Ekonomi Kreatif

Mengenal Pengrajin Kulit, Think Leather Good

Think Leather Good menjaga kualitas produk kerajinan berbahan dasar kulit dengan cara menggarap pesanan satu-persatu. Detail dan kerapian adalah hal yang paling diperhatikan, demi kepuasan pelanggan.   

Aleixo Alberto Cesar

Dimulai sejak 2016, Dani Septiani bersama suami, Bagus Jatmiko mendirikan Think Leather Good, produsen barang kerajinan dengan bahan dasar kulit di Salatiga. Dani mengungkapkan bahwa, awalnya ia mengenal kerajinan kulit saat bekerja di salah satu produsen barang kerajinan yang sama, di Yogyakarta. Siang itu (20/9), Aslo berkunjung ke kediaman mereka berdua untuk melihat kerajinan kulit hasil karyanya.

“Produk kami berupa tas, dompet, ID Card (baca: tanda pengenal –red), gelang, dan gantungan kunci,” kata Dani membuka percakapannya.

Produksi Think Leather Good sendiri tidak pasti setiap bulannya. Kadang dalam jumlah besar, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melayani pesan satuan (made by order). “Produk Think dikerjakan secara manual. Kami tidak menggunakan alat-alat canggih untuk penggarapan kulit. Kami memakai alat yang ditemui sehari-hari saja, membuat ukirannya juga dikerjakan satu-satu,” imbuhnya.

Durasi penggarapan produk Think Leather Good biasa memakan waktu kurang lebih selama 10 hari. Mulai dari desain, pewarnaan, hingga sentuhan akhir (finishing). Bahan yang dipilih berasal dari kulit sapi, dan berasal dari beberapa kota seperti Magetan, Yogyakarta, dan Malang.

“Bahan baku tidaklah murah. Untuk itu, tidak memungkinkan bagi kami menjual produk dengan harga murah,” terang Jatmiko.

Kerajinan
Think Leather Good merupakan produsen barang kerajinan berbahan dasar kulit di Salatiga. Produknya berupa tas, dompet, tanda pengenal, gelang, gantungan kunci, dan lain sebagainya (Foto: Alexio Alberto Cesar).

Menjaga Kualitas 

Selama ini, Dani menggunakan media sosial dan relasi di Yogyakarta untuk mempromosikan produknya. “Media sosial sebenarnya malah kurang begitu baik, karena saya sendiri kurang mengatur dengan benar. Jadi saya mendapatkan pesanan lebih banyak dari kenalan saat masih kerja di Yogyakarta. Kadang, ada juga beberapa brand (baca: merek –red) yang produknya kami garap,” jelasnya.

Distribusi produk Think Leather Good sudah mencakup beberapa wilayah di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, Batam, dan Kalimantan. Selain itu, mereka juga pernah menggarap produk untuk langganan di Jepang. Dani juga mengatakan bahwa proses produksi tidak terlalu mudah. Proses tersulit ialah saat menghaluskan bagian dalam kulit. “Untuk menidurkan bulu-bulunya. Itu hal yang cukup memakan waktu,” katanya.

Kendala yang Think Leather Good hadapi, selain bahan baku yang sulit didapat di Salatiga adalah minimnya SDM yang dapat membantu proses produksi. “Kalau di Yogyakarta ada sekolah STM untuk kulit. Kami bisa dapat tenaga lebih banyak di sana. Kalau di Salatiga masih belum ada,” imbuh Dani.

Seperti pengrajin pada umumnya, Dani juga menginginkan agar Think Leather Good tetap eksis dan dapat terus berproduksi. “Kami menjaga hubungan dengan para pelanggan secara konsisten, sambli tetap berusaha untuk menjaga dan meningkatkan kualitas,” kata Dani menutup cerita, diikuti dengan senyum ramahnya.•

Redaktur : Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close