Seni dan Budaya

Mae, Narasi Perempuan Indonesia di Masa Pendudukan Jepang

Maesaroh merupakan anak kesayangan sang Ayah. Juga pujaan hati Kang Uja, lelaki yang hendak menikah dengannya setelah Indonesia merdeka. Namun, sungguh nahas, keadaan berubah total semenjak datangnya tentara Jepang. Mae dan rombongan ronggengnya dibawa secara paksa, hingga kemudian dijadikan wanita penghibur.

Galih Agus Saputra

Galeri Indonesia Kaya kembali mempersembahkan teater, yang kali ini mengambil lakon Ronggeng Kulawu, Minggu, (26/8). Naskahnya ditulis Endah Dinda Jenura, dan sutradaranya Wawan Sofwan. Dalam pertunjukan yang masih mengusung semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 itu, Maudy Koesnaedi dipercaya untuk memerankan tokoh utamanya, Maesaroh. Lawan mainnya adalah Andi Kanemoto, yang berperan sebagai Kapten Kazuo Ito. Sementara Ronggeng Kulawu sendiri, kisahnya tentang Maesaroh atau Mae, seorang penari ronggeng dari Dusun Kulawu.

Dalam Ronggeng Kulawu, diceritakan tugas utama seorang penari ronggeng adalah membuat suasana semarak dan ceria. Suatu pekerjaan yang amat mudah bagi Mae, karena di dekatnya orang-orang merasa hangat dan gembira. Sialnya, suatu ketika keadaan berubah total kala tentara Jepang datang. Semula, mereka tiba dengan membawa janji dan harapan baru bagi Indonesia, yang sebelumnya dijajah Belanda. Namun, minggu demi minggu, bulan demi bulan, setelah kedatangan Jepang, kehidupan Mae dan kebanyakan perempuan rupanya tak bertambah mudah.

Teater
Dalam Ronggeng Kuwalu, diceritakan sosok Maesaroh, penari ronggeng yang diculik secara paksa dan dijadikan wanita penghibur oleh tentara Jepang (Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya).

Alih-alih membawa kemerdekaan, Jepang justru semakin menambah kesengsaraan dengan merebut apa saja yang dimiliki Indonesia. Kedatangannya justru semakin menambah petaka bagi bangsa, termasuk Mae dan rombongan ronggeng lainnya. Mae juga harus rela berpisah dengan sang Ayah yang begitu menyayanginya. Pun pria tercinta, Kang Uja yang hendak dinikahi pasca Indonesia merdeka turut ditinggalkannya.

Mae dan rombongan ronggengnya dibawa secara paksa, hingga kemudian dijadikan wanita penghibur oleh tentara Jepang. Perjalanan Mae lantas menuntun pertemuannya dengan Kapten Kazuo Ito. Mae dijadikan gundik, sekalipun hidup bersama Kapten Kazuo menjadi lebih baik. Kapten Kazuo, katanya, teringat akan sosok Ibunya yang berada di Jepang saat bertemu Mae. Kisah cinta mereka kemudian dipenuhi latar belakang politik, dan kekuasaan antar dua negara: yang menjajah dan dijajah.

Perjuangan yang Terlupakan

Sosok Maesaroh dalam lakon Ronggeng Kulawu, kata Wawan, merupakan salah satu gambaran kehidupan perempuan Indonesia di masa penjajahan Jepang. Dimana kala itu, banyak perempuan yang dibawa dan dipaksa menjadi seorang wanita penghibur dan diperlakukan secara tidak adil. Tidak hanya oleh tentara Jepang, perempuan itu juga dipandang sebelah mata oleh orang-orang sebangsa. “Mereka hanya dianggap sebagai seorang perempuan yang mengkhianati bangsanya karena hidup bersama para penjajah,” imbuh Wawan, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat.

Maudy juga mengatakan, Maesaroh merupakan salah satu di antara sekian banyak perempuan yang harus menghadapi kekejaman di masa penjajahan Jepang. Banyak asa dan cita-cita, juga mimpi yang harus mereka tanggalkan pada masa itu. Meskipun diperlakukan secara tidak adil, Maesaroh tumbuh menjadi seorang perempuan yang tangguh dan ingin merdeka. “Perjuangan Maesaroh tidak hanya untuk melawan para penjajah Jepang, tapi juga untuk bangsanya dan juga untuk dirinya sendiri. Saya harap para penikmat seni dapat memahami pesan yang ingin kami sampaikan dalam lakon Ronggeng Kulawu ini,” jelasnya.

Teater
Melalui sosok Maesaroh sebagai lakon dalam “Ronggeng Kulawu”, diharapkan penikmat seni dapat mengerti perjuangan perempuan yang tak pernah berhenti menentang kekerasan fisik dan seksual, di masa pendudukan Jepang (Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya).

Dewasa ini, banyak orang yang sudah tahu bahwa kemerdekaan Republik Indonesia, menurut Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, merupakan buah hasil dari perjuangan pahlawan yang telah gugur di medan perang. Namun demikian, tak banyak yang tahu kalau di balik perjuangan pahlawan ada juga perjuangan perempuan yang tak pernah berhenti menentang kekerasan fisik dan seksual. “Hari ini, bersama Maudy Koesnaedi dan Andi Kanemoto, kami mengajak para penikmat seni untuk menyaksikan perjuangan seorang perempuan untuk merasakan kemerdekaan. Melalui lakon Ronggeng Kulawu ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan perjuangan yang telah dihadapi para pendahulu kita,” terangnya saat menutup cerita.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close