Resensi Buku

Membaca Galeria Salatiga

Galeria Salatiga merupakan buku ketiga yang ditulis Eddy Supangkat. Sebenarnya, ini semacam panduan singkat bagi pembaca untuk mengenal Benda Cagar Budaya di Salatiga.

Galih Agus Saputra

Kalau hendak bertanya, siapa orang yang cukup paham soal Salatiga, barang tentu jawabannya adalah Eddy Supangkat. Sejak kecil, ia sudah berburu berita sekaligus rajin membuat kliping soal Salatiga. Rasa cinta dengan kota kelahirannya itu, kemudian membuat Eddy semakin serius untuk mendalami bab-musabab Salatiga. Ia menjaring data demi data, mengakses arsip demi arsip, dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya, hingga pada akhirnya terbitlah sejumlah buku yang ditulisnya.

Pada 2001, Eddy menerbitkan buku pertamanya berjudul Salatiga, Kota Seribu Nuansa. Lama kemudian, ia memperbanyak sekaligus memperbarui datanya dan menerbitkan Salatiga, Sketsa Kota Lama yang terbit pada 2007. Tiga tahun kemudian, Eddy menerbitkan buku yang, katanya, “tak ubahnya sebuah galeri dengan harapan mampu menyadarkan semua pihak betapa Salatiga pernah begitu cantik di masa lalu”.

Buku itu lantas Eddy beri judul Galeria Salatiga dan terbit pada 2010. Tebalnya 197 halaman, pembaca dapat melihat ratusan foto yang menampilkan bangunan kuno di Salatiga. Tidak hanya itu, pembaca juga dapat mengetahui sejarah atau cerita singkat soal bangunan tersebut. Eddy benar-benar menyusun buku itu bak galeri foto lengkap dengan penjelasan yang gampang ditangkap pembaca.

Kali pertama membuka itu, penulis barang tentu hanya menghabiskan waktu tiga jam untuk melahap seluruh isinya. Ini bukan soal pamer kemampuan baca si penulis, akan tetapi ini berarti bahwa buku tersebut memang dikemas seringan mungkin untuk ditangkap pembacanya. Dan, yang lebih penting, bila buku itu sudah di tangan pembaca, sebagaimana dikutip dari pernyataan Eddy di pengantarnya, “siapapun yang merasa cinta Salatiga harus terpanggil untuk ikut melakukan konservasi agar citra Salatiga sebagai kota yang klasik tetap melekat untuk selamanya”.

Tangsi Militer dan Sentra Kopi

Galeri Salatiga pada bab pertama bercerita tentang kota Salatiga, yang di masa lampau dianggap strategis oleh Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Oleh karena itu pula, mereka menjadikan Salatiga sebagai kota militer atau yang dikenal pula sebagai kota garnisun. Dalam perkembangannya, kata Eddy, Salatiga juga sempat menjadi markas besar pasukan kavaleri dan artileri dari tentara kerajaan Hindia-Belanda yang disebut Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Bahkan, saking pentingnya Salatiga, dahulu pemerintah Hindia-Belanda sempat memiliki landasan pesawat terbang di Kompleks Militer Ngebul (sekarang menjadi Batalyon Infateri 411, di Jalan Ahmad Yani, Salatiga).

Di samping menjadi kota militer, dahulu Salatiga tampaknya dipandang sebagai wilayah strategis untuk perkebunan. Oleh karena itu, karena pertimbangan kondisi alam dan iklimnya, maka ketika Sistem Tanam Paksa mulai diterapkan pada 1830, Salatiga dipilih sebagai pusat penanaman kopi. Bahkan, Pierre de La Brethoniere Hamar, kata Eddy, konon terkenal dengan julukan “Raja Kopi Salatiga”.

Kemajuan Infrastruktur

Selesai membahas kota militer dan kebun kopi, Eddy lantas membahas lanskap, inftastruktur, beserta teknologi yang berkembang di Salatiga pada masa pendudukan Belanda. Banyak obyek vital seperti sarana pendidikan, ekonomi, perhubungan, kesehatan, penerangan, telekomunikasi, hingga bentang alam yang didirikan dan dianggap penting oleh mereka. Misalnya, Sekolah Dasar Negeri 1 dan 2, sekolah ini dahulunya bernama Eerste Eurooeesche Lagere School. Ada juga Normaalschool yang kini menjadi SMA Negeri 3, Salatiga.

Sebelum Salatiga menjadi Gemeente (baca: kotamadya), Eddy juga mengatakan Salatiga sudah memiliki pasar yang pertama kali dibangun pada 1901 dan bernama Pasar Kalicacing (kini Pasar Raya I). Lama kemudian, berdiri pula pasar baru yang terletak beberapa puluh meter di sebelah utaranya. Pada masa itu, Salatiga juga sudah memiliki autostandplaats (baca: terminal bis) di Soloscheweg (yang kini menjadi Jalan Jend. Suridman).

Aspek lain yang turut menjadi perhatian adalah keasrian lingkungannya. Pemerintah Gemeente kala itu, melakukan penghijauan dengan menaman berbagai macam tumbuhan, mulai dari tumbuhan kecil seperti bunga-bunga yang ada di taman kota. Atau tanaman besar seperti pohon Kenari, Asam Jawa, dan Mahoni. Akibatnya, tidak dapat dipungkiri lagi jika sejak itu Salatiga menjadi kota yang sejuk dan rimbun.

Arsitektur

Hal yang tidak luput dari perhatian Eddy, sebelum menutup Galeria Salatiga, adalah peninggalan arsitekturnya. Begitu banyak yang ia ulas, dan semuanya tampak mengambarkan kemewahan Salatiga sebagai kota lama. Ada arsitektur dengan sentuhan tradisional dan modern, ada juga yang megah bak istana, dan ada pula yang kokoh karena didirikan sebagai benteng pertahanan.

Benteng Hock yang kini menjadi kantor polisi Satuan Lalu Lintas (Satlantas), adalah salah satu benteng pertahanan yang masih tersisa. Benteng ini dibangun pada abad 19, dan tetap menjadi kantor keamanan setelah selesainya Perang Diponegoro pada 1830. Ukuranya juga cukup besar, karena dibangun di atas lahan seluas 20.000 meter persegi, sementara bangunannya sendiri berukuran 1.000 meter persegi.

Bangunan lain yang masih kokoh berdiri sampai saat ini adalah Kantor Walikota, di Jalan Sukowati, Salatiga. Menariknya, bangunan itu adalah satu-satunya peninggalan dengan gaya arsitektur Neo-Klasik yang masih tersisa. Meski demikian, Eddy tidak begitu banyak mengulas bangunan tersebut di Galeria Salatiga. Barang tentu, ini adalah strateginya agar orang membaca buku lain tentang Salatiga yang ditulis olehnya. Bagi penulis, ini adalah siasat yang cukup cerdik dari Eddy Supangkat untuk memantik rasa penasaran pembaca yang haus pengetahuan soal Salatiga.•

SalatigaDeskripsi Buku:
Judul
:
Galeria Salatiga
Penulis:
Eddy Supangkat
Tahun:
2010
Tebal:
197 halaman
Penerbit:
Griya Media

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close