Seni dan Budaya

Limpah Ruah dalam Laku Rupa, Puspa Warna

Sejumlah anak muda di Magelang tengah serius menggarap proyek kebudayaan. Aslo berjumpa koordinatornya, dan dari ia pula diperoleh sejumlah hal yang dapat menjadi inspirasi sebuah karya.

Galih Agus Saputra

Goni Culture menggelar bazar di museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI), Magelang, Sabtu (11/8). Bazar bertajuk Limpah Ruah itu diselenggarakan untuk mewadahi pelaku ekonomi kreatif, dan menjadi salah satu rentetan kegiatan Laku Rupa, Puspa Warna. Pengelola Goni Culture, Arief Yulindra Priyantoro, disela-sela kesibukannya mengoordinasi Limpah Ruah siang itu, rela menyisihkan waktu demi bertemu Aslo barang setengah jam. Kami berkenalan, dan ceritalah ia panjang lebar tentang seluruh kegiatan yang dikelolanya.

Laku Rupa, Puspa Warna merupakan salah satu agenda offline (baca: konvesional) Goni Culture yang, kata Arief, dianggap seksi. Agenda tersebut terdiri dari beberapa paket kegiatan yang meliputi Tangkap Cerita, Singgah, Rekam Irama, Limpah Ruah, dan Sorak Sorai Bergembira.

Tangkap Cerita yang digelar sejak akhir Maret hingga pertengahan April lalu, merupakan lomba fotografi untuk mahasiswa dan umum. Temanya Magelang, dan seluruh peserta diperkenankan mengabadikan semua momen, atau obyek vital yang ada di Magelang. “Kami meminjam kemampuan fotografi teman-teman untuk mendokumentasikan kota Magelang saat ini, yang mungkin dapat dinikmati beberapa puluh tahun mendatang. Mungkin terdengar naif, namun biasanya yang seperti itu malah tidak disangka-sangka, dan yang penting sekarang ini kita anggap menarik dulu saja, siapa tahu nantinya bisa berguna,” jelas Arief.

Sementara itu, Singgah merupakan pameran seni rupa yang diselenggarakan Goni Culture di kedai kopi Coffetaria, pada pertengahan Mei hingga pertengahan Juni lalu. Sejumlah paguyuban seni dan talenta lokal dikumpulkan di sana, untuk merespon kota Magelang dengan karya visualnya. Mereka kemudian berjibaku dalam estetika, sesuai dengan bidangnya masing-masing. Baik dalam bentuk seni grafis, lukis, maupun tulis (lettering), hingga sketsa. Tidak hanya berkutat pada warisan (herritage)-nya saja, namun kata Arief, Singgah juga menjelajah sisi ketertarikan insani (human interest) di Magelang. “Kita bercerita tentang bagaimana orang dari luar memandang Magelang. Sebenarnya ketika ada orang yang pernah berkunjung kemari, pasti ada satu memori yang nemplek (baca: melekat –red) di kepalanya. Misalnya, ketika mereka ditanya soal Magelang, mereka lalu menjawab, oh… Kupat Tahu ya? Nah, dari hal-hal sederhana seperti itulah coba kita eksplorasi dalam Singgah,” tuturnya.

Segala hal tentang musik di Laku Rupa, Puspa Warna, lantas dikemas dalam Rekam Irama. Goni Culture sengaja mendokumentasikan band lintas aliran (genre) di kota Magelang, yang kemudian ditampilkan dalam panggung Hingar Bingar, pada pertengahan Juli lalu. Sejalan dengan kegiatan tersebut, diadakan pula diskusi lini masa musik di Magelang dalam kurun waktu 10 tahun belakang. Pemantiknya ada Personil Klandestin, Combo Hell, Personil Jupiter Shop, Agung Nemo, dan dari Fumador Clown, ada Rizal D. Seperti dijelaskan Arief, ada 25 band di Magelang yang dikurasi untuk tergabung dalam proyek tersebut.

Dari 25 band itu, Goni Culture lalu membuat satu album kompilasi yang didukung dengan penerbitan jurnal. “Penjurnalannya, walapun tidak terlalu panjang, tapi dari situ kami mau ngomong soal profiling (baca: raut muka –red) band di Magelang yang mungkin sedikit banyak akan dibutuhkan orang di masa yang akan datang. Album dan jurnalnya kita packing (baca: kemas –red) jadi satu, tapi selain itu kita publikasikan juga lagu-lagunya lewat Soundcloud. Agar nanti, kalau ada orang tanya soal band di Magelang aksesnya jadi lebih mudah,” imbuh Arief.

Ekonomi Kreatif
Limpah Ruah, membuka stan ekonomi kreatif. Pelakunya menjajakan barang dagangan seperti baju, tas, topi, kaset pita, kamera analog, kerajinan berbahan kulit, kopi, cokelat, dan berbagai macam jenis penganan lainnya. Ada juga yang menawarkan jasa cuci sepatu, hingga pangkas rambut (Foto: Andreas Reuben Oktavius).

Beberapa band yang tergabung dalam proyek Rekam Irama turut diundang dalam bazar Limpah Ruah. Mereka diajak memeriahkan kegiatan yang berfokus pada ekonomi kreatif yang digiati pelaku dari Magelang itu. Kala Aslo berkunjung ke sana, tampak sejumlah stan terpampang dalam bazar tersebut, mulai dari stan penjual baju, tas, topi, kaset pita, kamera analog, kerajinan berbahan kulit, kopi, cokelat, dan berbagai macam jenis penganan lainnya. Ada juga yang menawarkan jasa cuci sepatu, hingga pangkas rambut.

Begitu banyaknya stan di Limpah Ruah tampak bersambut gayung dengan tujuan awal kegiatan tersebut. Menurut Arief kegiatan itu memang sengaja digunakan sebagai titik temu berbagai macam juru. “Acara ini sendiri sebenarnya juga salah satu puncak dari serangkaian kegiatan kami. Meskipun tergolong baru, acara yang kami kelola ini tampaknya cukup memuaskan. Di Limpah Ruah ini kami juga menampilkan delapan band yang tergabung dalam proyek Rekam Irama. Waktu Hinggar Bingar kami juga menampilkan delapan band, sementara sisanya akan kami tampilkan besok dalam Sorak Sorai Bergembira,” tambahnya.

Bincang Bisnis Pakaian dan Kuliner

Dalam mengelola Limpah Ruah, Goni Culture turut membuka sesi dialog terkait produksi hingga distribusi di bidang industri kreatif. Dialog itu dimoderatori Arief sendiri, sementara pemantiknya ada Pemilik Helliance Corp, Puguh Pangeksi, Pemilik Aygo Coffe, Ragil Dewantara, Pemilik Tycusgoth Store, Combo Hell, dan Desainer Grafis Lepas, Alfian Pramananta Wicaksono.

Puguh menceritakan bagaimana proses berdirinya Helliance Corp. Diceritakan pula awal mula ketertarikannya mendalami dunia bisnis pakaian, dan bagaimana cara bertahan, serta menghadapi selera pasar. Ada sejumlah hal yang menurut Puguh perlu diketahui pebisnis untuk menghadapi selera pasar. Misalnya, minat kreatif, mental dagang, relasi, visi-misi, dan konsep dasar. “Konsep dasar dalam pemasaran saya pikir salah satu yang penting, karena dari situ jadi tahu produk kita mau dibawa kemana,” jelasnya.

Sementara itu, Dewan dalam kesempatan dialognya, turut bercerita tentang obstacle (baca: rintangan) yang perlu diketahui dalam bisnis kuliner. Dewan sendiri tertarik dengan bisnis kuliner, khususnya kopi karena ia terinspirasi dari film Filosofi Kopi dan kebetulan suka makan. Ia juga melihat Magelang merupakan kota yang peluangnya sangat terbuka untuk bisnis di bidang makanan.

Beberapa rintangan yang perlu diketahui pebisnis, kata Dewan, terdiri dari manajerial, product knowledge (baca: pengetahuan produk), patnership (baca: rekan kerja), kompetisi, dan keberagaman pelanggan. Semua itu, dapat dimulai dengan observasi pasar. “Seorang pebisnis juga harus tangguh. Seng penting kudu yakin, kudu seneng (baca: yang penting harus yakin, harus senang –red),” imbuhnya.

Dari kiri ke kanan: Pengelola Goni Culture, Arief Yulindra Priyantoro, Pemilik Helliance Corp, Puguh Pangeksi, Desainer Grafis Lepas, Alfian Pramananta Wicaksono, dan Pemilik Aygo Coffe, Ragil Dewantara dalam sesi dialog Limpah Ruah (Foto: Andreas Reuben Oktavius).

Menyoal Karya Visual

Alfian dalam sesi dialog Limpah Ruah mendapat kesempatan bercerita tentang karya visual. Menurutnya, dewasa ini, beberapa orang ada yang menganggap belajar desain bisa dilakukan sendiri di luar sekolah atau universitas. Meski demikian, dengan mengambil kuliah di bidang desain grafis, ada beberapa materi, yang kata Alfian, tidak bisa didapat dari luar. Seperti tahapan awal, atau brainstorming (baca: tukar pikiran), hingga finishing (baca: sentuhan akhir) ke bentuk fisik.

Lalu, di sekolah desain pula, Alfian diajarkan beberapa bidang, mulai dari aspek printing (baca: percetakan), menggambar secara manual hingga digital, serta animasi. Dari situ pula, semua mahasiswa pada akhirnya bisa memilih ketertarikan masing-masing, misalnya sebagai ilustrator, atau penyusun tata letak (layout). Alfian sendiri mengaku pernah memiliki sejumlah ketertarikan. Mulanya, ia menaruh minat pada fotografi, kemudian gambar manual, layout media cetak, dan yang sedang dipelajarinya saat ini adalah animasi berbasis Adobe After Effects.

Ketika berbicara soal kapabilitas desainer, Alfian lantas tertuju pada tiga aspek penting yaitu kemampuan komunikasi secara verbal dan non-verbal, kecakapan merumuskan konsep, dan kemampuan dalam membuat karya. “Dari situ bisa diketahui apakah seorang desainer piawai dalam berkomunikasi atau tidak. Misalnya lewat tulisannya, slogan, atau karya visual lainnya yang punya dampak bagi pemirsa,” tambah Alfian.

Sebelum mengakhiri cerita, Arief juga sempat menyinggung Sorak Sorai Bergembira. Rencananya, agenda terakhir Laku Rupa, Puspa Warna itu hendak dilaksanakan pada 1 September mendatang. “Untuk tempatnya kami belum tahu, tapi sebenarnya kami tertarik di sini (museum BPK-RI, Magelang –red). Lokasinya enak dan strategis di tengah kota. Apalagi, kita juga baru tahu kali ini, kalau ternyata fasilitas di sini bisa dipakai secara gratis. Sementara untuk gambaran acaranya sendiri lebih kepada festival. Kita mau ngomongin pertunjukan sebenarnya, seperti nanti mau ada mural, fotografi, band, dan semua hal yang telah kita kerjakan sebelumnya. Ya, pokoknya kita bakalan seneng-seneng bareng di puncak acara nanti, datang saja,” kata Arief, menutup cerita disambut tawanya.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close