Cerita Pendek

Jung-Jung dari Nun

Kami sudah berlayar 105 tahun lamanya. Jung-jung kami, yang merah, coklat, biru dan putih, seribu jumlahnya, ingin berlabuh sepertinya. Sambil menunggu sang laut berkehendak, ijinkan kami berpuisi. Puisi adalah sahabat bagi satu, dua, tiga, seribu kapal yang kelelahan ini. Perkenalkan, namanya adalah Kelobot.

Andri Setiawan

Kelobot tiba-tiba berayun dengan tali tambang dari kapal jung satu ke kapal jung yang lain. Ia meloncat dan berdiri di atas jaring-jaring yang bertumpuk tinggi.

Dagdigdo
Dagdigdo
Aku jadi kamu
Kamu jadi Aru
Aru berombak ruak
Kita bertukar roti
Di belukar rami

Dagdigdo
Dagdigdo
Aku di tiang kapal
Meneroka gelaran layar
Juga asin angin-angin
Kau pandai merayu
Burung-burung kuntul itu

Dagdigdo
Dagdigdo
Palu kayu dibagi
Kita menari kaki
Menyanyi sumbang
Jangan berkecil hati
Ohuu zat ilahi

Kelobot langsung meloncat ke jung putih dan hilang di antara kerumunan. Rombongan jung-jung ini kemudian bersorak, “Heee hooo heee hooo…

Muncullah seseorang yang sedang sakit dari dalam salah satu jung merah. Ia memberi penghormatan dengan membungkukkan badannya. Namanya Kirgis. Ia duduk di kursi kecil.

Aku tanah
Tanah purba
Air purba
Aku pohon
Pohon purba
Pohon muda
Aku binatang
Kijang
Belalang
Semua berkalang
Aku sia
Aku cita
A a a…
Aku tanah
Aku nutfah
Satu sudah

Semua orang tepuk tangan. Lalu seorang bernama Bakrun muncul dan berkata, “Aku bermimpi, hidup dalam dunia yang aneh dan asing. Hingga aku tak tahu siapa diriku kala itu. Entah ku tak tahu, apakah itu kehidupan masa depan? Begitu menyeramkan bagiku. Lalu aku membuat puisi sebagai pengingat.”

Setiap fajar aku di sini
Keluar dari pintu yang sama dengan mereka
Duduk di kursi yang sama
Bersama orang-orang yang membaca koran kemarin
Orang-orang yang menyila tangan
Dan yang hilir mudik
Juga yang bertopi hitam
Setiap fajar aku disini
Menunggu lagi
Dari gerbong ke gerbong
Dari gunung ke gunung
Nama gunung-gunung
Seperti terus berputar-putar
Sampai sepatuku menggerutu
Sampai orang-orang membaca koran baru
an yang hilir mudik
Dari mana asalku?

Belum sempat orang-orang bertepuk tangan atau memuji, tiba-tiba sebuah tiang kapal jung roboh menimpa kapal sebelahnya. Dyarrr

Orang-orang kaget dan tiba-tiba, dyar dyar dyar… Tiga ledakan terjadi, dua kapal jung tenggelam dan satu berkobaran api. Semua orang menyelamatkan diri. Ada yang melompat ke kapal-kapal lain dan ada yang meluncur ke laut. Seseorang dari kapal yang terbakar melompat ke kapal jung coklat lalu memanjat tiang. Krakkkkkkkk krak krak… Ia menjatuhkan dirinya di gelaran kain layar yang miring dengan menancapkan pisau. Layar sobek panjang, kapal oleng ke belakang, menabrak yang lainnya. Asap di mana-mana, orang-orang kebingungan. Teriakan dan tangisan terjadi di antara api dan api.

“Diam kalian semua!” seseorang yang tadi merobek layar menodongkan pistol pada rombongan yang berada di jung putih.

“Sial! Apa kalian tidak bisa diam. Kepalaku mau pecah. Aku sudah lama menahan ini. Tapi aku mau muntah. Apa yang kalian lakukan di laut ini, sedang malaikat maut menunggu kita di pulau. Kita semua akan mati dan satu orang paling sial akan menjadi monster yang lebih mengerikan.”

“Apa yang kau katakan? Kami tidak mengerti,” ucap seseorang dari kapal seberang.

Tapi, dor!

“Sudah ku katakan, diam!”

Terpelantinglah seseorang yang berbicara tadi dengan peluru tepat di kepalanya. Semua orang mundur dan ketakutan. “Oh Tuhan,”  gumam mereka.

“Aku sudah berpikir panjang, saudaraku. Lebih baik aku menembakmu, daripada kau mati diinjak-injak polisi. Aku beri tau sebuah rahasia, bahwa perjalanan kita benar benar benar benar… sia-sia. Benar-benar sia. Untuk apa kita mengarungi laut yang tanpa batas ini? Untuk apa kita yang sejuta jumlahnya ini pergi ke jauh, ke entah? Hanya untuk sebutir telur?”

Orang itu lalu menarik seseorang dari kerumunan dan melemparnya ke laut. Tepat ketika kepalanya muncul dari air, dor! Matilah dia. Orang-orang terperanjat, lalu mundur.

“Lihatlah dia, dia mati, seperti kita semua nantinya. Kita hanya menjemput ajal kita dalam perjalanan ini. Sumpah. Semuanya hanya sia. Sekarang atau nanti, sama saja. Ini sungguh tidak adil kan. Nabi-nabi itu membohongi kita. Dan Tuhan itu tidak ada. Keberadaannya hanya menciptakan pesakitan.”

Meleleh air mata orang itu. Menggigil dan gemetar. Padahal matahari semakin terik. Orang-orang masih ketakutan, merapat mundur. Sungguh suasana menjadi campur aduk, kematian, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebencian, kehampaan, kekosongan. Anginpun enggan permisi. Air mata orang itu lalu berhenti. Ia menghela nafas.

Dia mengacungkan pistolnya dan menodongi orang-orang. Tanpa peringatan lagi, ia mulai menembaki orang-orang.

Dor!
“Yang akan gugur di rahim.”

Dor!
“Yang akan terlahir cacat.”

Dor!
“Yang akan terlahir jadi pengemis.”

Dor!
“Yang akan terlahir jadi pelacur.”

Dor!
“Yang akan terlahir jadi polisi.”

Dor!
“Yang akan terlahir pergi berperang.”

Dor!
“Yang akan terlahir jadi kaya raya.”

Dor!
“Yang akan terlahir jadi kaya raya dan mati di makan anjing.”

Dor!
“Yang akan terlahir berkulit ungu.”

Dor!
“Yang akan terlahir ini.”

Dor!
“Yang akan terlahir itu.”

Dor! Dor! Dor!
Ia menembaki langit acak sambil tertawa-tawa. Orang-orang berhamburan lari, berteriak dan kacau.

Lalu Kelobot mengayun dari sebuah tali tambang dan menerjangnya. Ia mengunci tangan dan kaki orang itu. Orang itu berontak lalu empat orang lain menubruk dan menumpukinya. Kemudian Bakrun mengambil pistolnya.

“Orang gila,” kata Bakrun.

“Kita semua memang pasti mati, dan hanya satu yang akan terlahir kembali. Tapi apa itu salah? Aku bahagia hari ini bisa membacakan puisiku dan mereka menikmatinya. Kami benar-benar hidup hari ini.”

“Ya… lalu apa? Ha?” tanya si pembunuh yang kini sama sekali tidak bisa bergerak.

“Apanya yang apa? Sudah itu saja jangan kau buat ruwet. Kau pengacau. Kau pembunuh.”

“Yang pembunuh itu kau. Kau membunuh kesadaran mereka. Kalau hidup seperti itu saja, berarti mati juga biarkan saja. Lalu kenapa kau mengacauku. Diam saja kau anjing!”

“Kau ini mengeyel terus. Kalau kau mau mati ya mati sendiri, jangan ajak-ajak. Mati sendiri, kubur sendiri. Kalau kau bunuh orang lain, menyakiti orang lain, dengan alasan-alasan ngawurmu itu, itu namanya pengecut! pecundang! sampah!”

“Biarkan aku jadi sampah bagi ikan-ikan.”

“Bagus, biarkan saja bila itu takdir. Bila yang baik untuk satu tidak baik untuk lainnya, bila yang adil untuk satu tidak adil untuk lainnya, biarlah. Siapa bisa menentukan? Satu orang? Banyak orang? Kenapa satu orang? Kenapa banyak orang? Kenapa kita merasa paling bisa memutuskannya?”

Hauuuuuuu….,” si pembunuh melolong panjang.

“Ini adalah isyarat gembira luar biasa, aku mabuk kalau naik kapal.”

Orang-orang kemudian mengikatnya dengan jaring di tiang kapal.

Lalu si pembunuh itu menyanyi.

Sungguh mulia alam laut ini. Menyiksa dan menyiksa. Kosong dan gersang. Dahaga aku dahaga. Bila matahari hilang, paus pembunuh kan datang. Oh… saudara-saudaraku. Pulanglah pulang cepat. Ibu menunggu.

Ia menyanyikan bait itu terus menerus. Suasana menjadi pilu, beberapa masih terisak. Yang lain mulai membersihkan dan memperbaiki kapal. Sebagian menghanyutkan mereka yang mati. Kini jadi kurang dari seribu jung yang berlayar. Dan kurang dari sejuta orang-orang di atasnya.

Lalu laut kembali membawa mereka melewati laut-laut juga. Belok kanan, belok kiri, lurus, zig-zag, menggelombang naik turun, oleng kanan, kiri dan terus seperti itu. Langit masih sama, biru, dengan awan seperti bantal. Angin berhembus biasa, baunya biasa. Beberapa orang sangat lelah dan kosong.

Sesungguhnya apa gerangan yang menarik mereka ke lautan luas? Lautan yang belum pernah dibuatkan peta oleh penjelajah manapun. Mengapa mereka mengarungi lautan tanpa batas, tanpa kompas? Hanya berbekal cerita nabi yang ditulis oleh seorang penyair muda. Yang oleh banyak bangsa diragukan kebenarannya. Mungkin, sebuah dongeng belaka.

“Adakah sebuah dongeng dapat menjadi jalan kebijaksanaan?”

Mereka hanyalah orang-orang berwajah putih, bertubuh putih, dan berdarah putih. Tiada mereka berbeda satu sama lain. Mereka yang bersama-sama sekonyong-konyong muncrat ke lautan luas. Hanya jung-jung besar itu yang membawa mereka mengikuti arus laut dan menuruti arah angin.

Jung-jung yang jumlahnya kurang dari seribu itu terlihat seperti titik-titik kecil di laut luas. Lukisan itu tersapu awan tipis-tipis, sekelebat-sekelebat. Beriringan, bejajar-jajar, berderet-deret, ditiup angin, diantar gelombang semaunya. Jung-jung raksasa ini, yang runcing dan tegap moncongnya seperti tanduk kerbau, tetap gagah didebur ombak 105 tahun.

“Kami sudah berlayar 105 tahun lamanya. Jung-jung kami, yang merah, coklat, biru, dan putih ingin berlabuh sepertinya. Sambil menunggu sang laut berkehendak…,” belum selesai prolog itu di ucapkan, tiba-tiba seseorang melihat pulau kemerah-merahan yang keluar entah dari mana. Muncul begitu saja dihadapan mereka, di tengah-tengah laut yang kosong itu.

Oh ah eh oh,” orang itu tergagap.

Tak butuh waktu lama hingga semua jung menyadari kemunculan pulau itu. Mereka menatap pulau itu dengan penuh harapan. Tak sedikit yang menangis bahagia. Tak sedikit yang menangis ketakutan dan bimbang. Mereka baru kali ini melihat sebuah pulau. Yang belum pernah ada dalam benak mereka akan hal itu. Hanya dongeng-dongeng yang mereka buat agar menjadi harapan, dan hampir semuanya jauh dari kata tepat dalam menggambarkannya.

Heee hooo heee hoo…

Pulau itu warnanya merah jambu semburat merah darah dan putih. Barang kali ini pulau daging, karena memang mirip lapisan daging. Dengan sebuah bukit besar sekali berwarna merah bertotol putih. Oh, bukan bukit, itu bunga. Bunga padma raksasa. Bunga yang besar dan tinggi sekali itu mencuat di antara tetumbuhan hutan hujan. Di tengah bunga itu ada sebuah telur yang besar pula kata dongeng. Berwarna putih bersinar seperti bulan purnama di siang hari.

Kapal-kapal jung yang jumlahnya kurang dari seribu itu kemudian berlabuh. Jangkar-jangkar diturunkan, layar-layar digulung. Kemudian tangga-tangga tambang di lepas turun. Kirgis yang sakit keluar dari jung dan berkata, “Kita telah sampai, pada pintu gerbang menuju kematian kita. Di sini kita semua akan mati. Satu akan lahir kembali, dan yang lain akan melebur. Teruslah bernafas dan menyebut nama-Nya.”

Lalu semua orang turun ke pantai dan berjalan sambil berdoa.

Tanah, batu, debu
Pohon, bunga, kuda
Sungai, buah, lebah
Laut, karang, ilalang
Sinar matahariku…

Diulang-ulanglah doa itu sambil berjalan dengan menatap telur itu jauh di atas pohon. Mereka berjalan seperti orang terhipnotis, seperti orang yang berjalan sambil tertidur, sambil mengigau. Tak peduli apa yang mereka injak dan apa yang mereka tabrak. Batu dan ranjau duri. Mereka berjalan gontai melewati tumbuhan-tumbuhan hutan hujan. Merangkak, meringsek di semak belukar. Digigit lintah dan kalajengking hingga mati dalam sekejap. Ada pula yang jatuh kedalam lubang yang tetutup dedaunan ataupun terperangkap lumpur hidup. Terkena tumbuhan beracun dan ada  pula tumbuhan yang bisa menggigit. Mereka yang selamat tak sedikit yang penuh luka.

Sampailah mereka pada bunga padma raksasa di tengah pulau itu dan mulai memanjat. Bunga itu hanya bunga. Tak berbatang, tak berdaun. Hanya kelopak-kolopak besar tebal sekali. Berwarna merah bertotol putih. Kering namun licin. Bentuknya memang persis bukit, namun terdapat lubang kawah ditengahnya. Kini mereka harus memanjat seperti orangutan. Pada kelopak yang licin dan totol-totol raksasanya mereka berserah. Empat, lima kali tinggi pohon kelapa mulai terlewati tapi ratusan orang telah mati. Terjatuh, terjengkang, terpeleset karena menginjak kulit kelopak yang terlampau licin, dan banyak pula yang mati lelah terbaring di kelopak-kelopak raksasa itu.

Sampai pada suatu ketinggian, ribuan, ratusan ribu, hingga hampir sejuta orang telah mati. Mereka mati untuk sampai di puncak yang paling tinggi, tempat di mana sebuah kawah dengan telur besar putih bersinar itu berada. Hanya satu orang yang akan berhasil. Ia harus terus memanjat dengan lengan-lengan dan kaki-kakinya, dengan perut dan giginya. Ia terus menggigit kulit kelopak bunga itu supaya erat ia berpegang.

Dan ketika matahari berada di ambang cakrawala, sampailah orang itu di puncak. Dengan lelahnya, ia jatuh meluncur ke kawah dan tersungkur di peraduan telur besar putih bersinar yang diperjuangkan banyak orang itu. Telur itu besarnya seperti ikan paus. Putih merona membuat mata mengantuk. Jika disentuh, telur itu empuknya seperti kue moci. Ya, seperti moci raksasa yang berpijar seperti bulan purnama. Murni tanpa cacat noda, bintik, ataupun bercak. Dan hangat.

Orang itu terpana bukan main. Satu langkah mengangkat kakinya, ia mulai mengantuk. Dua langkah, matanya mulai terasa sangat berat. Di langkah ketiga, ia jatuh pada lututnya. Pipi kanannya tersandar pada permukaan telur yang lembut itu. Ia sungguh merasa bahagia. Orang itu bukan Kelobot, Kirgis, Bakrun atau si pembunuh. Bukan laki-laki, bukan perempuan. Ia bukan siapa-siapa. Bukan tokoh yang diinginkan orang-orang. Siapa dia adalah siapa dia. Biarlah.

Orang itu memeluk telur dan masuk ke dalamnya melalui kulitnya yang pulen. Ia akan mulai tertidur di dalam telur. Ia akan hidup menjadi yang lain. Barang kali, ia adalah aku atau kamu atau orang lain setelah lahir nanti.

Aku hanya nutfah
Satu dari jutaan
Yang berarung
Dengan Jung
Jauh
Nun
Nun
Nun
Ke
Nya

Salatiga, 02 Oktober 2017.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close