Seni dan Budaya

“Mampir Ngombe” di Uwit Art Space

Kata seorang cendikia setengah tua dari Jakarta, cinta itu barang purba. Bahkan sudah ada sebelum oksigen tercipta. Maka, wajar jika cinta itu tidak terkikis walau nafas sudah habis.
Dan, malam itu angin berhembus kencang di bawah langit penuh gemerlap bintang. Sandrayati Fay bersama Guna Warma juga datang untuk Afi dan Made yang selalu dikenang.

Galih Agus Saputra

Malam itu malam jumat (5/7) dan kesibukan seminggu hampir saja lewat. Meski begitu, ada yang ditunggu-tunggu. Sandrayati Fay dan Guna Warma membawa buah tangan berupa lagu. Gelarannya Mampir Ngombe, di Uwit Art Space, Togaten, Salatiga. Banyak pula anak muda yang datang menunggu penampilannya.

Sementara menunggu Sandra dan Guna Warma, mereka yang datang lalu duduk bersama untuk saling lempar cerita, canda, dan tawa. Ada anak kecil juga, tampak riang gembira. Ia berlari kesana-kemari dengan anak lainnya, ditemani sang ibu yang berdiri dekat sambil mengawasinya. Lalu, pemandangan itu hilang. Ternyata, kini ia asyik dengan ikan-ikan kecil yang tampak bersinar, memantulkan cahaya dari sorot lampu yang menembus air dalam kolam.

“Boleh aku pegang, Ma,” kata anak itu sambil melirik ibunya.

“Iya. Hati-hati, sudah malam. Nanti baju hangatmu basah,” jawab sang ibu, sambil menggulung lengan baju anaknya ke atas siku.

Tak lama kemudian, lumayan jelas terdengar suara perempuan.

“Hai… Kamu cari apa?”

“Ikan, tante. Tadi ada yang warnanya biru,” jawab anak itu, sementara semua ikan di dalam kolam berwarna merah, putih, dan ada juga yang berwarna merah bercampur putih.

Tampaknya, ialah Sandra (sapaan akrab dari Sandrayati) yang entah datang dari mana. Tiba-tiba saja ia sudah berada di antara orang-orang yang datang menunggu penampilannya. Di sisi lain, terdengar suara pria dari pengeras suara, “cek… cek… cek… ”.

Dan kali ini ialah suara Guna Warma. Tampak di sebelah kanan panggung, ia tengah jongkok dan sibuk mengatur pengeras suara (soundsystem) yang digunakan Sandra untuk bermain gitar sambil menyanyikan lagunya.

Keroncong Pemuda Kekinian (KPK) dari Salatiga malam itu juga tampil sebagai band pembuka. Mereka yang datang tampak menggoyangkan ibu jari, ada juga yang menggoyangkan pinggul mengikuti irama lagu Sri Rejeki yang dibawakan KPK. Setelah itu, muncul lah Sandra sambil membawa gitar kemudian menyanyikan lagunya.

***

Jangan lupa laguku. Yang cuma kau tahu. Kau pegang hatiku. Sambil tumbuh. Sambil tumbuh.

Kalimat di atas merupakan penggalan lirik salah satu lagu yang dibawakan Sandra malam itu. Judulnya Rumah Hati. Lagu itu menjadi bagian dari mini album (extended play) yang dirilisnya tahun lalu, bersama Danilla Riyadi dan Rara Sekar. Mereka bertiga menulis lagunya masing-masing, kemudian direkam secara langsung di ruang terbuka, lalu dikemas menjadi satu dalam album Bahasa Hati sebagai bagian dari Daramuda Project.

Selesai membawakan satu lagu, Sandra yang malam itu tampak kedinginan merasakan udara malam di Salatiga, kemudian menyanyikan lagu Suara Dunia. Melalui lagu itu, Sandra mencoba bercerita tentang masyarakat adat Mollo, di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia sangat terinspirasi dengan cara mereka melindungi kelestarian tanah. Salah satu sosok yang ia kagumi, katanya, adalah Mama Aleta. Sosok perempuan yang amat kuat sekaligus berpengaruh terhadap pemberdayaan perempuan di sana. Berikut adalah penggalan lirik lagu yang turut dinyanyikannya,

Kita kini melihat semua di luar. Ada juga di dalam, dalam.
Darahku Air. Batu Tulangku. Tanah Ini Tubuhku.

Sandrayati Fay dan Guna Warma membawakan lagu dalam Mampir Ngombe, di Uwit Art Space, Salatiga, pada 5 Juli 2018 (Foto: Galih Agus Saputra).

Untuk Afi dan Made

Suasana malam kemudian terasa sedikit hangat. Lalu menjadi semakin hangat ketika Guna Warma bernyanyi bersama Sandra. Mereka berdua juga punya lagu yang digarap bersama. Bahkan tidak hanya berdua, lagu berjudul Kita yang dibawakan malam itu, mereka garap bersama Nosstress, band asal Bali yang salah satu personilnya adalah Guna Warma.

Lalu, Sandra dan Guna Warma telah usai membawakan lagunya. Acara dilanjutkan dengan kongko untuk membahas Mampir Ngombe. Kata Sandra, acara itu ialah salah satu rangkaian dari kegiatan yang diselenggarakan untuk mengenang teman sesama seniman, Afiriana Dewi dan Indra Made yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas, di Jalan Raya Sakah, Sukawati, Gianyar, Bali, pada Maret lalu.

Mendiang Afi ialah pelukis, sekaligus penulis puisi kelahiran Yogyakarta. Ia juga calon istri dari Mendiang Made, pemain bas Navicula. Keduanya bertemu dalam Festival Mata Air (FMA) 2016, yang kala itu berlangsung di Sitinggil, Muncul, Kabupaten Semarang.

“Kemarin malam kita juga buat acara di Sitinggil, tempat bertemunya Afi dan Made untuk pertama kalinya. Kita nyanyi-nyayi di sana, ada api unggun, baca puisi bersama teman-teman. Sebelumnya kita juga buat acara di Rumah Sanur, Bali, lalu di Yogyakarta. Kita kumpulkan karya-karya Afi lalu buat pameran untuk dia,” jelas Sandra.

Melalui acara itu pula, Sandra berharap hubungan antar seniman bisa menjadi semakin erat. Para seniman dapat membangun jembatan untuk saling bertukar ide, cerita, atau berkolaborasi untuk menghasilkan karya.

“Teman-teman di Salatiga kalau punya karya juga bisa dibawa ke Bali. Sebaliknya, teman-teman di Bali juga bisa tur ke sini untuk karyanya,” imbuhnya.

Malam itu, Mampir Ngombe kemudian ditutup dengan penampilan KPK. Sementara mereka yang hadir, kemudian kembali beranjak dari tempat duduk untuk menari bersama.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close