan gulungan koran. Ia mengatakan Tsar sedang melakukan serangan. Adegan ini terus menyapu sepanjang film, ketika orang-orang Yahudi kehilangan tanah dan rumah mereka, lalu dikirim ke pengasingan: beberapa ke Israel, Chicago, dan seterusnya. Mereka berjalan pergi dalam siluet sementara pemain fiktif simbolis terus bermain. Pemain simbolis itu, seorang pemain biola yang berusaha membela keberanian dan kesabaran orang-orang Yahudi yang diusir.

Kesulitan juga terlihat ketika seorang polisi Rusia mengatakan kepada semua penduduk desa Yahudi, bahwa mereka harus berkemas dan meninggalkan Anatevka dalam waktu tiga hari. Semua orang bersiap-siap untuk pergi, dan sebelumnya, mereka mengenang kota kecil itu dengan kesedihan untuk beberapa saat.

“Sepertinya kita harus merencanakan pembalasan untuk mereka,” seru salah seorang warga.

“Ya… Bukankah mata harus dibalas mata, dan gigi harus dibalas gigi,” sahut seorang warga lainnya.

“Betul. Maka seisi dunia ini akan menjadi ompong,” sahut Tevye, menimpalinya.

Dalam Fiddler on the Roof, Tevye diperankan secara baik oleh Topol. Dan Leonard Frey berperan sebagai penjahit, yang saat mendapat mesin jahit pertamanya bagaikan mendapat bayi pertama. Fiddler on the Roof memang sudah ada sejak lama dan telah menjadi sebuah institusi tersendiri. Produk kebudayaan itu juga memuat beberapa lagu yang cukup bagus untuk sebuah film yang diadaptasi dari naskah drama.•

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close