Kuliner

Kutuk dan Tumpang Koyor Tiga Rasa

Tumpang Koyor merupakan salah satu makanan yang cukup terkenal di Salatiga. Warung Gudeg Koyor & Ikan Kutuk Bu Djono juga menjajakannya. Meski demikian, ikan Kutuknya itu, juga perlu dicoba.

Amos Allister

Tumpang Koyor, bagi kebanyakan orang yang sudah akrab dengan makanan itu, maka hal pertama yang diingat adalah Salatiga. Demikian sebaliknya, bagi Kanca Dhahar yang kangen Salatiga pasti juga langsung ingat Tumpang Koyor.

Nah, siang itu (19/7), Aslo berkunjung ke Warung Gudeg Koyor & Ikan Kutuk Bu Djono, di Jalan Jend. Sudirman (samping bekas bioskop Reksa), Salatiga. Naknan (baca: enak tenan) adalah kata yang kali pertama terucap saat Aslo merasakan Tumpang Koyor di suapan pertama. Bagaimana tidak, Tumpang Koyor di sana memiliki tiga karakter rasa. Sebab itu juga Aslo menyebut koyornya Bu Djono sebagai Tumpang Koyor tiga rasa.

Tiga rasa itu asalnya dari Sambal Tumpang, Bumbu Rendang, ditambah kuah Opor Ayam. Memang tidak seperti di kedai lain, yang umumnya hanya identik dengan Sambal Tumpangnya saja, di sana Tumpang Koyor memiliki banyak kejutan rasa.

Penuh Kejutan

Awalnya Aslo sedikit ragu, bagaimana jadinya jika tiga rasa itu jadi satu? Namun, keraguan itu segera hilang saat merasakan kandungan rempah di dalamnya. Rasa Bumbu Rendang dan kuatnya rasa pada kuah Sambel Tumpang itu yang pertama kali nendang di lidah. Sebuah perpaduan rasa yang klop antara Sambel Tumpang dan Bumbu Rendang. Tetapi, saat itu rasa dari kuah opornya belum terlalu kuat. Kuah Opor baru benar-benar terasa ketika Aslo mencampurkan nasi kepadanya.

Nah, sekarang waktunya Aslo menceritakan sensasi nikmat tumpag koyor-nya Bu Djono dicampur nasi. Biasalah, orang Indonesia katanya “belum makan, kalau gak pakai nasi”. Dan, di sinilah ke-naknan-an Tumpang Koyor tiga rasa Bu Djono benar-benar kentara. Begitu nasi tenggelam dalam kuah, manis Opor Ayam itu langsung keluar. Lebih mantap lagi ketika rasa pedas Sambal Tumpang dan gurihnya bumbu Rendang bercampur menjadi satu dengan sensasi rasa manisnya Opor Ayam.

Tidak hanya itu saja, kenikmatan rasa Tumpang Koyor itu semakin menjadi-jadi ketika dipadukan dengan gandu (baca: lutut sapi) yang kenyal, ditambah lunaknya otot paha sapi. Untuk bagian ini, komposisinya lebih banyak otot paha sapi, ketimbang gandunya. “Kami sengaja memberikan otot sapi lebih banyak supaya pelanggan puas, dan mantap ketika merasakan Tumpang Koyor di tempat kami. Apalagi, otot sapi dari kami kan lunak, terus ada dagingnya tapi tidak terlalu banyak tulang mudanya,” kata Jasmani, pemilik Warung Gudeg Koyor & Ikan Kutuk Bu Djono.

Kuatnya Bumbu Dalam Daging Ikan Kutuk

Soal Tumpang Koyor itu satu cerita. Beda lagi dengan cerita saat Aslo mencoba menu Ikan Kutuk, di kedai yang berdiri sejak 1978 tersebut. Ikan Kutuk di Warung Bu Djono berasal dari Rawa Pening. Sebuah danau di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang jaraknya barang tentu, hanya lima belas menit dari Salatiga. Ikannya sendiri, kata Jasmani, berbeda dengan Ikan Kutuk dari tempat lain, karena tidak bau tanah, dagingnya tidak pucat, atau masih segar. Pun kandungannya juga cukup tinggi, karena 90% tubuh ikan tersebut terdiri atas protein.

Tumpang koyor aslo
Ikan Kutuk yang menjadi bahan baku menu Opor Kutuk di Warung Gudeg Koyor dan Ikan Kutuk Bu Djono, didatangkan langsung dari Rawa Pening (Foto: Amos Allister).

Kadungan yang cukup tinggi, berikut kondisi segar ikan Kutuk itu akhirnya menjadi sebuah masakan yang sungguh nikmat, lezat, dan bergizi di tangan Jasmani. Ketika pertama kali mencicipi masakan itu, Aslo terkejut dengan kuatnya rasa gurih yang dihasilkan dari perpaduan bumbu rahasia warung yang dikelola Jasmani itu.

Rasa gurih terasa saat Aslo menyeruput kuahnya. Setelah itu, ada sensasi unik yang terasa di mulut karena rasa rempahnya langsung muncul dan hangat di tenggorokan. Rasa itu juga tetap kuat saat dicampur nasi dan ketika merasakan daging ikan tersebut kenikmatan rempahnya juga tetap meresap hingga ke dalam.

Ikan Kutuk di warung itu sangat digemari pelanggan dari luar kota, khususnya Semarang. Jasmani menceritakan, biasanya pelancong dari luar kota yang mampir ke warungnya selalu memesan menu itu. “Misalnya, saat ada orang pulang sehabis berenang di Muncul, mereka langsung menanyakan Kutuk,” tambah Jasmani.

Warung Gudeg Koyor & Ikan Kutuk Bu Djono buka setiap hari. Jasmani biasa membuka kedai itu sejak pukul tujuh pagi hingga lima sore.

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close