Kuliner

Ketemu Jagonya Ronde di Ronde Jago

Angga ialah generasi keempat pengelola Ronde Jago, di Salatiga. Kepada Aslo, ia menceritakan bagaimana kedai ronde itu berdiri, hingga bagaimana ia mempertahankannya hingga saat ini.

Wahyu Turi

Terlihat beberapa meja dan kursi penuh pengunjung ketika Aslo menyambangi kedai Ronde Jago, Rabu malam itu (18/07). “Belum ke Salatiga kalau belum ke Ronde Jago,” begitulah kata kebanyakan orang. Hal tersebut kemudian terbukti ketika Aslo masuk, lalu duduk di depan kasir Ronde Jago. Pemandangan yang kali pertama terlihat adalah dinding penuh pigura yang masing-masing terdapat foto pejabat publik atau seniman beserta bubuhan tanda tangannya.

Pelancong dari luar kota dan pejabat yang ke Salatiga untuk suatu urusan, atau hanya sekedar lewat memang sering rela mengantri, dan duduk berdesakan demi menikmati semangkuk wedang ronde di kedai itu. Letaknya agak tersembunyi, di Jalan Jendral Sudirman No. 9, Salatiga, Jawa Tengah.

Ramainya pengunjung malam itu, membuat pemilik Ronde Jago kesulitan mencari tempat untuk berbincang dengan Aslo. Hingga akhirnya, mereka mempersilakan masuk ke dalam rumah agar bisa ngobrol dengan nyaman. Ialah Airlangga Setia Darma Putra (akrab disapa Angga), generasi keempat yang kini mengelola Ronde Jago dan menemui Aslo.

Warisan Keluarga

Mulanya, Angga diajak ayahnya untuk terlibat mengelola bisnis turun-temurun itu. Angga sempat berontak dan tidak mau bekerja di Ronde Jago. Dia ingin punya waktu bermain seperti kawan seusianya. Namun, semakin dewasa Angga menyadari bahwa didikan ayahnya yang tegas sangat berguna hingga sekarang. “Dulu di sini posisi saya bekerja, sepulang sekolah saat masih SMA (2005),” katanya.

Lebih lanjut, Angga menceritakan bahwa ayahnya mengajarkan bekerja dari nol supaya ketika sukses dapat menghargai orang yang bekerja bersamanya. “Waktu kerja, kalau saya telat gaji juga dipotong. Itu diajarkan ayah saya supaya saya bisa kerja secara profesional,” imbuhnya sambil tertawa.

Setelah lulus kuliah, pada 2011, pria berusia 30 tahun itu kemudian mengelola Ronde Jago sepenuhnya. Sebab kian tertarik dengan bisnis kuliner, menjadi alasan Angga untuk tetap bersedia mengembangkannya lebih lanjut. Angga juga mengakui bahwa dari tiga bersaudara, hanya dia yang tertarik untuk melanjutkan. Angga juga menceritakan bagaimana Ronde Jago itu ada dan bertahan hingga sekarang.

Rahasianya Rahasia

Semula, Ronde Jago berada di Jalan Kesambi, Salatiga, pada 1960-1964. Karena situasi pada masa itu sedang sulit, keluarganya harus mengungsi dan terpaksa berhenti berjualan. Pada 1966, Kakek Buyut Angga mempunyai niat untuk berjualan lagi di lokasi yang sekarang, dan terus dijalankan hingga saat ini.

Aslo Media
Ronde Jago di Salatiga telah dikelola secara turun temurun. Airlangga Setiya Darma Putra merupakan generasi keempat yang meneruskan usaha wedang rode itu (Foto: Wahyu Turi).

Salah satu hal yang membuat Ronde Jago bertahan hingga sekarang adalah keunikan rondenya sendiri. Berbeda dengan ronde lain, Ronde Jago menyajikan rondenya bersama manisan (Tang Kwe) dari buah Beligo atau Jeruk, hingga agar-agar dari Hun Kwe, ekstrak Rumput Laut, dan sagu Delima yang dibuat sendiri. Sementara isiannya, seperti kebanyakan wedang ronde lain yaitu ronde isi atau tanpa Kacang, yang disajikan bersama Kolang-kaling, dan yang utama adalah Jahe, Pandan, serta Serai.

Angga juga mengakui ada resep rahasia yang diturunkan dari generasi pertama. “Rahasianya, ya rahasia haha… Tapi, yang jelas dari tumbuhan herbal kok,” katanya, sambil bercanda.

Lebih lanjut Angga menceritakan bagaimana kedai itu disebut Ronde Jago. Kala itu, kata Angga, nama Jago diberikan oleh pelanggan, karena tempat yang berada di Jalan Jendral Sudirman No. 9 itu, dahulunya adalah tempat distribusi Jamu Jago dan terdapat ikon Ayam Jago, di depan tempat tersebut.

Ronde Jago juga dianggap menjadi bukti bahwa minuman tradisional masih digandrungi hingga sekarang. Terbukti pula dari penjualannya yang mencapai 500-750 mangkuk di hari biasa, dan bisa sampai 1500 mangkuk di hari libur atau akhir pekan. Setidaknya dari usaha di kedai tersebut, Angga berhasil mengantongi keuntungan bersih dari tiga hingga empat juta. Sebagai generasi keempat, Angga tetap berusaha menjaga kualitas rasa agar tidak berubah, serta menjaga keunikan kedainya dengan konsep tradisional.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close