Cerita Pendek

Meminta Sebuah Mimpi

Melihat barang tentu kau pasti tahu, mempraktikan kau juga pasti bisa, atau mendengar belum tentu kau akan selalu ingat. Ibarat seperti pekerja pahat, menyatukan dua hal menjadi satu rajutan yang indah yang saling berpadu.

Putri Yuniarti

Rumah itu, terlalu kumuh untuk ditempati manusia. Hanya terlihat dari luarnya saja, bagai rumah tempo dulu. Hampir seperti Joglo Jawa, sedikit bercampur dengan infrastruktur kontemporer dengan delapan buah pilar penyangga. Seperti saka (tengah) empat buah, midangan dua buah, kolong dan kili berjumlah empat buah. Dodo besi satu buah, ander empat (penyangga sungunan), tiang penanggap delapan buah. Itu ialah gambaran sederhana rumah Jawa Kuno tahun 80an.

Kelas tentang sebuah rumah identik dengan tampilan luar yang mewah dan serba glamor. Tambahan dengan kaca yang mendominasi dari setiap sudut ruangan, seakan kayu sudah tak ada artinya bagi kantong-kantong tebal di sana. Kelas sebuah kayu, hanya sebagai rumah kuno yang seharusnya punah dari muka bumi ini, padahal jika mau dirunut hancurlah estetika semua gaya rumah gedongan masa kini itu, dengan keasrian dan alaminya rumah kayu.

Rumah Tu tak lebih mewah dari rumah gedongan di perkotaan. Hanya rumah dengan luas 8 x 9 M dengan pekarangan di samping dan belakang rumah, dengan berbagai jenis tanaman dan sayuran menambah eloknya kesederhanaan rumahnya. Bahkan, jika dari luar seperti rumah penuh semak belukar, sebab depan dan samping rumah terdapat tanaman pagar atau dalam istilah orang Jawa ialah dadah, suket, atau mie kuning yang mengitari.

Sudahlah, rumah hanyalah tempat singgah sementara. Yang lama dan abadi adalah ketika kematian itu datang. Rumah abadi? Biasa disebut rumah masa depan yang abadi. Ini adalah salah satu rumah yang paling ditakuti oleh banyak orang, termasuk Tu, Ibu Tu, Bapak atau adik atau kakak Tu sekalipun mungkin juga takut.

Tapi Tu hanyalah anak dari Ibu bumi. Ia sama di tempat terasing ini, tentu saja di bumi yang konon katanya indah. Ketika semua orang berlomba-lomba bisa melukis bumi dengan baik dalam sebuah lukisan, mural, ataupun ukiran, tapi hanya pahat yang dapat digambarkan oleh Tu untuk bumi. Ia mempersembahkan setiap goresan timbul dan rata dalam satu kemas kecantikan sebuah pahat.

Pahatan, goresan, dan kecermatan yang luar biasa yang disugguhkan olehnya setiap pagi hingga petang. Dengan kegigihan ia mulai memegang palu di tangan kanannya dengan pengancap di tangan sebelah kiri. Sederhana, hanya butuh beberapa pahat col, penatar berjumlah sepuluhan batang, pahat miring, pahat lurus (pengancap), atau pahat setengah lingkaran.

Mulai kayuhlah tangan mungil itu yang lembut dan mulus. Tampak seperti tak mungkin tangan kecil itu mampu memukul dengan nyaringnya sebuah palu yang tak ubahnya sebuah pena yang siap dihantarkan menuju kertas yang kosong.

“Tak tik tuk tak tik tuk,” merdu suara pahat-memahat.

“Dunia selalu bersamamu Tu, dengan musikmu dan alunan suara merdu pahatmu,” ia bersenandung ria.

***

Desa ini terlalu luas untuk di tempati hanya beberapa kepala rumah tangga saja. Hamparan sawah yang membentang, ditambah dengan rumput yang subur menutup semua permukaan tanah.

Jadi, ketika hidup di sini kau tak perlu ragu untuk bekerja apapun karena pekerjaanmu tak akan menggangu siapapun orang yang ada di sekitarmu. Termasuk manusia penuh fantasi si Nyiteng, janda satu anak yang punya hobi menggangu ketentraman manusia.

Seperti apapun baikmu tak akan lepas dari gunjingan Nyiteng dan juga omelan, dan bawelannya setiap hari. Mungkin hobi dan tuntutan hidupnya hanyalah itu. Tubuh sintal, dengan pinggul sedikit besar, ditambah kulit sawo matang. Menambah gairah orang yang melihatnya, tak ubahnya tukang jamu seksi seperti di film-film masa kini. Gambaran singkat seorang Nyiteng yang cantik jelita.

Apalagi saat Nyiteng mulai bersemangat menggoda Mas Joko yang dingin dan tenang itu, seolah janda kegatelan saja itu, Nyiteng. Janda kembang idaman para lelaki, namun tak ada yang mampu merayu dan mendapatkannya hingga sekarang.

***

“Tuu… Tuu… Tuu… ”

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu, tentu itu Iteng. Sementara di dalam terdengar suara-suara pahatan yang seolah berpadu dengan suasana sunyinya alam.

“Aku ada berita bagus untukmu,” jelas Nyiteng berteriak semangat.

“Soal festival yang diadakan Pak Nunu kan,” jawab Tu dengan nada sedikit keras, semata hanya agar Nyiteng mendengar jawabanya.

“Bukakan ini pintu, kau lama-lama semacam orang-orang yang tak punya sopan santun!” kata Nyiteng.

“Hmmm…”

Tu menaruh pahatannya yang setengah jadi itu, dan berjalan mendekati pintu. “Jangan suka ngerecoki hidup orang lain, itu tidak baik,” kata Tu sambil membuka pintu sedikit, dan melihatkan kepalanya.

“Itu baik untuk kesehatan perasaanku,” Sahut Nyiteng dengan entengnya.

Sambil berlajan membuka pintu kemudian masuk mengambil gelas di rak, sembari menuangkan air ke dalamnya dan sesekali memperhatikan Nyiteng yang mulai melihat koleksi pahatan Tu di atas rak.

“Kadang, dalam hidup ini kau harus sesekali belajar kata-kata baik itu semacam apa,” kata Tu.

EmmmEmmm… kau terlalu meledeku saja. Aku kadang tak mengerti megapa kau sering di rumah? Tak merasa kesepian. Kau bekerja setiap hari, keluargamu beberapa sudah meninggal, dan ada yang tinggalnya jauh dari sini. Tapi kau tetap saja di rumah, tak ada hal istimewa, atau hura-hura. Aku saja yang punya anak satu di rumah tapi tetap saja merasa kesepian. Entah kadang butuh hiburan, atau apapun itu yang membuatku sedikit lebih baik,” jelas Nyiteng, yang seolah sedang berada di rumah sendiri, dan mulai merebahkan tubuhnya di ranjang sederhana yang tak jauh dari ruang tamu. Seakan jika ingin ke ranjang hanya perlu sedikit menengok ke arah dalam sudut rumah itu.

“Ya, memang hidup selelucon itu,” sahut Tu.

“Kau memang tidak menarik. Aku pulang saja, terlalu lelah untuk menjelakan hal-hal menyenangkan dalam hidup ini pada orang sepertimu,” kata Nyiteng.

Tu lantas membatin, cukup aneh juga jika orang yang terlampau sering kesepian, bukan hanya soal perilaku, kadang orientasinya pun terlihat berbeda dengan perempuan pada umumnya, lagi-lagi ini menurut Tu. Ia lantas melanjutkan memahatnya, menyelesaikan satu demi satu bongkahan kayu yang sudah dipersiapkannya dari kemarin. Untuk beberapa waktu yang akan datang ia memang sudah banyak pesanan.

***

Di antara kesepian menurut orang lain itu, Tu berpikir sejenak. Hidupnya tak semalang itu. Orang lain hanya tak pernah tahu kalau ia megidap Rapid Eye Movement (REM), dimana kondisi otak tidak bisa mengirim sinyal dalam tidurnya. Tidak hanya merasakan mimpi yang sering tapi juga dibarengi berteriak, memukul, menendang dan bahkan lari-lari. Tetapi setelah bangun umumnya mereka ingat mimpinya, cuma tidak ingat dengan aksi brutalnya.

Penyakit ini terkesan ringan, tapi membuatnya seolah menjadi dua kepribadian yang berbeda. Dunia kenyataan, dengan dunia dalam mimpi-mimpinya. Setiap hari ia harus bergumul dengan mimpi, dan dunia nyata yang jelas-jelas tak gampang untuk diajak kompromi.

“Penyakit itu hiburan, aku tak perlu repot untuk berinteraksi karena dengan ini saja, kerjaanku seperti tak ada habisnya dalam sehari-hari,” celoteh Tu.

Jika mau lebih repot lagi, pasti Ia juga akan kerepotan mencari tahu arti nama dari Ibunya. Tapi mungkin, ia tidak terlalu tertarik untuk semua itu dan lebih memilih untuk memikirkan hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Seperti setiap pagi harus menyiram sayuran di samping rumahnya. Yang sengaja ia tumpuk puluhan pot dari tanah untuk menanam sayuran segar seperti bayam, terung, tomat, sawi, labu, dan lain-lain. Itu semua semata hanya untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Bahkan, karna lebih dari cukup, sering kali ia bagikan ke tetangga samping rumahnya.

***

Brkk…

Terdengar dobrakan dari luar rumah perempuan cantik pemahat kayu itu. Hampir lepas engsel yang menempel. Beberapa orang bertubuh besar itu masuk dengan paksa dan membuang barang-barang yang berada di sampingnya.

“Ada apa ini… ada apa?” tampak gemetar Tu menjawab.

“Tidak usah banyak omong, masuk saja ke dalam mobil,”

Tampak beberapa orang besar segera bergerombol, sedang bernegosiasi. Sementara Tu duduk gemetar di bawah meja di sudut ruang makan.

“Kau harus pergi dari sini, rumah ini sudah menjadi rumah pemerintah. Kau tidak ada hak lagi atas rumah ini,”

Salah satu laki-laki bertubuh kekar itu mengeluarkan suara.

“Apa-apaan ini, ada apa dengan rumahku, dan bagaimana kalian bisa bilang ini rumah pemerintah?”

Tampak salah satu dari mereka melempar kertas ke arah Tu. Untuk beberapa kesempatan yang tiba-tiba terbuang dan tak terelakan lagi. Ia terlampau sakit hati, tanpa melihat surat itu ia mencoba bangkit, membereskan beberapa pakaian, dan perlengkapan lainnya yang sekiranya bisa dibawa.

Tu melirik lagi rumahnya untuk terakhir kalinya, berlinang air mata membasahi matanya. Berkecamuk ribuan pertanyaan yang ada di kepalanya, namun ia mencoba melepaskan rasa itu begitu saja.

Nyiteng tampak tak bisa berkata apapun. Ia memeluk Tu dengan kencangnya, dan kemudian melenggang kacau. Tu tak kuasa untuk memberhentikan atau sekedar berterimakasih atas pelukan perpisahan itu.

***

Dua bulan kemudian.

Kehidupan Tu sudah kembali normal. Ia berkebun di ladang milik Ipo salah satu saudagar kaya di desa. Mulai mengumpulkan beberapa uang sisa penjualan sayuran untuk kemudian dibelikan alat-alat pahatan. Ia bertekat, tak akan berhenti untuk memahat sampai kapan pun, karena itulah salah satu hal yang dapat menyambung ingatanya dengan orang tuanya.

Tu sekarang tinggal di rumah sederhana bekas gudang penyimpanan hasil panen milik Ipo. Karena masih berlantai tanah, maka setiap sorenya Tu harus mengambil air untuk menyiram setiap sudut ruangannya.

Sore itu, tempat pemompa air sedang sepi.

“Kau tampak bersemangat,”

“Tentu,” Tu mendongak menyahut suara itu.

“Oh… Nenek ingin mengambil air juga?” tambahnya.

“Tidak, di rumahku tidak ada sumur. Namun, aku tak pernah kehausan untuk minum,”

“Baik, Nek. Lantas apa yang Nenek lakuakan di sini? Tempat ini cukup jauh dari pemukiman?”

“Dalam setiap langkah, Nenek hanya berbekal percaya,”

Tu membatin, sambil terus fokus dengan pompa air di depannya.

“Nek, saya sudah selesai. Apa maksud Nenek dengan kata-kata dalam setiap langkah nenek hanya berbekal percaya? Loh, kemana Nenek itu tadi?” Tu melihat sekeliling, kanan dan kirinya.

“Tak ada pohon di sekitar sini. Tapi cepat sekali hilangnya. Ah sudah, mungkin ia sedang terburu-buru,”

Tak berselang lama kemudian, Tu sampai di rumah. Ia lalu menyirami rumah dan membersihkan diri.

“Waktu memang berjalan cepat, tahu-tahu sudah malam saja,”

Kesehariannya ia habiskan untuk menanam sayuran. Ia juga tak mengira bahwa ternyata sudah hampir dua bulan ini sibuk dengan rutinitas yang baru. Ia kemudian terlelap dan seperti biasa, bermimpi. Setelah hampir dua bulan belakangan ini, Tu sembuh dari penyakitnya.

“Malam ini tampak indah,” kata Tu sambil melihat keluar jendela dan memandangi bintang-bintang.

Setelah itu, Tu kemudian ingin berbaring lagi ke ranjang. Ia melihat sosok dirinya di ranjang tidur dengan pulasnya, dengan bantal di samping-sampingnya. Tak ada raut muka sedih ataupun kecewa. Tak ada rasa benci dan mengeluh, yang terlihat adalah muka damai dengan sedikit senyum di bibirnya.

“Aku ingin terus bermimpi, untuk kemudian kupahatkan dalam sebilah bambu setiap harinya,”

Tu kemudian terbangun dan tersenyum, “ternyata mimpi itu sangat indah”•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close