Kuliner

Mbok Tomblok dan Jembaknya

Kalau kanca dhahar tahu rolade, biasanya makanan itu terbuat dari daun singkong yang digulung bersama tahu, kemudian dicelup ke dalam tepung dan digoreng. Rasanya nikmat, apalagi saat panas. Tapi, rolade dari Umbul Senjoyo berbeda, Mbok Tomblok membuatnya dari Selada Air atau yang kerap disebut Jembak, dan boleh diadu rasanya.

Wahyu Turi

Bagi kanca dhahar di Salatiga dan sekitarnya, barang kali sudah tidak asing lagi dengan jajanan khas di Umbul Senjoyo, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ya! Namanya, Rolade Jembak. Dari lima warung kecil yang menjual Rolade Jembak di Umbul Senjoyo, terdapat salah satu warung yang cukup banyak disambangi pengunjung. Letaknya di sisi paling selatan dan warung yang terbuat dari papan kayu itu dimiliki perempuan yang akrab disapa Mbok Tomblok.

Mbok Tomblok usianya 50 tahun, nama aslinya ialah Partiyem. Ketika Aslo berkunjung ke sana, tampak beberapa orang selesai berenang lalu duduk di pawon (baca: dapur) untuk menanti kenikmatan Rolade Jembak buatan Mbok Tomblok yang tengah digoreng. Mbok Tomblok sendiri mengaku sering kewalahan melayani pembeli. “Goreng terus. Habis masukkan adonan ke penggorengan langsung dipesan orang, jadinya ya tidak pernah berhenti,” tutur Mbok Tomblok sore itu kepada Aslo, (21/7).

Berawal dari Pecel

Sembari menggoreng, Mbok Tomblok menceritakan bagaimana awal perjumpaannya dengan Jembak. Mulanya, Mbok Tomblok jualan Pecel Jembak di lokasi yang sama dan pada suatu waktu, ia penasaran untuk memasak Jembak dicampur tahu, lalu digoreng dengan tepung. Seperti orang menggoreng rolade pada umumnya.

“Waktu itu, orang di rumah doyan semua dan senang. Lalu mulailah saya jualan Rolade Jembak di sini,” imbuhnya.

Hingga saat ini, Mbok Tomblok sudah berjualan Rolade Jembak kurang lebih 20 tahun. Mbok Tomblok juga masih menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat. Baginya, memasak menggunakan tungku membuat Jembak gorengannya matang sampai dalam. Rempah-rempah yang ia gunakan ialah Merica, Bawang Putih, Garam, serta Kemiri.

Mbok Tomblok mengambil Jembaknya di sekitar sumber mata air yang ada di Umbul Senjoyo. Jembak yang tumbuh di sana, kata Mbok Tomblok, berbeda dengan Jembak yang tumbuh di sawah atau rawa. Akarnya berwarna putih bersih, karena tumbuh di sumber mata air yang jernih.

Pada suatu waktu, Mbok Tomblok pernah kehabisan Jembak dari Umbul Senjoyo. Ia tidak dapat memanen Jembak di sana karena kebanyakan Jembak mati ketika hujan deras atau debit air meluap. Mbok Tomblok lantas mencari atau membeli Jembak di tempat lain. “”Tapi waktu digoreng rasanya tidak enak,”” tutur Mbok Tomblok.

Mbok Tomblok kini tidak pernah mencari Jembak dari tempat lain lagi. Ia lebih mantap menjual Rolade Jembak, yang Jembaknya dipanen dari Umbul Senjoyo. Ia juga mengatakan, tiap harinya menghabiskan lima kilogram tepung, sementara di akhir pekan ia menghabiskan tepung untuk Jembak kurang lebih 10 kilogram.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close