Prakanca

Juru Kuncinya Salatiga

Berawal dari cerita tuturan kakeknya, ia kemudian penasaran lalu mendalami, mencatat, serta mengabarkan segala sesuatu tentang kota kelahirannya. Ya! Salatiga, kota itulah yang membuatnya bangga dan tak henti-henti memantik rasa penasarannya untuk menelusuri segala sesuatu di dalamnya.

Galih Agus Saputra

Eddy Supangkat merupakan orang yang tak pernah jauh dengan sejarah dan benda cagar budaya, khususnya yang berkenaan dengan Salatiga. Ia lahir pada 1960 dan telah menulis buku Salatiga Kota Seribu Nuansa (2001), Salatiga Sketsa Kota Lama (2007), Galeria Salatiga (2010), dan New Galeria Salatiga (2015).

Siang itu (25/7), Aslo berkunjung ke ruang kerjanya, di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Salatiga. Ia lantas menceritakan semua pengalamannya, dan tentu, semuanya soal Salatiga.

Kalau ada satu pertanyaan diajukan kepada Anda yaitu Salatiga, bagaimana jawaban Anda?

Wah, bisa panjang ceritanya haha

Baik, kalau begitu kami bersedia mendengarkannya.

Semua berawal dari masa kecil saya. Suatu hari, ketika masih SD, saya kan dekat sekali dengan kakek saya. Kakek saya itu senang sekali bercerita, ia bercerita tentang Legenda Salatiga, lalu bercerita tentang kehidupan di Salatiga waktu jaman Belanda. Dari situ saya berpikir, Salatiga itu menarik sekali. Tak hanya begitu saja, ceritanya itu tertanam begitu dalam di kepala. Nah, kemudian sejak kecil itu, keluarga saya di rumah berlangganan koran. Setiap kali saya menemukan berita tentang Salatiga di koran itu senangnya bukan main, tidak tahu kenapa.

Jadi, waktu itu Anda juga sudah mulai mengumpulkan cerita tentang Salatiga dari koran?

Ya. Tapi, dahulu itu tidak seperti sekarang. Biasanya dua minggu sekali baru muncul berita singkat soal Salatiga di koran Suara Merdeka. Kalau sekarang kan sudah ada satu rubrik khusus soal Salatiga, punya porsi satu halaman penuh. Nah, begitu, lalu dulu mulailah saya kumpulkan, saya selalu membuat kliping berita soal Salatiga dari koran. Dari situ, tidak tahu apa yang menggerakan, tapi saya kemudian mempunyai mimpi, suatu saat harus menulis soal Salatiga.

Lalu, kapan Anda memutuskan untuk mulai menulis soal Salatiga?

Sejak SMA. Saat berkarya itu saya sudah mulai menyentuh soal Salatiga. Kemudian saya punya kesempatan untuk menjadi wartawan lepas (freelancered) di Suara Merdeka, dari situlah saya kemudian banyak menulis soal Salatiga. Sebelumnya, waktu di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), saya juga memiliki kesempatan untuk mengelola terbitan yang namanya Gita Kampus, di situ saya juga banyak menulis soal Salatiga. Jadi di mana pun saya berekspresi, saya selalu mengulas soal Salatiga. Semua tentang Salatiga ingin saya pamerkan, ya, jadinya saya selalu narsis soal Salatiga haha

Saat itu juga sudah mulai menulis buku soal Salatiga?

Belum. Mulainya ketika 2000-an. Saat itu, saya merenung dan berpikir bahwa saya sudah banyak menulis soal Salatiga, entah di majalah kampus atau artikel di media massa. Lalu, saya berkata pada diri sendiri, ada baiknya jika saya mulai menulis buku tentang Salatiga. Tetapi, kenyataannya kok berbeda, tidak seperti menulis biasanya. Maka dari itu saya mulai mengumpulkan data, melakukan riset kecil-kecilan, dan kebetulan saya bekerja di UKSW, lalu saya mulai mengakses bahan bacaan dan buku-buku yang ada di perpustakaan UKSW.

Lalu, bagaimana temuan waktu itu?

Ya, saya rasa itu kesempatan baik buat saya. Saat itu, dunia maya belum seperti sekarang. Kemudian saya terus mulai merambat ke perpustakaan yang ada di Jateng. Lalu, ada teman juga yang punya akses ke Perpustakaan Nasional. Nah, semakin saya mendalami Salatiga, ternyata kok banyak sekali hal yang tidak saya ketahui tentang Salatiga, padahal saya sendiri orang Salatiga. Itu yang selalu membuat saya penasaran. Lalu, terus saja saya mencari data, hingga kemudian saya putuskan untuk menerbitkan buku soal Salatiga. Entah apa pun bentuknya, yang penting, minimal saya harus berani mengawalinya.

Setelah terbit, bagaimana impresi pembaca?

Di luar dugaan. Bagus sekali responnya, baik dari warga Salatiga, warga Salatiga yang ada di Jakarta seperti di Paguyuban Warga Salatiga (Pawarsa), maupun orang-orang yang ada di mancanegara dan di mana saja namun punya kedekatan emosional dengan Salatiga. Nah, dari situ, saya semakin semangat. Tiba-tiba ada anaknya, cucunya, dan banyak orang yang mengirimkan data. Mereka menyumbangkan arsip pribadinya, meminjamkan beberapa foto untuk saya scan (salin –red). Hingga akhirnya, koleksi saya soal Salatiga semakin hari semakin banyak.

Kemudian, buku yang saya tulis saya cetak ulang dan membuat buku-buku selanjutnya. Itu semua sungguh di luar dugaan juga, tiap cetak, lalu habis, cetak lagi, habis lagi, begitu terus. Buku pertama yang saya tulis bahkan sampai cetak ulang sebanyak tujuh kali. Seterusnya, kalau saya menulis buku lagi, data-datanya selalu saya perbarui. Dan sampai sekarang, kalau ada akademisi, jurnalis, dan sebagainya selalu pakai buku saya sebagai rujukan. Itu yang selalu membuat saya bangga ketika berbuat sesuatu untuk Salatiga.

Adakah kesan lain setelah menulis tentang Salatiga?

Dari data yang saya kumpulkan waktu itu, saya jadi tahu kalau begitu banyak bangunan yang menjadi cagar budaya di Salatiga. Nah kemudian, pada 2010, itu ada keprihatinan besar bagi saya sebagai pemerhati cagar budaya, bahwa sampai masa itu, kita kehilangan sekitar 11 benda cagar budaya. Saya berpikir, lama-lama kalau hilang terus-menerus, Salatiga akan kehilangan identitasnya. Karena, salah satu karakter kota Salatiga dibentuk berdasarkan benda cagar budayanya. Ada ikatan emosional dan historis yang sangat bagus soal ini.

Kemudian, saya mencoba melakukan kampanye untuk perawatan benda cagar budaya bersama berbagai pihak, teman-teman atau siapa saja yang peduli dengan benda cagar budaya di Salatiga. Kita lakukan penyelamatan, hingga akhirnya mendapat dukungan data lainnya dari berbagai pihak, dan terbitlah buku yang terakhir itu, Galeria Salatiga.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close