Film

Memahami Suara Rimba

Masyarakat pedalaman memiliki kecerdasan tersendiri. Tapi mengapa peradaban mereka dianggap kalah dengan peradaban modern? Jawabannya, ada di penemuan teknologi modern itu sendiri.

Satya Adhi

Teknologi punya sifat hegemonik. Aksara, menjadi teknologi yang paling hegemonik di antara semuanya. Merubah standar peradaban Orang Rimba dan masyarakat adat lain seturut arus modernisasi. Teknologi keaksaraan yang masuk ke peradaban Orang Rimba tergambar jelas dalam film Sokola Rimba (2013). Film itu perlu mendapat sorotan khusus ketika mengkaji Orang Rimba. Tidak hanya karena diangkat dari kisah nyata, di dalam Sokola Rimba kita bisa menemui pergulatan Orang Rimba dalam menekuni budaya keaksaraan.

Sokola Rimba berlatar Indonesia pasca Reformasi. Abdurrahman Wahid masih menjadi presiden. Dikisahkan, seorang perempuan bernama Saur Marlina Manurung atau Butet Manurung, bekerja di sebuah lembaga “perlindungan” ekosistem di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Butet bekerja sebagai guru bagi anak-anak Orang Rimba. Mengajari mereka membaca dan berhitung.

Butet memiliki dua konflik. Konflik dengan lembaga tempatnya bekerja dan konflik dengan dirinya sendiri. Lembaga tempatnya bekerja lebih mementingkan citra lembaga lewat sorotan media agar terus mendapat asupan dana dari donatur. Sementara Butet benar-benar ingin membantu anak-anak rimba. Konflik intrapersonalnya terjadi juga akibat sorotan media. Stempel sebagai “Pahlawan Pendidikan Orang Rimba” yang diberikan media justru membuatnya risih. Media dan orang luar tidak tahu, kalau sebenarnya Butetlah yang banyak belajar dari Orang Rimba, bukan sebaliknya.

Butet ingin sekali memasuki kawasan hutan yang lebih dalam, Makekal Hilir, untuk mengajar di sana. Makekal Hilir adalah kawasan di mana Orang Rimba yang tinggal masih sangat tertutup dengan dunia luar. Butet berhasil sampai dan mengajar di sana, tapi akhirnya mendapat penolakan. “Perempuan macam apa berjalan sendirian mambawa pensil. Kalau membawa pensil, nanti banyak anak yang sakit. Aku tidak mau anakku ikut belajar. Kalau dia ikut belajar, nanti dia pergi dan tidak kembali,” gerutu para perempuan Orang Rimba ketika Butet mengajar di sana.

Bahkan dalam kepercayaan adat, mereka melalui cara yang mungkin irasional, sudah tahu kalau teknologi keaksaraan memiliki daya hegemonik yang dahsyat. Awalnya, ada seorang anak dari Makekal Hilir yang datang ke Hulu untuk belajar. Ke mana pun, ia selalu membawa sebuah gulungan kertas yang belum bisa ia baca. Di akhir film, akan diungkap bahwa gulungan kertas tersebut adalah surat perjanjian antara perusahaan kayu dan Orang Rimba. Isinya jelas; membolehkan para penebang untuk mengambil kayu di lingkungan hidup Orang Rimba. Para penebang menyerang Orang Rimba dengan surat yang tidak bisa mereka baca. Satu cap jempol saja dari Tumenggung (Kepala Adat) akan melegalkan para penebang untuk mengambil kayu. Si bocah sadar untuk melawan “pensil,” mereka harus menguasai “pensil” juga. Orang Rimba mempelajari aksara bukan karena peradaban mereka kekurangan teknologi mutakhir. Alam telah menyediakan segalanya untuk mereka. Tapi Orang Rimba terpaksa mempelajari aksara karena dihantam terlebih dahulu oleh modernitas.

Sebuah pernyataan yang menjelaskan hal itu tergambar jelas di film. Suatu hari dua anak Rimba mendengar para penebang tengah menebang pohon seenaknya. Bertanyalah mereka ke Butet, kenapa para penebang itu terus menggerogoti kayu-kayu di hutan. Sampai akhirnya terceletuk sebuah pernyataan dari salah satu bocah, “Bu Guru, kalau nanti kami sudah pintar, kami bisa menahan orang luar mengambil kayu”.

Di situ, tergambar jelas motif Orang Rimba dalam mempelajari aksara. Yaitu untuk mempertahankan hak hidup mereka. Butet sadar akan hal tersebut. Walau ia tahu sebenarnya Orang Rimba tidak membutuhkan apa-apa dari kehidupan modern. Dalam ceramahnya di hadapan mahasiswa di sebuah kampus, ia dengan tegas mengatakan, “Orang Rimba sebenarnya tidak membutuhkan kita. Mereka tidak membutuhkan apa-apa dari dunia ‘terang’. Tapi kini mereka terdesak untuk ikut ke dalam arus pembangunan ini”.

Orang Rimba yang dipandang serba dalam keterbatasan, justru berhasil dalam segalanya. Termasuk berhasil dibodohi. Sementara orang-orang “modern” yang katanya punya segala sesuatu, bisanya cuma satu: membodohi. Standar peradaban yang telah Orang Rimba anut selama ratusan tahun, terpaksa berubah karena sebuah teknologi aksara yang mematikan.

Pergulatan antara Kelisanan dan Keaksaraan

Suku-suku pedalaman seperti Orang Rimba pada dasarnya dibentuk lewat budaya lisan yang kental. Ini bisa dikenali dari budaya dan tradisi yang mereka anut. Mantra dan nyanyian, misalnya. Salah satu ciri budaya lisan yang membentuk peradaban Orang Rimba adalah kedekatannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Benda-benda yang terucap dalam keseharian mereka, pasti adalah benda-benda yang pernah mereka lihat langsung. Budaya lisan–apalagi kelisanan primer, yang belum pernah mengenal aksara sama sekali–tidak mungkin menyertakan kata-kata yang sulit terimajinasikan. Bila Orang Rimba mengatakan “foto”, pasti mereka sudah pernah melihat dan mengetahui apa itu “foto.” Sehingga tidak perlu susah payah membayangkan seperti apa bentuk “foto,” itu. Budaya lisan semacam ini akan membentuk komunalitas kelompok dan kedekatan lingkungan secara kuat.

Hal itu tentu sangat berbeda dengan budaya keaksaraan. Aksara memungkinkan pengimajinasian hal-hal abstrak seperti “keadilan,” “intelektualitas,” dan “virtual,” yang tidak bisa dilihat langsung. Kini, coba bayangkan pergulatan keras Orang Rimba untuk beralih dari peradaban lisan ke tulisan. Untuk memudahkan Orang Rimba mempelajari aksara, Butet Manurung harus mendekatkan huruf-huruf dan angka-angka ke kehidupan sehari-hari mereka. Awalnya Butet harus menyesuaikan sistem abjad ke dalam sistem pelafalan Orang Rimba. Ini mutlak harus dilakukan untuk mengajari orang-orang dengan bahasa dan–yang paling penting–pola pikir yang berbeda. Dalam Sokola Rimba juga bisa ditemui adegan Butet dan anak-anak rimba berjalan-jalan di hutan sambil melafalkan hasil belajar mereka. Mirip seperti anak kecil ketika mempelajari tulisan untuk pertama kalinya. Kecerdasan Orang Rimba bisa terlihat saat mempelajari aksara. Rata-rata, dua sampai tiga minggu mereka sudah bisa membaca! Sejenak, coba ingat-ingat, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk belajar membaca?

Tidak berhenti di pengajaran aksara, Butet juga memberikan pelajaran aplikatif bagi Orang Rimba. “Kita ada yang namanya aplikasi literasi. Bagaimana mereka (Orang Rimba) menerapkan literasi ini ke sehari-hari. Belanja di pasar, melihat expire date (baca: tanggal kedaluarsa). Terus ke dokter bisa melihat cara-cara pemakaian obat… sampai sebenarnya ujung-ujungnya tuh di advokasi,” katanya saat berbicara di Mata Najwa, pada 29 April 2015.

Dengan menguasai “pensil,” diharapkan Orang Rimba sadar akan hak-hak hidupnya. Di akhir film Sokola Rimba sendiri, dampak pembelajaran aksara oleh Orang Rimba dalam hal advokasi bisa ditemui. Seperti biasa, orang-orang “terang” yang ingin menebang kayu menyodorkan surat perjanjian ke salah satu Rombong (kelompok) Orang Rimba. Dengan imbalan sejumlah bahan makanan, diharapkan Tumenggung mau memberikan cap jempol di surat tersebut. Seorang anak lantas memohon izin untuk membaca isi surat terlebih dahulu. Hal mengejutkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, setelah membaca isi surat, si anak menolak salah satu poin perjanjian yang tertulis. Aksara yang menyerang Orang Rimba, telah menjadi tameng bagi kehidupan mereka.

Namun celakanya, masuknya teknologi aksara ke dalam sebuah peradaban akan memengaruhi seluruh bentuk peradaban tersebut. Lihat saja bagaimana mesin cetak Gutenberg mengubah peradaban Eropa menjadi seperti sekarang. Apa yang kemudian akan terjadi pada Orang Rimba setelah mereka mengenal aksara? Di Mata Najwa edisi 29 April 2015 itu pula, penonton bisa melihat pemandangan menakjubkan sekaligus memprihatinkan. Saat itu narasumber utamanya Butet Manurung. Dalam salah satu segmen, Najwa memanggil tiga Orang Rimba yang dulu pernah menjadi murid Butet. Imaji langsung meluncur ke orang-orang bercawat dan kehidupan mereka yang dekat dengan alam. Tapi yang muncul kemudian di hadapan kamera adalah tiga remaja berkemeja, bercelana jins, bersepatu. Imaji lain yang kemudian muncul, betapa tersiksanya mereka untuk beralih dari cawat ke celana jins. Untuk beralih dari kenyamanan hutan ke keriuhan urban. Untuk beralih dari kelisanan ke keaksaraan.•

Facebook Comments
Tag

Satya Adhi

Pembeli buku diskonan, penonton film gratisan. Meminati sastra, juga kajian media dan jurnalisme. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di pjalankaki.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close