Cerita Pendek

Kongkalikong

Narto duduk di sudut tembok dengan lemas. Memegang pipi kirinya, ia merasakan kesakitan. Dipukul dengan kayu sebesar kakinya. Hari ini dia masuk ruangan yang tak pernah ia sukai seumur hidupnya. Ruang penyiksaan. Sudah 16 tahun dia di penjara. Di sudut tembok dia bergumam, “harusnya tinggal 2 hari lagi dan aku bebas”.

Alexio Alberto Cesar

Setiap harinya, Narto bekerja di bengkel miliknya sendiri. Sri adalah istri yang sangat ia cintai. Begitu pula Lukito, satria kecil kebanggaannya. Hidup mereka biasa-biasa saja, layaknya pengusaha bengkel sepeda motor lainnya. Mereka selalu menggunakan hari Minggu untuk pergi berlibur bersama. Tak perlu tempat yang wah, kadang mereka hanya menggelar tikar di gubuk sawah, tepat di belakang rumah. Itu sudah indah, bagi Narto yang penting kumpul. Narto selalu mencoba menjadi suami dan ayah terbaik bagi keluarganya.

Hingga menginjak umur Lukito yang ke lima, Sri sakit. Sakit yang dideritanya aneh karena entah mengapa Sri sering pingsan, tanpa ada sebab yang pasti, dengan disertai sakit perut yang amat perih. Dua tahun Sri berteman akrab dengan penyakitnya. Hingga Narto pun berusaha mencari pengobatan yang bisa membuat ratu di hatinya sembuh. Dari dokter ke dokter, hingga dukun pun tak dapat mengobati. Sisa uang mulai menipis di saat Lukito mulai masuk SD. Kebutuhan kini telah bertambah dan terbagi-bagi, baik pangan, pengobatan, hingga uang sekolah. Narto harus memeras otak untuk mencukupi semuanya. Narto butuh duit.

Jarwo, teman SMA Narto, menawarkan pekerjaan tambahan baginya. Narto tidak akrab dengan Jarwo, tapi tawarannya sangat menggiurkan. Dengan upah 15 juta dalam sekali kerja. Dia hanya berpikir bisa memberikan biaya tambahan untuk pengobatan Sri dan terlebih untuk sekolah Lukito.

Tugas Narto hanya mengirimkan sabu-sabu setiap ada pemesan. Dari satu kota ke kota lainnya. Hanya itu tugasnya. Empat tahun dia kerjakan sampingannya tanpa pengetahuan keluarga. Alasan Narto hanya ingin Sri sembuh dan Lukito terus sekolah hingga bisa menjadi sarjana. Biaya kemoterapi tidaklah sedikit. Sri terkena kanker lambung. Tindakan kemoterapi yang diberikan sebanyak 5–6 siklus, yang satu siklus membutuhkan biaya 30 juta, dengan jarak 21 hari, sudah menghabiskan 180 juta. Ditambah dengan radioterapi yang harus diberikan dengan sekali penyinaran memakan biaya 1,6 juta, sehingga bila diberikan dengan frekuensi setiap minggu 5 kali selama 8 minggu, membutukan dana Rp140 juta.

Belum lagi apabila ada tindakan operasi yang meskipun tergantung jenis operasinya, tetap saja rata-rata menelan biaya puluhan juta rupiah. Jadi, total biaya untuk pengobatan kanker 300 juta sampai 400 juta. Bisa dibayangkan, bagaimana pusingnya Narto untuk memenuhi kebutuhan itu semua.

Menginjak tahun ke lima dari usaha sampinganya, dengan harapan dapat membawa Sri sembuh, langkahnya harus terhenti. Sri mati.

Sri menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit umum, saat senja sebelum adzan Maghrib. Narto kehilangan alasan untuk terus berjuang. Dia mengambil resiko menjadi distributor sabu-sabu hanya ingin melihat Sri tertawa. Narto hanya ingin mengajaknya makan bersama Lukito, di sawah belakang rumah seperti dulu. Cuma itu harapannya.

***

Djarot adalah salah satu bos besar dalam pengedaran sabu-sabu di negeri itu. Dalam berbisnis, dia begitu rapi dan tersembunyi. Djarot sangat cerdas, ia dapat menggunakan kesempatan di tengah kesempitan sekalipun.

Dalam melakukan bisnisnya, Djarot berkawan akrab dengan beberapa pimpinan-pimpinan polisi di seluruh wilayah pendistribusiaannya. Bisa dikatakan, kerjasama yang dijalin dari beberapa pihak, saling menguntungkan. Djarot hanya meminta bisnisnya lancar tanpa ada yang mengganggu. Sebagai gantinya dia memberikan beberapa anak buahnya yang tidak berharga untuk ditangkap, sehingga membantu beberapa pemimpin polisi mudah dalam naik pangkat karena prestasi yang dikerjakan.

Hingga suatu kali, seorang pemimpin dari kepolisian meminta Djarot untuk memberitahu anak buahnya yang hendak dijadikan kambing hitam untuk membantu kenaikan pangkat. Maka Djarot memberikan salah satu nama anak buahnya, dan nama yang dia pilih saat itu adalah Narto. Seorang distributor sabu-sabu untuk daerah yang berprofesi sebagai montir bengkel. Djarot telah menyiapkan 40 Kg sabu-sabu kepada Narto melalui bawahannya. Rencananya sederhana, Narto hanya butuh membawa barang tersebut, hingga di tengah jalan polisi akan menggeledah dan menjadikannya tersangka.

Hanya cukup berkata sedikit kepada media bahwa salah satu bos pengedar sabu-sabu telah ditangkap. Dengan sendirinya, berita itu akan berkembang dan menjadi opini masyarakat. Djarot masih dengan mudah berbisnis tanpa takut ditangkap, dan pihak pimpinan polisi mendapat keuntungan karena sebentar lagi dia akan naik pangkat dan gaji. Semua rapi dan bersih.

***

Narto duduk di sudut tembok dengan lemas. Memegang pipi kirinya, ia merasakan kesakitan. Dipukul dengan kayu sebesar kakinya. Hari ini dia masuk ruangan yang tak pernah ia sukai seumur hidupnya. Ruang penyiksaan. Sudah 16 tahun dia di penjara. Di sudut tembok dia bergumam, “harusnya tinggal 2 hari lagi dan aku bebas”.

Dua hari sebelum pembebasan, ditemukan sabu-sabu di kantong Narto. Polisi menuduh Narto menyelundupkan sabu-sabu ke penjara. Akhirnya, dia harus dipenjara seumur hidup. Harapan untuk melihat Lukito yang telah dewasa, pupus sudah. Narto hanya menunggu hingga dia mati saja.

Baginya, semua ini berjalan dengan sebuah pola. Sebuah pola yang membuat dia akan terus dipenjara. Benar atau salah itu tidak peduli.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close