Film

Lima Kanal Youtube Pilihan Redaksi Untuk Akademisi

Usai Youtube menggratiskan konten siarannya sejak Maret 2010 lalu, cara orang dalam mencari informasi khususnya di media audio-visual telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Bila dahulu kebanyakan orang mengakses dengan cara konvensional seperti melalui televisi, kini mereka bisa menggunakan gawai pintarnya untuk mengakses konten apa saja, pun dimana dan kapan saja.

Youtube sendiri, dan ini sudah diketahui banyak orang, merupakan laman daring yang dibangun tiga mantan karyawan Paypal, Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim pada 2005. Dengan laman tersebut, mereka bertiga ingin penggunanya dapat mengunggah, menonton, maupun berbagi video yang didukung perangkat lunak Adobe Flash Video.

Konten yang diunggah pengguna Youtube tentu amat beragam. Mulai dari film dokumenter, materi siaran televisi, hingga video musik. Selain itu ada juga video blog (vlog), video tutorial, bahkan video pendidikan. Kebanyakan kreatornya ialah individu yang memproduksi konten secara mandiri, namun ada juga perusahaan media massa seperti Net TV, Trans TV, MNC TV, Metro TV dan lain-lain yang turut membagikan materi siarannya.

Begitu banyak konten pendidikan yang tersebar di Youtube tentu sangat bermanfaat bagi para akademisi. Mereka dapat mencari validasi seluas-luasnya, di samping dapat membaca berbagai macam sumber rujukan seperti esai, jurnal, maupun buku. Para akademisi dapat mendengarkan ceramah para mentor, dosen, cendekiawan atau intelektual di Youtube, yang sudut pandanganya dirasa kredibel, aktual, dan faktual.

Kemudian, dan karena di bulan ini Aslo menaruh perhatian pada Hari Literasi Internasional yang diperingati pada 8 September, maka dari itu Aslo merangkum sejumlah kanal Youtube yang dirasa dapat membantu proses belajar para akademisi. Berikut adalah lima kanal Youtube pilihan kami:

    1. Video Jurnal Perempuan

Video Jurnal Perempuan (VJP) merupakan kanal Youtube asuhan Yayasan Jurnal Perempuan (YJP). YJP sendiri lahir pada 1995, dan menerbitkan Jurnal Perempuan edisi pertama pada 1996. Jurnal feminis pertama di Indonesia itu memiliki ratusan pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik dari kalangan mahasiswa, pengambil kebijakan, intelektual, maupun akademisi.

VJP didirikan YJP sejak 17 Agustus 2015 untuk mendokumentasikan kegiatan pendidikan dan pelatihan. Hasil dokumentasi itu lalu diunggah ke Youtube untuk menyebarluaskan pengetahuan secara audio-visual agar dapat menjangkau banyak penonton di era digital. Berbagai macam video yang dibagikan terdiri dari konten pendidikan publik, kelas Kajian Filsafat dan Feminisme (KAFFE), hingga film dokumenter.

    1. Jaya Suprana Show

Jaya Suprana Show merupakan kanal Youtube yang menyiarkan program talkshow sosio-politik berbasis ‘kelirumologi’ ala Jaya Suprana. Jaya Suprana sendiri umumnya dikenal sebagai seorang yang unik, namun juga jenius, kreatif, dan memiliki bakat yang amat beragam. Hubungannya dengan berbagai tokoh politik, kesenian dan agama juga harmonis. Selain itu, ia juga dikenal sebagai penulis, pianis, komponis, humoris, kartunis, filantropis, budayawan, serta pemerhati masalah sosial.

Jaya Suprana juga dikenal sebagai pengusaha. Ia adalah Presiden Komisaris Jamu Jago Grup yang didirikan sejak 1918. Pada 1990, Jaya Suprana mendirikan sebuah lembaga pencatat prestasi di Indonesia yaitu Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Melalui Jaya Suprana Show, Jaya Suprana kemudian berupaya mengulas berbagai macam persoalan dengan rumusnya, “Keliru + Logi (Logos) = ilmu menelaah kekeliruan demi mencari kebenaran”.

    1. Media Koentji

Media Koentji merupakan kanal Youtube yang dibangun untuk membagikan hal yang dianggap ‘menjernihkan pikiran’. Konten yang termuat di dalamnya, terdiri dari berbagai macam kajian seminar, ceramah, atau semacamnya. Penyelenggara seminar biasanya juga membagikan materi seminar secara gratis, dan satu-santunya syarat yang harus dipenuhi peminta materi ialah membawa flashdisk sendiri.

Cukup menarik karena kanal Media Koentji juga menyiarkan konten seminar yang disebut Ngaji Filsafat. Berbagai macam materi yang dibahas mulai dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Pasca Kebenaran (Post Truth), Filsafat Komunikasi, Filsafat Ronggowarsito dan Ramalan Masa Depan, hingga Ir. Soekarno dan Kemerdekaan. Selain itu ada juga Ngaji Filsafat, Cinta dari Plato yang dewasa ini cukup populer dari sekian banyak konten yang tersedia di kanal Media Koentji.

    1. TedxTalks

TEDxTalks merupakan kanal Youtube yang dibangun organisasi media nirlaba TED. Kanal ini digunakan untuk berbagi segala macam ide dari hasil konferensi, atau presentasi pembicara TED di seluruh dunia. Konten hasil presentasi itu dibagikan secara gratis, dan berisi suara terpercaya, ikonik, sekaligus jenius.

Tiap presentasi biasanya memiliki durasi 18 menit, atau tergantung pada waktu yang disediakan TED bagi penceramah untuk mempresentasikan materinya. TED membagikan konten segar setiap akhir pekan, dan mendapat lisensi dari Creative Commons. Oleh karena itu, pemirsanya dipersilakan untuk menautkan atau menyematkan materi publikasi, bahkan meneruskannya kepada orang lain yang dikenal oleh tiap pemirsa.

TED berasal dari susunan kata Technology, Entertainment, dan Design yang digagas seorang arsitek sekaligus desainer grafis, Richard Saul Wurman sejak 23 Februari 1984. Memang pada mulanya TED hanya fokus pada teknologi dan desain. Namun demikian, kini TED fokusnya lebih luas dan membahas berbagai macam topik misalnya kebudayaan dan ilmiah.

    1. Remotivi

Remotivi merupakan salah satu organisasi yang menjadi pusat studi media dan komunikasi di Indonesia. Lingkup kerjanya meliputi penelitian, advokasi, dan penerbitan, dan dimulai di Jakarta sejak 2010. Remotivi dibentuk atas inisiatif warga dan bersifat nirlaba untuk merespon praktik industri media.

Sejak Oktober 2014 lalu, Remotivi juga membangun kanal siarannya di Youtube. Mereka mempublikasikan materi kajian, hasil studi, atau pemantauan media khususnya televisi. Seperti dalam salah satu materi yang diunggah pada 28 Agustus lalu, Remotivi melempar pertanyaan kepada publik, “Kenapa TV Isinya Jakarta Semua?”.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close