Ulasan

Kala Sungai Berbicara

Itulah sebabnya aku menulis-mencoba mengubah getir menjadi rindu, sepi menjadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. Itulah yang dikatakan wanita yang memberiku tempat menginap. Ketika itulah-seperti kata salah satu orang kudus-air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api – Paulo Coelho (2014).

Sih Natalia Sukmi

Petikan roman karya Paulo Coelho berjudul By the River Piedra I Sat Down and WeptI itu sarat dengan kesedihan, keindahan, dan pengampunan. Sungai menjadi ruang dominan yang menjadi benang merah rasa selayak alirannya. Air menghanyutkan perasaan dan membawa ke hilir imajinasi pembaca. Bukan kali ini saja novelis kelahiran Brazil itu memilih sungai sebagai ruang imajinya. Seperti Sungai yang Mengalir, demikian dia tuliskan pula gagasan pikiran dan kontempelasinya dalam kumpulan cerita pendek yang sejuk ketika dibaca. Lantas, mengapa sungai? Apa karena dia yang mengawali peradaban-peradaban besar di bumi ini? Atau karena dia menggambarkan arus kehidupan makhluk semesta? Mungkin hanya Coelho saja yang tahu kebenarannya.

Buka dan baca saja buku sejarah dunia, maka kita akan menemukan Efrat/Tigris, Nil, Kuning, Indus dan banyak sekali nama-nama sungai yang mengawali peradaban manusia. Malinowsky mengungkap civilization (peradaban dalam konteks pemahaman Perancis) sebagai bagian yang khas dari kebudayaan yang lebih maju. Jika kita menilik bagaimana Mohenjondaro dan Harappa, dua kota dalam peradaban Sungai Indus di wilayah Pakistan kini, kita akan terbelalak melihat temuan arkeologisnya bahwa aktivitas kota yang hidup sekitar 2500 tahun SM itu, telah menggunakan tatanan kota, sistem pertanian dan pengairan yang maju pada masanya.

Pernah mendengar Egypt, the “gift of the Nile”II? Kalimat Heredotus, seorang ahli sejarah Yunani tersebut menegaskan bahwa kebesaran Mesir pun tak luput dari sumbangan sungai terpanjang yang melewati Mesir, Ethiopia, Sudan dan Uganda itu. Bukan hanya manusia, siklus dan ekosistem menjalankan rantainya secara rapi. Tak sekadar hidup karena sungai, intensitas berpikir masyarakat sekitar lembah menjadi lebih keras bekerja karena mereka harus berdampingan dengan ancaman penyakit, seperti malaria dan schistosomiasis-parasit yang menyerang hati dan pencernaan kala itu. Paksaan kognitif itu faktanya melahirkan dan memasyurkan tabib-tabib ternama dari Mesir kuno.

Sungai, Riwayatmu Kini

Aliran sungai mengandung banyak manfaat. Coba bertanya ke moyang kita, bagaimana segarnya dia minum air sungai atau sumur tanpa dimasak. Bisakah kau melakukannya sekarang? Atau justru terlalu cemas dengan bakteri atau polusi yang ada di dalamnya?

Tak sekadar penopang aktivitas domestik manusia sehari-hari, sungai dapat dibaca sebagai sosial, ekonomi, politik dan transportasi, karena pada masa lampau dan beberapa wilayah hingga kini memang demikian keberadaannya. UNESCO menyebut sungai memiliki kegunaan utama seperti sumber air minum, irigasi pertanian, industri dan pemerintahan yang berbasis pengadaan air, navigasi, perikanan, rekreasi, bahkan nilai estetika.

Namun kondisi berubah, The World Health Organization (WHO) telah melakukan tinjauan terhadap pedoman yang telah mereka buat tahun 2011, dan kemudian menetapkan standar kualitas air minum yang mencakup bahaya biologis maupun kimiawi dari kandungan air, yang berasal dari sumber alami dan antropogenik. Acuan bergeser mengikuti kondisi alam yang kian hari kian tercemar, WHO sebelumnya tidak memasukkan pestisida atau bahan kimia lain dalam kandungan air yang dianggap berbahaya, namun sekarang bahan tersebut dapat ditemukan di air minum.

Air sebagai Komponen Kehidupan

The earth, the air, the land and the water are not an inheritance from our fore fathers but on loan from our children. So we have to handover to them at least as it was handed over to usIII – Mahatma Gandhi.

Coba baca kalimat itu sambil melihat sungai di kotamu, apakah kau bisa mempertanggungjawabkannya? Atau masih merasa bahwa sungai bukan surgamu? Tak layak rasanya menggurui bahwa kita harus merawatnya andai masih ingin hidup. Namun bila kau lihat bagaimana amarah sungai yang menghancurkan tanggul, desa, kota bahkan peradaban, apakah kau masih pula mempertanyakan apa pentingnya. Atau kau masih garang berseru seperti orang-orang yang memarahi singa atau ular, yang memasuki kawasan perkampungan karena kau tak mau berbagi ruang dengannya.

Apa yang salah jika airpun akhirnya juga menerabas lahan hunian manusia yang membawanya bersama menuju hilir, atau laut, untuk memberitahu bahwa seharusnya kita hidup bersama. Kupikir tak perlu menunggunya demikian. Tak seperti Coelho dalam cuplikan di atas, lain kali akan kutulis cerita cinta yang berakhir bahagia dengan secangkir kopi di pinggir sungai. Pasti roman itu akan melegenda. Mengapa tidak, asal kau bisa beri aku sungai yang bersih, satu saja!

IBaca: Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis.
IIBaca: Mesir merupakan hadiah sungai Nil.
IIIBaca: Tanah, udara, dan air bukanlah warisan dari pendahulu namun pinjaman dari anak cucu kita. Jadi kita harus menyerahkannya kepada mereka setidaknya saat berada di tangan kita

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close