Seni dan Budaya

Menengok Kembali Asal Usul Perkembangan Manusia dan Budayanya

Kemampuan manusia dalam mengembangkan teknologi sebagai sarana untuk mempermudah aktivitas sehari-hari merupakan mata rantai warisan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Aleixo Alberto Cesar

Berabad-abad lalu, nenek monyang manusia telah berproses dan mengalami perubahan. Bukan hanya sebatas fisik, namun juga pada keahlian dalam beradaptasi untuk bertahan hidup yang kini telah membuat manusia dapat menciptakan segala macam benda berdaya guna. Dalam rangka menyelami perubahan manusia seturut dengan perkembangan budayanya, House of Sampoerna (HoS) Surabaya yang berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, mengadakan pameran bertajuk ‘Evolusi Kita’. Pameran tersebut dibuka sejak 24 Oktober hingga 29 November 2018, di House of Sampoerna, Surabaya.

Sejak berdiri pada 9 Oktober 2003 lalu, HoS sebagai salah satu bentuk tanggung jawab dan kepedulian PT HM Sampoerna Tbk. kepada masyarakat, terus berkomitmen untuk mendukung perkembangan seni, budaya, sejarah dan pariwisata melalui berbagai agenda kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai edukatif dan sosial.

Dalam ‘Evolusi Kita’ setidaknya terdapat 14 koleksi fosil yang dipamerkan untuk memberikan wawasan mengenai perubahan fisik manusia purba. Seperti Homo Erectus Arkaik, yang memiliki ciri fisik kekar dangan gigi geligi yang kokoh, dan volume otak mencapai  850cc. Ia juga telah berevolusi menjadi Homo Erectus Tipik, dengan volume otak mencapai 1.000 cc, dimana tengkoraknya menjadi lebih ramping, gigi geligi kecil, dengan atap tengkorak yang bundar.

Fosil
Fosil hewan purba dan alat batu yang ditemukan di situs purbakala Sangiran (Foto: Galih Agus Saputra).

Ada pula Homo Erectus, dimana mereka terakhir hidup di Jawa pada 100.000 tahun lalu. Ciri fisiknya terdiri dari tengkorak yang tinggi, bundar, dan memiliki kapasaitas otak 1.100 cc. Dalam pameran itu terdapat pula temuan fosil Homo Erectus yang terkenal di dunia, karena ditemukan dalam keadaan yang relatif lengkap.

Selain fosil, pameran itu juga menyuguhkan koleksi artefak yang menerangkan perkembangan budaya manusia purba seperti Kapak Perimbas, yang terbuat sejak zaman Paleolithikum. Lalu, bola batu yang tercipta dari batuan kalsedon yang merupakan teknologi yang dibuat Homo Erectus. Artefak dari Zaman Paleolothikum berupa alat penusuk dari tulang belulang binatang besar, serta kapak persegi yang merupakan hasil dari kebudayaan dari zaman Mezolithikum yang digunakan oleh Homo Sapiens juga turut dipamerkan pada kesempatan tersebut.

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, merupakan unit pelaksaan teknis Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas melaksanakan penelitian, pelestarian dan pemanfaatan Situs Sangiran. Kekayan Situs Sangiran telah diakui oleh dunia karena hampir setengah dari jumlah populasi fosil Homo Erectus di dunia, berasal dari Situs Sangiran. Pada 1996, UNESCO selanjutnya  mengakui situs Sangiran sebagai warisan dunia, dan menyebutnya sebagai ‘The Sangiran Early Man Site’.

Redaktur : Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close