Komunitas

Koplo: Ngumpul, Ngobrol, Ngopi

Kalau di puisinya Joko Pinurbo, ini seperti,
lima menit menjelang minum kopi, aku ingat pesanmu, “kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Alexio Alberto Cesar

Malam itu (13/7), Aslo berkunjung ke Frame Coffee House untuk bertemu Widi Arie Nugroho. Ia pemilik kedai itu, sekaligus Ketua Kopi Lover (Koplo) Salatiga. Setelah berkenalan, bicaralah Widi tentang Koplo, Salatiga, dan kopi. Katanya, sejak dulu kopi dan Salatiga memiliki kedekatan dalam konteks sejarah. Bahkan, saat Belanda masih menjajah, Salatiga memiliki perkebunan kopi yang luas dan disebut sebagai lumbung kopinya kongsi dagang di Hindia-Belanda (VOC).

Soal Koplo sendiri, kata Widi, “awal berdirinya karena sering kumpul, terus ngopi bareng. Di mana ada tempat kopi baru, kita share (baca: berbagi informasi –red). Jadi bareng sama temen-temen, kita pergi untuk menambah referensi baru soal kopi”.

Widi kemudian menjelaskan, berangkat dari hal tersebut ia bersama teman berpikir untuk membuat komunitas pencinta kopi hingga kemudian terbentuklah Koplo, pada Februari 2013.

Koplo bukan untuk pelaku bisnis saja, tapi bagi mereka yang mencintai kopi di Salatiga atau ingin belajar kopi, atau malah sekedar penikmat kopi. Selama mau bergabung di Koplo, ya, ayo,” ajak Widi dengan antusias.

Berkembang Pesat

Koplo juga membuat lokakarya. Tujuannya sederhana, mereka ingin berbagi tentang kopi yang memiliki berbagai macam cara pembuatan untuk memaksimalkan cita rasa. “Tetapi, kami bukan ingin menggurui. Kami ingin share, turun ke jalan, dan bagi-bagi kopi gratis. Kadang diadakan di Minggu sore, satu bulan sekali. Terakhir kami adakan di Salasar Kartini, Salatiga. Kami tidak mengeksklusifkan diri, dan ingin dekat dengan masyarakat saja,” tutur Widi.

Kopi aslo.co
Widi Arie Nugroho pemilik Frame Coffee House, sekaligus Ketua Kopi Lover (Koplo) Salatiga (Foto: Alexio Alberto Cesar)

Menurut Widi, perkembangan kopi di Salatiga cukup pesat, baik dari kalangan pebisnis maupun penikmat kopi. “Jujur, kami dapat membanggakan diri. Dengan apa yang sudah kami lakukan, kini kami sudah merasakan masyarakat menjadi lebih aware (baca: sadar), ternyata kopi tidaklah sederhana. Bahwa ada banyak cara dalam menyajikan kopi,” tambahnya.

Widi juga mengatakan, berkembangnya kedai kopi (coffe shop) di Salatiga turut memperngaruhi jumlah peminat kopi. Bahkan, pemain besar dari luar menjadi tertarik untuk masuk ke Salatiga. Dengan jumlah coffee shop sedemikian banyak di kota sebesar Salatiga, lanjut Widi, malah membuatnya menjadi semakin menarik.

“Karena, setiap coffe shop memiliki cita rasa dan konsep yang berbeda-beda,” katanya.

Hingga saat ini, Koplo memiliki anggota tetap kurang-lebih 20 orang. Sebagian besar coffe shop di Salatiga juga sudah bergabung, pun alasannya cukup sedarhana: berteman dan berbagi.

“Mengapa kita harus bersaing, mending kita eratkan saja agar kopi di Salatiga menjadi lebih maju. Sederhananya ya kita ngumpul, ngobrol, sambil ngopi saja,” kata Widi dengan senyum semangatnya.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close