Tekno

Kamu Bisa Buat Desain Batikmu Sendiri di jBatik

Perkembangan teknologi digital saat ini tampaknya bersambut gayung dengan perkembangan di tiap lini industri kreatif. jBatik adalah salah satu contoh perangkat lunak karya anak bangsa, yang dirancang untuk memungkinkan penggunanya dapat mendesain batiknya sendiri, secara mandiri.

Alexio Alberto Cesar

Kemajuan teknologi digital saat ini memicu perkembangan tiap lini industri kreatif. Batik tidak luput dari perkembangan tersebut, dan semenjak batik ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya Indonesia untuk dunia oleh UNESCO pada 2009 lalu, keberadaan industri batik menjadi semakin menjamur. Banyak orang juga menggunakan batik sebagai pakain resmi di kegiatan formal, atau di kehidupan sehari-hari. Namun, sesuatu yang unik kemudian muncul bersamaan dengan lahirnya perangkat lunak (software) karya anak bangsa bernama jBatik.

Perangkat lunak itu dirancang agar penggunanya dapat membuat desain batiknya sendiri melalui komputer jinjing, atau rumahan. jBatik dirancang oleh Nancy Margried, Yun Hariadi, dan Muhamad Lukman dimana mereka menggabungkan teknologi, seni, arsitektur, serta matematika untuk menghasilkan karya dan dikenal dengan sebutan fraktal. Mereka sendiri telah membentuk tim yang bernama Pixel People Project, dimana tim tersebut bergerak di bidang desain dan seni.

Batik
Salah satu contoh motif batik Lasem yang didesain menggunakan jBatik (Foto: Dok. jBatik).

Perangkat lunak itu sangat mudah dioperasikan karena pengguna tidak harus membuat pola batik di atas kertas atau kain sebagai medianya. jBatik mengadopsi ilmu fraktal atau alat ukur yang meringankan saat membuat pola batik. Bila bicara tentang rumus fraktal itu sendiri sebenarnya memang terdengar rumit, tapi secara sederhana fraktal dapat dimengerti sebagai geometris yang kasar dari berbagai skala. Konsep matematis yang diusung dalam fraktal memudahkan dalam menciptakan berbagai macam motif batik modern dan tradisional. Selain itu juga membantu pengguna untuk menghasilkan desain dengan pola dan tingkat ketelitian yang amat tinggi. Motif yang telah dibuat lantas dapat disimpan dalam berbagai format seperti jpg, png, atau obj untuk kemudian dicetak (print) di kertas.

Dalam tampilan jBatik, mula-mula pengguna disuguhi dengan tampilan kotak putih dan hitam. Sebuah tampilan dasar saat membuat motif batik. Selanjutnya, pengguna dapat memilih menu library dan menentukan motif yang sesuai dengan seleranya. Kemudian, tampilan dasar akan berubah sesuai dengan motif yang telah dipilih sebelumnya. Motif inilah yang akan mengisi pola dasar pada batik.

Batik
Seorang warga Sangiran, Jawa Tengah terlihat sedang mencanting batik dengan malam di rumahnya (Foto: Galih Agus Saputra).

Metode dalam pembuatan pola batik di jBatik tidak mereduksi metode tradisional yang sudah ada. jBatik hadir hanya untuk memudahkan proses kreasi desain pola batik itu sendiri. Jadi, aplikasi ini tetap membuat kita kembali ke cara tradisional dengan mencanting menggunakan malam saat membuat batik di atas kain. Sebuah cara modern dalam mendesain pola dan motif, namun tidak sepenuhnya meninggalkan apa yang telah diwariskan leluhur kita.

Dewasa ini, jBatik telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO yaitu Award of Excellence 2008, sebagai Stamp of Approval, dan Asia Pacific ICT Award (APICTA) 2008 untuk kategori Tourism and Hospitality. Tidak hanya itu, aplikasi ini telah mendapatkan hak patennya atas inovasi Batik Fraktal, sehingga untuk mendapatkan aplikasi jBatik itu pengguna perlu membayar sebesar Rp. 350.000. Mungkin harga tersebut tidaklah terlalu tinggi bila kita membandingkan dengan perangkat lunak lainnya. Mengingat jBatik adalah perangkat lunak karya anak bangsa, patut menjadi kebanggan kita pula untuk turut membantu perkembangannya.•

Redaktur : Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close