Ulasan

Literasi Hidup Manusia

Kita percaya literasi seseorang, atau suatu masyarakat juga terus melangkah maju. Takdir manusia yang terus semakin tumbuh dalam seluruh unsur dirinya, dan reaksi terhadap manusia lain, pun dunia, menjadikan manusia terus maju dalam mencari dan menemukan sesuatu agar semakin sehat, semakin banyak hal positif dipetik, semakin kaya, dan beragam solusi disediakan. Juga semakin dalam, semakin luas, semakin jauh cakupannya.

J.B. Sugita

Leluhur dari barat menuturkan, tempora mutantur et no mutantur in illis (baca: zaman berubah, dan kita berubah seiring dengannya). Waktu demi waktu berganti. Manusia, generasi berganti generasi. Setiap masa memiliki isi, kecenderungan, keadaan berbeda-beda. Tiada yang abadi. Maka, orang mengatakan yang abadi yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Selalu ada sepanjang manusia, dan tempat berpijaknya belum diakhiri.

Literasi: melek, tahu, menguasai, dan memiliki sesuatu. Bisa menggunakan dengan baik untuk berpikir, bertutur, bertindak, pun mengambil keputusan berkaitan dengan seperangkat pengetahuan atau keterampilan itu. Maka, ketika literasi hanya diartikan melek huruf untuk baca tulis, tentu baru menyentuh kulit.

Dalam literasi tercakup erudition, knowledge, learnedness, learning, education, dan scholarship. Dengan cakupan yang cukup luas, literasi itu kemelekan akan sesuatu yang dapat digapai dari formal maupun non-formal. Dari yang berijazah pun pengalaman, dari yang sederhana hingga sangat serius, dari keseharian hingga pengetahuan akademis yang besar. Dari cara, metode, latihan, mengulang, memperbaiki, sampai pengetahuan, informasi, keterampilan itu bisa dikuasai dan diterapkan.

Manusia zaman dulu mengatakan lancar jalan karena diturut. Ubung macht den Meister (baca: berlatih adalah yang menjadikan kita ahli) itu proses pencapaiannya. Konsep berpikir-bertindak yang tetap up to date, tetap relevan di zaman sekarang. Di era digital ini yang diperlukan pun cari tahu, latihan hingga berhasil. Lalu, aplikasikan untuk tujuan tertentu.

Istilah literasi yang dipakai sejak 1883, konon, minimal yang sedang trend, literasi kesehatan, finansial, digital, data, kritikal, visual, teknologi, statistik, dan informasi. Tidak hanya melek atau tahu soal-soal tadi, namun juga mampu bersikap, menyaring, dan menggunakannya secara positif. Mampu pula memberikan solusi manakala masalah datang.

Kita percaya literasi seseorang, atau suatu masyarakat juga terus melangkah maju. Takdir manusia yang terus semakin tumbuh dalam seluruh unsur dirinya, dan reaksi terhadap manusia lain, pun dunia, menjadikan manusia terus maju dalam mencari dan menemukan sesuatu agar semakin sehat, semakin banyak hal positif dipetik, semakin kaya, dan beragam solusi disediakan. Juga semakin dalam, semakin luas, semakin jauh cakupannya.

Non scholae sed vitae discimus (baca: kita belajar bukan untuk sekolah, tapi untuk hidup). Kita hidup bukan untuk belajar, namun belajar untuk menghidupi kehidupan. Istilah itu telah lama dikenal, tetapi akan terus tumbuh dimaknai dan semakin tepat. Bukan hanya bagaimana, dan dengan cara apa kemelekan akan sesuatu itu dapat diraih, namun bagaimana mengabdikannya untuk maslahat manusia yang kian tinggi itu yang semakin disadari.

Dengan aneka cara, melewati banyak waktu, ada di berbagai tempat, akhirnya literasi akan tubuh manusia semakin intens diperhatikan. Sedari kandungan, janin telah dikondisikan tumbuh sehat dan dikontrol. Saat balita, segala upaya teknologis pun dijangkau lewat makan-minum agar sehat, dan berfungsi normal, optimal, maksimal, mencapai dewasa. Terawat, terpelihara sehat hingga usia semakin lanjut dengan pengendalian makanan, minuman, dan gerakan.

Lewat RS Jiwa, orang sakit jiwa, secara lebuh gamblang dan sederhana, manusia juga dipaksa melek, berliterasi terhadap manusia berjiwa ini. Manusia dipastikan, tidak dengan sendirinya berjiwa sehat jika tidak diupayakan dengan serius. Pikirannya harus dididik, dilatih, diuji, dan terus dikembangkan agar berfungsi dengan normal. Jangka pendek maupun panjang, sempit atau luas, dangkal pun dalam. Negatif pun positif. Membangun atau merusak.

Pun manusia harus punya tekad, keinginan yang wajar, sehat. Harus kuat bukan lembek. Teguh akan yang luhur, mulia, dan tinggi. Emosi dan perasaan pun, khas milik manusia. Harus dikembangkan ke yang mulia, bertoleransi, simpati, empati, dan solider. Bukan, susah lihat orang lain senang, dan senang lihat orang lain susah. Tahu empan papan, kapan handarbeni sesuatu itu untuk diri sendiri, untuk orang lain, untuk Tuhan.

Puncak literasi manusia akan jati dirinya ada pada rohnya. Pengenalan atau kemelekan ini pun harus ada yang membantu mengenalnya, mencelikkannya sampai memiliki juga rohani yang sehat, yang juga tidak dengan sendirinya manusia dapatkan. Roh yang sehat tidak hanya identik dengan beragama, berdoa, bernyanyi memuji Allah, beribadah seperti yang seharusnya. Yang tampak di mata itu harus mengantarnya, mengenal Sang Pencipta dengan benar, menuruti jalan yang Ia tetapkan, seturut yang Dia maui, bukan menurut kemauan, pikiran, tafsiran kemanusiaan kita semata.

Literasi akan rohani yang sehat mewarnai seluruh sepak terjang semua unsur jiwanya, pikiran, tekad, emosi-perasaan sang literatus, orang yang sedang menyempurnakan litetasinya. Jiwanya akan dihidupi tidak hanya ikut arus dunia, tetapi juga yang lebih terpuji, yang membuat Dia berkenan. Literasi rohani yang tepat, pun membawa tubuhnya terawat, awet, sehat, panjang usia agar semakin tersedia waktu meniti hidup seturut petunjuk dan jalan-Nya. Menjadi berkat untuk semakin banyak orang. Philophus non curat, orang bijaksana tidak pernah menyerah, untuk terus meninggikan literasinya.•

Palembang, Rabu, 12 September 2018

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close