Film

Memahami Arti dan Harmoni Batik dari Sekar Jagad

Sosok Sekar tampil sebagai gambaran bahwa sesungguhnya keindahan pola dan motif batik bukan hanya milik kita semata. Tapi juga untuk mereka, yang tunanetra.

Galih Agus Saputra

Dewasa ini, aku selalu kesulitan kala membayangkan bagaimana caranya menjelaskan warna kepada penyandang tunanetra. Bagaimana cara menjelaskan kepada mereka tentang ‘merah’, ‘putih’, ‘hijau’, ‘kuning’, ‘ungu’, dan ‘biru’? Seumur hidup tak pernah terpikirkan olehku. Tapi, Sekar tiba-tiba muncul. Gadis tunanetra kesayangan simboknya itu tampak seperti mengerti kegelisahanku. Bahkan, ia tidak hanya dapat memahami warna dasar, padat (solid). Ia tahu bagaimana cara merasakan komposisi warna yang cukup rumit dalam batik.

Mula-mula, batik bagi Sekar adalah harmoni atas suara yang keluar dari proses pembuatannya: selembar kain ditata, dicanting dengan berbagai macam motif, dicelup pada carian berwarna, hingga dijemur di tiang bambu yang kemudian kering karena hembusan angin yang menerpanya. Namun, batik bagi Sekar tampaknya juga punya bau. Dari malam yang segera menyengat indra penciuman, kala ia menghampirinya. Dari canting yang menari-nari di atas kain karena imajinasi pembuatnya, Sekar lantas belajar bahwa batik tampaknya juga punya sentuhan. Dan, yang tidak kalah penting, batik adalah mata bagi Sekar untuk merasakan dunia yang luas, bersama ribuan warna yang dijelaskan oleh seorang Ibu secara bijaksana. Dan, oleh karena itu pula Sekar menganggap bahwa batik adalah Ibunya.

Sekar lahir dari seorang Ibu yang menjadi pengrajin batik tulis. Di tengah terpaan media sosial yang begitu masif saat ini, sang Ibu sedang dihadapkan pada kondisi yang tidak kalah sulit: persaingan industri batik tulis dan cetak (printing). Meski demikian, ia tidak terlalu menghiraukan persoalan tersebut. “Kalau semua mau buat batik printing, lalu siapa yang akan membuat batik tulis?” kata sang Ibu kepada salah satu pegawainya, yang mengusulkan agar ia membuat batik printing untuk mengejar konsumen.

Batik
Film ‘Sekar (2018)’ menampilkan aktris senior Indonesia, Christine Hakim sebagai Ibu (kanan) dan bintang muda berbakat Sekar Sari sebagai Sekar (kiri) (Foto: Tangkapan Layar film ‘Sekar (2018)’).

Batik bagi sang Ibu adalah perjalanan ‘hidup’, ‘tekad’, dan ‘pilihan’. Namun sesungguhnya, ketika bicara soal batik, sang Ibu menganggapnya sebagai ‘cinta’. Cinta kepada anaknya Sekar, yang di lain kesempatan mewujud dalam sebuah karya: batik Sekar Jagad. Bukan tanpa sebab pula, batik itu dibuat oleh sang Ibu untuk anaknya yang hendak dinikahi oleh seorang pemuda.

“Seorang pemuda akan diwisuda. Dia punya cita-cita yang besar,” kata sang Ibu.

“Seperti ombak yang akan terus datang di hidupnya,” balas Sekar, sambil meraba Batik Parang di hadapannya.

“Semoga dia pantang menyerah,” timpal sang Ibu, yang kemudian mencium kening Sekar dalam pelukannya.

Dari Sekar, pemuda itu juga belajar banyak hal soal batik. Maka dari itu, ia menganggap bahwa batik adalah ‘inspirasi’, sekaligus ‘pengetahuan’ yang tiada habisnya dan menjadi ‘warisan para leluhur’ yang patut dijaga. Dari Sekar pula pemuda itu belajar bahwa canting memiliki berbagai macam jenis seturut fungsinya. Ada yang dapat digunakan untuk membuat motif garis, titik, maupun blok (block) dalam sebuah karya yang sedemikian indah, misalnya Batik Semen yang pada mulanya terinspirasi dari musim semi.

Batik
Pemuda yang hendak menikahi Sekar dalam film “Sekar (2018)’ diperankan oleh Marthino Lio (Foto: Tangkapan Layar film ‘Sekar (2018)’).

Sekar adalah tokoh utama dalam film pendek Sekar (2018) yang dirilis Galeri Indonesia Kaya, pada 28 September lalu. Melalui film yang dipublikasikan melalui kanal Youtube Indonesia Kaya dan berdurasi delapan menit itu, mereka sengaja hendak menyampaikan pesan kepada penontonya agar senantiasa merawat dan menjaga batik sebagai warisan lelulur, sekaligus untuk merayakan Hari Batik Nasional 2018. Bagi Galeri Indonesia Kaya, di tengah maraknya budaya modern yang semakin mendominasi dan menggerus budaya tradisional yang ada di Indonesia, batik masih bertahan dengan mengusung nilai-nilai luhur, dan senantiasa menunjukkan jati diri bangsa. Meski demikian, batik rupanya juga tak luput dari sentuhan modernitas itu sendiri: teknik batik tulis yang secara manual dikerjakan oleh tangan terampil manusia, dengan tingkat kesabaran, keuletan, dan ketelitian yang tinggi telah banyak ditinggalkan oleh para pembatiknya, ke proses pembuatan yang lebih modern dan praktis. Sekar (2018) yang dipublikasikan Galeri Indonesia Kaya itu digarap oleh Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Titimangsa Foundation dan FourColours Film. Naskahnya ditulis, sekaligus disutradarai Kamila Andini, sementara produsernya adalah Happy Salma dan Ifa Isfansyah. Film tersebut turut menampilkan aktris senior Indonesia, Christine Hakim dan bintang muda berbakat Sekar Sari dan Marthino Lio.

Aku berpikir bahwa Sekar (2018) sesungguhnya merupakan film esai. Melalui film itu, kita dapat melihat persoalan atau tantangan yang dewasa ini tak jauh dari keberadaan batik, yang harus menghadapi persoalan sosial, budaya, dan ekonomi, di tengah derasnya arus perkembangan teknologi informasi, dan komunikasi. Pesan yang disampaikan cukup kuat. Meski hanya disajikan lewat film pendek, namun justru pemilihan jenis film itu lah yang rasanya sangat tepat karena dapat membingkai persoalan secara sikat, jelas, dan padat sehingga dapat dengan segera ditangkap oleh pemirsanya. Sekar, kini kiranya telah memberiku inspirasi untuk menjelaskan warna kepada penyandang tunanetra, terlebih lagi akan indahnya motif batik sebagai produk kebudayaan di Indonesia, yang memang sudah kaya dari sononya.•

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close